FAO: 600 Juta Orang Sakit Akibat Makanan Tiap Tahun, 3 Juta Diantaranya Fatal

In Berita Kini

SinarHarapan.id –  Makanan yang tidak aman merupakan ancaman bagi kesehatan manusia dan perekonomian masyarakat. Sekitar 600 juta kasus penyakit yang disebabkan oleh makanan terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut tiga juta di antaranya meninggal dunia akibat makanan dan air yang tidak sehat, serta berbagai penyakit yang ditularkan lewat air.

Akses kepada makanan yang aman adalah kebutuhan dasar manusia. Makanan yang aman berkontribusi pada kemakmuran ekonomi, meningkatkan pertanian, akses pasar dan pariwisata.

Ketahanan pangan tercipta saat semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi untuk makanan yang cukup, aman dan bergizi dalam memenuhi kebutuhan makanan mereka untuk menjalankan kehidupan yang aktif dan sehat.

Karena itulah pada hari ini, 7 Juni, ditetapkan sebagai Hari Keselamatan Pangan Sedunia (World Food Safety Day). Tahun ini merupakan peringatan yang pertama kalinya dengan mengambil tema, “Keselamatan Pangan adalah Tanggung Jawab Kita Semua.”

“FAO berkomitmen untuk dunia tanpa kelaparan. Memastikan bahwa makanan itu aman sangat penting dalam agenda kami. Industri memiliki peran penting dalam memastikan bahwa makanan tetap aman di setiap tahap makanan mulai dari produksi hingga ke konsumen,“ kata Stephen Rudgard, Perwakilan FAO di Indonesia dalam pernyataannya dalam rangka Hari Keamanan Pangan Dunia, Jumat (7/6).

Adapun Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan, menggemakan pentingnya menjadikan makanan yang aman sebagai prioritas. “Akses pada makanan yang aman dan bergizi cukup adalah kunci untuk kehidupan yang lebih sehat dan lebih produktif. Kita dapat mencapai ini dengan memastikan makanan yang berkualitas dan aman secara konsisten tersedia untuk semua orang,” kata Paranietharan.

Majelis Umum PBB mengadopsi ketetapan tersebut pada Desember 2018. Keputusan tersebut antara lain menyatakan bahwa PBB menunjuk dua badan di bawahnya yaitu Badan Pangan dan Pertanian (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memimpin dan membantu usaha dalam mempromosikan keselamatan pangan secara global. Sekaligus menetapkan 7 Juni sebagai “Hari Keselamatan Pangan Dunia”.

Keamanan pangan adalah tidak adanya zat pada makanan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Bahaya yang ditularkan melalui makanan dapat bersifat mikrobiologis, kimia, atau fisik dan sering tidak terlihat oleh mata, seperti bakteri, virus, atau residu pestisida.

Indonesia adalah negara berpenghasilan menengah, dengan jumlah penduduk terus meningkat sampai 260 juta. Konsumen Indonesia mewakili pasar besar untuk industri makanan besar dan cepat dalam bentuk bisnis makanan “siap saji”, restoran, supermarket, katering, dan pedagang kaki lima yang cukup besar.

Para pemain dalam rantai makanan Indonesia berkisar dari produsen pertanian domestik dan importir makanan melalui distributor dari berbagai titik penjualan dan akhirnya ke konsumen. Berbagai makanan yang tersedia dan dapat diakses oleh konsumen, melalui sistem yang cukup kompleks ini berubah dengan cepat. Hal ini merupakan tantangan besar bagi pembuat kebijakan untuk memastikan keamanan pangan di setiap langkah rantai makanan.

Sayangnya, praktik sanitasi dan kebersihan yang buruk (termasuk makanan yang tidak aman) adalah penyebab utama malnutrisi di Indonesia. Konsumsi makanan yang tidak aman menyebabkan penyakit bawaan makanan, yang menyebabkan kekurangan gizi, karena kehilangan gizi dan kapasitas penyerapan yang buruk. Terutama bayi dan anak kecil yang rentan terhadap penyakit bawaan makanan.

Pada 2017, terdapat 163 wabah penyakit bawaan makanan di seluruh Indonesia menurut Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) dari Kementerian Kesehatan. Data ini menunjukkan bahwa wabah keracunan makanan adalah masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar di Indonesia.

Di Indonesia, peran dan tanggung jawab dalam keamanan pangan dibagi di antara berbagai kementerian dan lembaga, apakah itu makanan segar, makanan olahan, atau makanan siap saji.

Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan bertanggung jawab untuk mengatur makanan segar. BPOM terutama mengendalikan makanan olahan, Kementerian Kesehatan dan otoritas kesehatan setempat menjaga makanan siap saji, dan kemudian Kementerian Perdagangan, Industri, dan badan pemerintahan lain juga memiliki peran dalam sistem pangan.

BPOM dan Kementerian Kesehatan, didukung oleh Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah membangun kapasitas otoritas yang kompeten dalam keamanan pangan untuk menilai sendiri sistem kontrol makanan mereka. Keamanan pangan adalah kunci untuk mencapai beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

You may also read!

Pasar Malam Indonesia di Malmo-Swedia

SinarHarapan.id -  Beragam budaya Indonesia digelar dalam Pasar Malam Malmö 2019 Indonesisk Kvällsmarknad  di Limhamn Folkets Hus, Malmö, Swedia,

Read More...

Film “Boccia” Besutan Sutradara WNI Diputar di Thailand

SinarHarapan.id -  Lebih dari 200 penonton  di SF Cinema Bangkok  tersentuh menyaksikan film “Boccia”, sebuah film dokumenter non komersial tentang

Read More...

ILUNI UI Peduli Bencana Kabut Asap

SinarHarapan.id - Kadri Mohamad Komunitas Biduan (kiri), Endang Mariani Koordinator ILUNI UI Peduli (dua kiri), Andre Rahadian Ketua Umum ILUNI

Read More...

Mobile Sliding Menu