Selamat Jalan Aristides Katoppo, Pejuang Kebebasan Pers

In Eksposisi

SinarHarapan.id – Tokoh pers nasional Aristides Katoppo yang telah wafat pada Minggu siang dikremasi di Oasis Lestari, Tangerang pada Selasa (1/10/2019) pada pukul 13.00 WIB.

Aristides Katoppo adalah tokoh pers nasional yang membawa Harian Sinar Harapan menjadi simbol perlawanan terhadap belenggu kekuasaan Orde Baru. Pembreidelan berulang-ulang yang dialami Sinar Harapan dijalani oleh Aristides dengan tabah. Sampai akhirnya, Sinar Harapan terbit lagi sebagai Koran cetak edisi sore pada 2001.

Salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) ini meninggal di Rumah Sakit Abdi Waluyo, pada Minggu siang. Kabar duka tersebut disampaikan aktivis Fadjroel Rachman dalam akun resmi Twitternya @fadjroeL.

“Telah berpeluang ke rumah Bapa di surga wartawan senior Sinar Harapan Aristides Katoppo pada Minggu (29/9) pukul 12.05 WIB,” kata Fadjroel dalam cuitannya, Minggu siang.

Aristides Katoppo sempat disemayamkan di Rumah Jenazah RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Aristides meninggal di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng dari Minggu, 29 September 2019.

Putra sulung Aristides, Judistira Katoppo, mengatakan bahwa ayahnya mengeluhkan sakit pada Sabtu malam, 28 September 2019. Ayahnya lalu dilarikan ke RS Mayapada kemudian dibawa ke RS Abdi Waluyo.

Menurut Jura, Aristides sudah lama mengalami sakit jantung tapi selalu berpembawaan energik dan bersemangat. Bahkan, seminggu sebelum wafat, Aristides Katoppo mengikuti kegiatan napak tilas di Gunung Semeru, Jawa Timur, mengenang 50 tahun meninggalnya Soe Hok Gie, sahabatnya di Mapala Universitas Indonesia.

Dalam acara itu Aristides hanya sampai di Desa Ranupani, pos pendaftaran pengunjung Gunung Semeru.

Gie meninggal di Gunung Semeru, Jawa Timur, 16 Desember 1969. Dia juga salah satu tokoh Angkatan ’66 menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno lalu berganti ke Soeharto atau Orde Baru.

Sebelum meninggal, kata Jura, Aristides Katoppo berwasiat ingin jika wafat jasadnya dikremasi lalu abunya ditabur di gunung.

“Bokap (Bapak) tidak bilang di mana gunungnya. Tapi saya kepikiran abunya ditabur di Gunung Gede (Jawa Barat) karena lebih dekat dan gampang dijangkau. Yang penting beliau kembali menyatu dengan alam,” kata Jura kepada Tempo.

Karangan bunga ucapan duka untuk wafatnya Aristides Katoppo dikirimkan oleh Presiden Joko Widodo, keluarga besar Presiden ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie, keluarga besar Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid, serta Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Berdasarkan laporan CNNIndonesia, Tides, sapaan akrab mengawali karir di dunia jurnalistik sekitar akhir 1957. Saat itu ia bergabung dengan Pers Biro Indonesia. Pada 1961, Tides bergabung dengan Sinar Harapan, salah satu surat kabar yang cukup berpengaruh.

Sinar Harapan menjadi surat kabar yang cukup kontroversial saat itu karena sempat beberapa kali dibredel. Pada 2 Oktober 1965, pemerintahan Presiden Soeharto membredel koran tersebut supaya peristiwa Gerakan 30 September atau G 30 S-PKI tidak terekspos secara bebas oleh media. Namun beberapa hari setelahnya, koran itu diizinkan terbit kembali.

Pada 1968, Tides diangkat sebagai redaktur pelaksana Sinar Harapan sampai harian itu kembali dibredel pada 1972 akibat memberitakan anggaran belanja negara yang belum disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Tides sempat meninggalkan Indonesia selama lima tahun tak lama setelah itu. Ia menghabiskan waktu selama lima tahunnya berguru ke Amerika Serikat untuk belajar di Stanford University.

Ia juga pernah mengenyam pendidikan di Center for International Affairs, Harvard University. Ketika kembali ke Indonesia, Tides mengajar jurnalistik di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi Sinar Harapan sampai ditutup tahun 1986.

Tides kemudian kembali mendirikan Sinar Harapan lagi bersama sejumlah rekannya pada 2001. Sayangnya, koran tersebut juga tak berusia panjang. Setelah 16 tahun terbit kembali, Sinar Harapan terpaksa tutup usia pada 1 Januari 2016 karena kehilangan investor dan pengiklan.

“Saya termasuk yang menyayangkan dan sedih karena tidak lagi terbit sebagai koran sore yang dicetak,” kata Tides kepada CNN Indonesia pada 29 Desember 2015 lalu.

Selama berkiprah sebagai wartawan, Tides mampu menghasilkan sejumlah karya jurnalistik besar, salah satunya liputan eksklusifnya yang terbit di New York Times sekitar 1964 cukup membuat geger penguasa dan dunia internasional saat itu.

Tides mendapat isi surat khusus yang dikirim Presiden Amerika Serikat John F Kennedy untuk Presiden Sukarno. Surat itu dikirim langsung Kennedy melalui utusannya, Jaksa Agung AS Robert ‘Bob’ F Kennedy, yang berkunjung ke Jakarta.

Pesan yang disampaikan lewat surat tersebut berisikan tawaran AS untuk memberi bantuan demi menengahi perundingan pengalihan kekuasaan Irian Barat antara Indonesia dan Belanda. Dalam surat itu, Presiden Kennedy meminta Indonesia tidak menggunakan kekerasan militer dan tidak menggunakan senjata dari Uni Soviet.

Tides menjadi satu-satunya wartawan yang mendapat isi surat Kennedy tersebut. Wartawan New York Times yang ikut rombongan Kennedy pun tidak mengetahui isi surat itu

Laporan Tides tersebut pun menjadi menjadi berita utama di Sinar Harapan dan The New York Times.

 

Pak Tides…Selamat Jalan.

 

You may also read!

Nagita Slavina Jual Scraft dengan Design Khas Lima Benua

SinarHarapan.id - Nagita Slavina mulai merambah bisnis fashion, khususnya scraft. Bekerjasama dengan sebuah merk fashion Diario, Nagitamembuat desain scraft yang mencirilan lima benua. "Jadi

Read More...

Bukaka Teken Kontrak Senilai US$7,5 Juta di Bangkok

SinarHarapan.id -  PT Bukaka Teknik Utama yang diwakili oleh Direktur Operasional dan Sumber Daya Manusia (SDM), Saptiastuti Hapsari, menandatangani kontrak

Read More...

Dubes RI Resmikan Indonesia-Ethiopia Business Connect di Jakarta

SinarHarapan.id - Indonesia-Ethiopia Business Connect (IEBC), sebuah wadah komunikasi cepat, konektivitas dan eksekusi kerjasama ekonomi melalui aplikasi sosial media, diluncurkan

Read More...

Mobile Sliding Menu