Tunjangan Biaya Hidup Beasiswa LPDP di Swedia Tak Pernah Naik Sejak 2012

In Internasional

SinarHarapan.id – Tunjangan biaya hidup (living allowance/LA) bagi penerima LPDP di Swedia tidak pernah dinaikkan sejak 2012. Padahal setiap tahunnya negeri itu mengalami inflasi sekitar dua persen setiap tahun.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan Duta Besar RI untuk Swedia, Bagas Hapsoro,dengan 20 mahasiswa Indonesia penerima Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Restoran Jakarta, Solna, Stockholm, Minggu (6/9).

Pertemuan itu digelar untuk merumuskan rekomendasi terbaik khususnya bagi keberlangsungan beasiswa LPDP dan pendalaman kerja sama riset dan pendidikan tinggi di Swedia.

Sedianya, pertemuan tersebut merupakan bagian dari rencana kunjungan kerja Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke Swedia. Namun karena terkendala perizinan, kedatangan delegasi di Swedia mundur beberapa hari dari semula yang dijadwalkan.

Sembari menyayangkan ketidakhadiran delegasi LPDP pada pertemuan tersebut, namun menyampaikan bahwa berbagai masukan dan rekomendasi dari pertemuan tersebut akan disampaikan kepada Delegasi LPDP.

Adapun beberapa rekomendasi yang dihasilkan pada pertemuan tersebut antara lain, di bidang riset dan kerja sama yaitu melakukan riset bersama antar perguruan tinggi di Indonesia dengan perguruan tinggi di Swedia terutama yang unggul di bidang masing-masing.

Juga memperbanyak pertukaran pelajar maupun peneliti antara Swedia dan Indonesia serta mengoptimalisasi partnership bersama industri Swedia. Hal ini bisa dimulai dengan perusahaan Swedia yang ada di Indonesia saat ini seperti IKEA, ABB, Scania, melalui open project thesis, workshop, dan masih banyak lagi.

Dari pertemuan juga dihasilkan sejumlah rekomendasi di bidang sistem administrasi. Antara lain perlunya penyesuaian periode waktu seleksi LPDP dengan jadwal seleksi kampus-kampus Swedia.

Hal ini dikarenakan sistem penerimaan mahasiswa di Swedia menerapkan jadwal atau rentang waktu yang jelas dan pasti, sehingga tidak mungkin meminta penundaan masa studi (defer) kecuali alasan kesehatan dan wajib militer.

Selain itu perlu juga pengorganisasian penyebaran informasi tentang pembaruan pengaturan yang lebih baik. Selama ini yang dilakukan lewat milis dianggap kurang efisien.

Penting juga diperbaiki adalah sistem kuota serta kemudahan bagi para penerima LPDP agar tidak mengalami penundaan keberangkatan studi yang terlalu lama.

Masukan-masukan lain yang diterima untuk meningkatkan LPDP ke Swedia adalah soal biaya hidup atau living allowance (LA). Hal yang perlu diperhatikan adalah inflasi di Swedia sebesar dua persen setiap tahun. Adapun sejak 2012, tunjangan biaya hidup belum pernah disesuaikan dengan tingkat inflasi tersebut.

Selain itu syarat maintenance requirement dari kantor Imigrasi Swedia mengalami kenaikan dari minimal SEK 7300 per bulan pada 2012 menjadi sebesar SEK 8370 pada 2019. Adapun syarat untuk mahasiswa doktoral bisa lebih tinggi (sekitar SEK 12.000).

Juga biaya kesehatan merupakan dana di luar pengeluaran reguler yang penting dan darurat, namun tergolong sangat tinggi. Awardee kerap menanggung sendiri biaya kesehatan yang tidak ditanggung asuransi kampus.

“Dengan keseluruhan biaya hidup yang cukup tinggi di antara negara Skandinavia, LA awardee di Swedia bisa dibilang lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa Barat,” tulis KBRI Stockholm dalam rilis yang diterima Sinarharapan.id.

Saat ini di Swedia, terdapat 53 mahasiswa penerima LPDP. Sebagian besar merupakan mahasiswa program magister. dengan jumlah terbanyak yaitu 16 mahasiswa di Kungliga Tekniska Högskolan (KTH)/Royal Institute of Technology di Stockholm dan 16 mahasiswa di Lund University, Lund.

Bidang ilmu yang ditekuni, utamanya adalah teknik, seperti ilmu komputer, arsitektur; kedokteran, seperti biomedicine; dan lingkungan, seperti health-economics, sustainability, dan development study.

Swedia merupakan salah satu negara studi penerima beasiswa dari LPDP sejak tahun 2013, dan LPDP telah menyediakan beasiswa kepada 176 orang sejak 2013 hingga 2019.

Angka tersebut menempatkan Swedia di urutan ke-7 sebagai negara dengan jumlah terbesar penerima beasiswa LPDP, masih jauh dibawah Inggris di urutan pertama sebanyak 2.944 orang, Australia di urutan kedua sebanyak 1.518 orang dan Belanda di urutan ketiga sebanyak 1.312 orang.

Pertemuan ini adalah salah satu program dalam kunjungan kerja Delegasi LPDP ke Swedia yang sedianya dilakukan pada 6-12 Oktober 2019, namun karena terkendala perizinan, kedatangan delegasi di Swedia mundur beberapa hari dari semula yang dijadwalkan.

Delegasi LPDP rencananya dipimpin Ainun Na’im, Ketua Dewan Pengawas LPDP/Sekjen Kemenristekdikti, didampingi M. Sofwan Effendi, Direktur Beasiswa LPDP dan tim.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Delegasi LPDP dijadwalkan melakukan pertemuan dengan sejumlah instansi pemerintah, universitas, dan institusi penyelenggara dan yang terlibat dalam studi pendidikan tinggi dan riset di Swedia, seperti Swedish Higher Education Council, Swedish Institute, Kungliga Tekniska Högskolan (KTH)/Royal Institute of Technology, Karolinska Institute, dan Lund University.

(Sumber: KBRI Stockholm)

You may also read!

Ahok Menuju Jabatan Bos BUMN, Pertamina Jadi Sasaran

SinarHarapan.id - Publik dihebohkan dengan kehadiran Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Rabu (13/11/2019) ke kantor Kementerian BUMN, Jakarta

Read More...

Meski Mantan Napi, Ahok Tetap Bisa Jadi Pemimpin BUMN

SinarHarapan.id - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Rabu (13/11/2019) mendatangi kantor Kementerian BUMN, Jakarta Pusat. Ahok bertemu langsung

Read More...

Distribusi Mobil Kia Kini Ditangani oleh Anak Perusahaan Indomobil Group PT Kreta Indo Artha

SinarHarapan.id-PT Kreta Indo Artha (KIA), anak perusahaan dibawah naungan Indomobil Group, resmi menjalankan distribusi kendaraan bermotor Kia di Indonesia.

Read More...

Mobile Sliding Menu