Semarak Nasionalisme dari Jenewa di Hari Kemerdekaan Indonesia

In Internasional

SinarHarapan.id –  Lebih dari 300 orang Warga Negara Indonesia (WNI) turut berpartisipasi dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI Jenewa), pada Sabtu (17/8).

Mayoritas masyarakat Indonesia tersebut merupakan WNI yang bekerja pada berbagai organisasi internasional, kalangan profesional, pelajar dan pelancong yang tengah berada di Jenewa.

“Partisipasi masyarakat Indonesia pada Upacara 17 Agustus kali ini terbilang besar untuk kota kecil di Eropa seperti Jenewa. Hal ini merefleksikan begitu besarnya antusiasme masyarakat Indonesia yang berdomisili, atau tengah berada, di Jenewa dan sekitarnya untuk mengekspresikan semangat nasionalismenya,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB, Organisasi Perdagangan Dunia dan Organisasi Internasional lainnya di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib.

Lebih lanjut, Duta Besar Hasan Kleib menyampaikan bahwa saat ini cukup banyak WNI yang bekerja pada berbagai organisasi internasional di Jenewa; seperti di Kantor PBB, WTO, IOM, UNHCR, WHO, WIPO dan lain sebagainya.

Trend ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia Indonesia dapat bersaing di dunia internasional, sesuai dengan tema Peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia, “SDM Unggul Indonesia Maju”. Keterlibatan WNI di berbagai organisasi internasional ini akan terus didorong dan ditingkatkan.

Meskipun telah dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya, Upacara 17 Agustus senantiasa memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Indonesia di Jenewa dan sekitarnya.

Selain mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan, serta terus memupuk rasa nasionalisme, Upacara 17 Agustus juga dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi di antara masyarakat Indonesia di luar negeri.

Usai pelaksanaan upacara pengibaran bendera, kegiatan dilanjutkan dengan acara “Pengepungan Tumpeng” dan ramah tamah. Para peserta berkesempatan untuk bercengkrama sembari menikmati nasi kuning dan ragam kuliner nusantara lainnya.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh PTRI Jenewa untuk mengembalikan makna dari tradisi tumpeng.

“Falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir. Ini mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali lagi kepada Tuhan. Selama ini, masyarakat Indonesia terbiasa dengan kebiasaan memotong tumpeng dari puncaknya. Padahal, kebiasaan ini seakan memotong hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Jadi tumpeng itu dikeruk, bukan dipotong.” kata Dubes RI seraya mengutip kampanye yang digadang oleh Indonesian Gastronomy Association (IGA).

Rangkaian peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Indonesia di Jenewa akan diikuti dengan penyelenggaraan Pesta Rakyat yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2019, dan ditutup Resepsi Diplomatik bagi perwakilan negara-negara sahabat yang berkedudukan di Jenewa.

(Sumber: PTRI Jenewa)

You may also read!

Pasar Malam Indonesia di Malmo-Swedia

SinarHarapan.id -  Beragam budaya Indonesia digelar dalam Pasar Malam Malmö 2019 Indonesisk Kvällsmarknad  di Limhamn Folkets Hus, Malmö, Swedia,

Read More...

Film “Boccia” Besutan Sutradara WNI Diputar di Thailand

SinarHarapan.id -  Lebih dari 200 penonton  di SF Cinema Bangkok  tersentuh menyaksikan film “Boccia”, sebuah film dokumenter non komersial tentang

Read More...

ILUNI UI Peduli Bencana Kabut Asap

SinarHarapan.id - Kadri Mohamad Komunitas Biduan (kiri), Endang Mariani Koordinator ILUNI UI Peduli (dua kiri), Andre Rahadian Ketua Umum ILUNI

Read More...

Mobile Sliding Menu