15 August 2022

Sekjen IORA, Dubes Salman Al Farisi menjadi wisudawan tertua pascasarjana UGM. (Dok. Istimewa)

SinarHarapan.id – Pemimpin spiritual dan politik besar dunia asal India, Mahatma Gandhi pernah berkata, “Hiduplah seolah kau akan mati besok dan belajarlah seolah kau akan hidup selamanya.” Petuah berharga tersebut tampaknya mengilhami Sekretaris Jenderal Indian Ocean Rim Association (IORA), Duta Besar Salman Al Farisi. Pada Selasa (20/7), mantan Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan tersebut menjadi wisudawan tertua pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dubes Salman, yang pernah bertugas sebagai Duta besar RI untuk Afrika Selatan (2018-2022) dan Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab (2012-2014) itu telah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Efektivitas Inovasi Kebijakan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia di Singapura, Studi Kasus Smart Embassy KBRI Singapura” pada 11 April 2022 dan dinyatakan lulus pada 31 Mei 2022 dengan predikat “sangat memuaskan”.

Sebagai Sekjen IORA, Dubes Salman, mengikuti perhelatan akademik yang sakral itu lewat saluran streaming Youtube dari Mauritius. Ijazah Doktoral (S3) diserahkan kepada istrinya, Umi Mahmudah, yang kebetulan sedang berada di Indonesia.IORA, sebuah organisasi internasional yang beranggotakan 23 negara sepanjang pesisir Samudera Hindia tersebut berkedudukan di Mauritius, negara kepulauan di barat daya Samudera Hindia, 900 kilometer sebelah timur Madagaskar.

Kesibukan sebagai Duta Besar dan kemudian berlanjut sebagai Sekjen IORA membuatnya sedikit terhalang untuk menyelesaikan masa kuliah kurang dari lima tahun, sehingga tidak dapat meraih predikat cumlaude, meskipun berhasil mendapat nilai sempurna 4 (empat) dalam Yudisumnya.

“Kelulusan ini bagi saya sudah sangat berarti. Pengalaman di dunia akademik sangat memperkaya pengetahuan dan membangun perilaku berfikir kritis, bereferensi, dan bertanggungjawab” ujar Dubes Salman.

Dia juga mengatakan bahwa sebagai diplomat karier dan praktisi di bidang hubungan luar negeri, ilmu yang diperolehnya dari program studi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan tersebut melengkapi rujukan yang sangat berharga bagi langkah-langkah perumusan dan pelaksanaan kebijakan.

Sebaliknya, sebagai pelaku di dunia diplomasi, Dubes Salman juga dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang berbagai praktik kebijakan yang dapat memperkaya khasanah keilmuan. Terlebih dengan pengalaman tugasnya memimpin sebuah organisasi antarnegara saat ini, model kepemimpinan lintas budaya (cross-cultural leadership) dapat menjadi topik kajian menarik, baik aspek keilmuan maupun praktisnya.

Dubes Salman Al Farisi bersama Ibu Umi Mahmudah. (Dok. Istimewa)

Sebagai praktisi, pilihan menempuh pendidikan pada prodi Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan dinilainya tepat.

“Prodi ini memfokuskan pada kajian isu-isu kepemimpinan dan kebijakan dalam konteks perubahan global yang semakin kompleks yang berdampak besar pada berbagai sektor kehidupan masyarakat, seperti politik, ekonomi, sosial, dan media. Oleh karenanya, kajian inovasi kebijakan dan kepemimpinan modern yang menjadi muatan utama pada prodi ini menjadi sangat penting dalam membantu para pemangku kepentingan menghadapi tantangan tersebut. sehingga lebih adaptif terhadap paparan inovasi dalam lingkungan disruptif,” kata Dubes Salman.

Kajian lintas disiplin ilmu pada prodi ini juga menjadi tempat yang nyaman untuk berinteraksinya pemikiran dan pengalaman dari berbagai kalangan, baik dari kalangan pejabat pemerintah, akademisi, anggota TNI, dan pengusaha, menjadi taman sari untuk membangun semangat Indonesia incorporated yang telah lama diidam-idamkan.

Bagi Dubes Salman, pilihan program doktor Kepemimpinan dan Inivasi Kebijakan yang telah dibuka sejak 2007 tersebut juga melengkapi ilmu yang ditimba pada strata-strata sebelumnya, yaitu ekonomi pembangunan pada jenjang S1 di FEB UGM dan hubungan internasional pada Fletcher School of International Law and Diplomacy, Tuft University di Amerika Serikat.

Misi Program Doktor Kepemimpinan dan Inovasi kebijakan antara lain ingin melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang mampu menjadi innovative gardener, yaitu pemimpin yang mampu menjadi katalisator bagi berkembangnya inovasi dan mampu menjadi inspirator serta motivator publik dalam berkreasi secara bersama (co-creation).

Pemimpin yang mampu membangun tatakelola (governance) yang baik dengan mengintegrasikan tiga kekuatan besar dalam pengembangan inovasi, yaitu lembaga penghasil ilmu (perguruan tinggi), lembaga pengguna ilmu (sektor bisnis dan masyarakat), dan lembaga pengatur dan penyedia layanan masyarakat (pemerintah), ke dalam satu kesatuan hubungan sinergis yang saling memperkuat (multi-helix) untuk mengatasi persoalan-persoalan besar yang tumbuh dinamis di tengah masyarakat yang semakin berjejaring kuat.

Hal itu selaras pula dengan komitmen Rektor UGM, Prof. Ova Emilia untuk terus mengangkat peran penting UGM sebagai pengawal kepemimpinan strategis Indonesia di level global dengan menyediakan kajian serta rekomendasi yang berpegang teguh pada kaidah-kaidah keilmuan dan relevansi.

Oleh karena itu, sebagai alumnus UGM, Dubes Salman, yang masih aktif berkarya di dunia diplomasi itu, ingin menjunjung tinggi almamaternya melalui pengabdian di dunia praktisi dan keilmuan agar tetap migunani di usianya yang tidak muda lagi.

Dia menegaskan kesediaanya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya di dunia pendidikan maupun lembaga-lembaga kajian dan sosial kemasyarakatan, termasuk dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi dengan berbagi muatan praktis pada beberapa mata kuliah yang terkait dengan dunia kerjasama internasional yang digelutinya selama ini.

Pengabdian itu merupakan wujud dari amaliyah pengetahuan dan pengalaman, sekaligus sebagai pertanggungjawaban kepada keluarga yang selama ini mendukungnya dalam menempuh karier sebagai pejabat publik dan menuntut ilmu di perguruan tinggi.