15 August 2022

Takeda kembali mengajak masyarakat untuk bergabung dalam kampanye “Jentik Jari” yang menandakan semangat cegah DBD dengan cermat.(Sumber:TAKEDA Indonesia)

SinarHarapan.id-Musim penghujan masih terjadi di beberapa daerah di tanah air.

Sisa air genangan bisa menjadi sumber berkembangbiaknya hewan nyamuk yang bisa menyebabkan penyakit nantinya.

DBD merupakan penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dengan tingkat keparahan yang dapat merenggut nyawa dibandingkan dengan demam Dengue biasa.

Berdasarkan data dari Kemenkes RI selama semester 1 tahun 2022, secara kumulatif terdapat 52.313 kasus Dengue di kabupaten atau kota di 34 provinsi Indonesia.

Angka tersebut merupakan peningkatan hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, sebesar 19.156 pada Juni 2021.

Untuk itu, Takeda Indonesia mengambil langkah konkret untuk mendukung program Pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Dengue.

Selain itu, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, PT Takeda Indonesia menyelenggarakan kegiatan diskusi “Perlindungan Keluarga dari Bahaya Demam Berdarah Dengue untuk meningkatkan kesadaran mengenai Dengue yang dapat menginfeksi siapa saja”.

Diskusi yang digelar secara daring ini turut menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (“Kemenkes RI”) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (“IDAI”).

Pemerintah menargetkan angka kasus Demam Berdarah Dengue (“DBD”) yaitu kurang dari 10 per 100.000 penduduk pada 2024, dan akan menuju nol kasus kematian pada 2030 melalui Strategi Nasional Penanganan Dengue 2021-2025.

Takeda meluncurkan www.cegahdbd.com, sebagai pusat informasi bagi masyarakat agar bisa secara cermat mencegah penyebaran DBD.

Takeda kembali mengajak masyarakat untuk bergabung dalam kampanye “Jentik Jari” yang menandakan semangat cegah DBD dengan cermat.

“PT Takeda Indonesia berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah menuju Zero Dengue Death pada 2030. Hal ini bisa tercapai dengan meningkatkan kesadaran orang tua maupun anak-anak akan bahaya Dengue”, ujar Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia.(20/7/2022)

Lebih lanjut, setiap orang berisiko terjangkit Dengue, tidak terbatas pada umur, jenis kelamin, di mana mereka tinggal, maupun gaya hidup. Oleh karena itu, seluruh anggota keluarga memiliki risiko yang sama terjangkit Dengue.

“Takeda juga mengajak masyarakat untuk bergabung dalam kampanye “Jentik Jari”, yang menandakan semangat bersama untuk pencegahan Dengue yang komprehensif dan cermat, termasuk dengan motede pencegahan inovatif.” kata Andreas.

Dengan tingginya jumlah anak-anak hingga remaja yang terkena bahkan meninggal dunia akibat Dengue ini, Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, IDAI mengatakan “Para orang tua diharapkan mewaspadai adanya individu yang terjangkit dengue di lingkungan rumah, sekolah, tempat penitipan anak, maupun tempat bermain anak. Apabila anak demam, berilah banyak minum, istirahat, dan segera ke layanan kesehatan untuk memastikan apakah ia terinfeksi oleh virus dengue.”

Apabila anak anda dengue, upayakan setiap hari dapat berkonsultasi ke dokter dan waspadalah apabila anak memasuki fase penurunan demam yaitu di hari ke-3 sampai 7 sakit. Pada fase ini, anak mungkin menunjukkan tanda bahaya seperti muntah-muntah, nyeri perut hebat, perdarahan hidung atau tempat lain, tangan teraba lembab/anyep, gelisah, kejang, atau sulit dibangunkan.

Apabila ditemukan tanda bahaya, segeralah membawa anak ke rumah sakit atau puskesmas dengan tempat perawatan karena kondisi dapat berlanjut menjadi berat (severe dengue) yang mengancam kehidupan, akibat terjadinya kebocoran plasma hebat, perdarahan berat dan kerusakan organ.” tambah Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K).

Untuk mencapai target penurunan jumlah Pasien DBD tersebut, pemerintah melakukan berbagai upaya, antara lain: dengan melakukan penguatan sistem surveilans serta manajemen kejadian luar biasa, penguatan tata laksana secara komprehensif, meningkatkan partisipasi dari kemandirian masyarakat, meningkatkan komitmen pemerintah pusat maupun daerah serta partisipasi mitra dan multi sektor, dan mengembangkan kajian penelitian serta inovasi untuk penetapan kebijakan pengendalian Dengue ke depannya.(Iwan)