Ratna Sarumpaet Didakwa Bikin Keonaran Kabar Bohong, Hakim: Nggak Ada Urusan Politik!

In Eksposisi
  • Foto: Antara Foto/Reno Esnir

SinarHarapan.id – Kasus penyebaran berita bohong alias hoaks oleh Ratna Sarumpaet memasuki babak baru, yaitu sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019).

Ratna didakwa bikin onar lewat hoax penganiayaan dirinya. Cerita kebohongan Ratna Sarumpaet dimulai seusai operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng, Jakpus.

Dalam surat dakwaan, diuraikan soal tindakan medis operasi perbaikan muka (facelift) atau pengencangan kulit muka Ratna Sarumpaet. Ratna rawat inap di RS Bina Estetika dilakukan pada 21-24 September 2018, seperti dituliskan oleh detikcom.

“Bahwa selama menjalani rawat inap tersebut, terdakwa beberapa kali mengambil foto wajahnya dalam kondisi lebam dan bengkak akibat tindakan medis,” kata jaksa membacakan surat dakwaan Ratna Sarumpaet di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Kamis (28/2/2019).

Dalam perjalanan pulang ke rumah pada Senin, 24 September 2018, Ratna mengirim beberapa foto muka lebam dan bengkak melalui WhatsApp ke asistennya, Ahmad Rubangi.

“Ditanggapi saksi Ahmad Rubangi dengan membalas pesan: Ya Allah..kok sampai begitu.. dan dijawab terdakwa ‘Dipukulin 2 laki2’,” kata jaksa.

Foto-foto wajah lebam dan bengkak lantas dikirimkan Ratna Sarumpet ke Rocky Gerung lewat WhatsApp pada 25 September 2018. Ratna menyebut kejadian pemukulan di area bandara Bandung pada 21 September, pukul 18.50 WIB.

“Not for public,” kata Ratna dalam pesan WhatsApp ke Rocky Gerung.

Pada Rabu, 26 September, Ratna Sarumpaet kembali mengirim WhatsApp ke Rocky Gerung. “Sakit seputar rongga mata, retak di pelipis dan rahang, seperti kitab terkoyak di tangan kanan, menganga…,” kata jaksa, membacakan isi pesan Ratna kepada Rocky Gerung.

Selain itu, Ratna Sarumpaet meminta bantuan Said Iqbal supaya dipertemukan dengan Prabowo Subianto. Ratna, menurut jaksa, menyampaikan keinginan yang sama, yakni bertemu dengan Prabowo, saat berbicara dengan Fadli Zon.

Ratna akhirnya bertemu dengan Prabowo Subianto pada 2 Oktober 2018 di Hambalang. Ikut hadir Amien Rais, Said Iqbal, Fadli Zon, Sugiono, dan Nanik Sudaryati. Menurut jaksa, Nanik Sudaryati menyampaikan kronologi penganiayaan Ratna kepada Prabowo dalam pertemuan.

“Atas cerita saksi Nanik Sudaryati tersebut, terdakwa diam tidak memberikan tanggapan,” kata jaksa.

Seusai pertemuan, Prabowo Subianto pada pukul 20.00 WIB, Selasa, 2 Oktober 2018, menggelar jumpa pers di kantor pemenangan Prabowo-Sandiaga di Jl Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jaksel. Dalam jumpa pers itu, hadir Amien Rais, Nanik Sudaryati, Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Djoko Santoso.

“Dalam konferensi pers tersebut, disampaikan oleh saudara Prabowo Subianto di antaranya meminta pemerintah mengusut tuntas penganiayaan yang dialami terdakwa Ratna Sarumpaet,” kata jaksa.

Perbuatan Ratna Sarumpaet menceritakan tentang penganiayaan dan mengirimkan foto-foto wajah dalam keadaan lebam dan bengkak disebut jaksa merupakan rangkaian kebohongan Ratna untuk mendapat perhatian dari masyarakat, termasuk tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Padahal wajah lebam dan bengkak merupakan akibat tindakan medis operasi perbaikan muka.

“Bahwa akibat rangkaian cerita bohong terdakwa yang seolah-olah benar telah terjadi penganiayaan disertai dengan mengirim foto-foto wajah terdakwa dalam kondisi lebam dan bengkak juga mengakibatkan kegaduhan dan atau keonaran di kalangan masyarakat, baik di media sosial dan juga terjadinya unjuk rasa,” kata jaksa.

Atas perbuatannya, Ratna Sarumpaet didakwa dengan Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Dalam persidangan, Ratna berpendapat proses penyidikan kasusnya selama ini memiliki muatan politis.  Hal itu dia ungkapkan secara langsung di hadapan Majelis Hakim usai pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Saya salah, oke, tapi yang terjadi pada peristiwa penyidikan (saya) ada ketegangan yang menyadarkan saya bahwa ini politik,” kata Ratna.  Sebelum menyampaikan hal tersebut, Ratna juga mengakui bahwa dia memang menyebarkan berita bohong tentang dirinya yang dipukul hingga lebam di bagian wajah.

Namun, Ketua Majelis Hakim di sidang Ratna Sarumpaet, Joni, menegaskan proses penyidikan kasus Ratna sama sekali tidak terkait dengan aktivitas politik apapun.

“Yang diadili di sini adalah perbuatan. Kita tidak terikat, tidak ikut-ikutan, dan pengadilan tidak ikut-ikutan dengan masalah politik,” kata Joni di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019), demikian laporan Kompas.com.

Sidang kasus Ratna akan dilanjutkan pekan depan, dengan agenda pembacaan eksepsi atau pembelaan dari pihak terdakwa. Majelis hakim menyarankan agar Ratna dapat menyampaikan pandangannya tentang proses penyidikan yang dinilai bersifat politis dan hal lainnya dalam sidang yang digelar Rabu (6/3/2019) pekan depan.

You may also read!

Permenhub Ojol: Siapkan Shelter, Tarif Rp 3.000 Per Km Dipertimbangkan

SinarHarapan.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna

Read More...

KAI Siap Datangkan Kereta Hydrogen Pertama di Dunia ke Indonesia

SinarHarapan.id – Indonesia menjadi negara Asia pertama yang secara serius menunjukkan ketertarikannya pada kereta hydrogen Coradia iLint. Hal ini diperlihatkan

Read More...

Pendidikan Karakter di Sekolah Jadi Prioritas, Guru Bahagia Murid Bahagia

SinarHarapan.id - Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) perlu terus ditingkatkan di seluruh sendi kehidupan, termasuk di lingkungan sekolah, mengingat tantangan

Read More...

Mobile Sliding Menu