13 August 2022

Dari kiri, Prof. Selo (Dekan FT UGM), Prof. Ova Emilia (Rektor UGM) , Prof. Nizam (Plt.Dirjen Diktiristek), dr. Damiyanti Roosseno, Cyril Noerhadi.

SinarHarapan.id – Di Era Presiden Soekarno, siapa yang tak kenal sosok Prof. Dr. Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, atau yang akrab dikenal dengan panggilan Prof.Roosseno.

Ia merupakan ilmuwan bidang teknik sipil yang diberikan mandat oleh kepala negara untuk merancang dan membangun sejumlah proyek mercusuar di Indonesia saat itu. Bila dihitung, karya ciptanya lebih dari 32 bangunan bersejarah meliputi gedung, jembatan, hotel, pelabuhan termasuk restorasi Candi Borobudur.

Sejumlah bangunan tersebut, hingga saat ini masih berdiri kokoh sebagai ikon kebanggaan Indonesia seperti Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, Gelora Bung Karno Senayan, Hotel Indonesia, dsb.

Berkat pemikirannya yang cemerlang, karya-karya monumental telah dipancangkan di bumi pertiwi sebagai wujud nyata kecintaan anak bangsa untuk negerinya.

Penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama tahun 1984 ini, telah menorehkan berbagai prestasi yang tidak hanya diakui pada level nasional saja, tetapi juga di level internasional. Oleh karena itu, atas kiprah dan loyalitas yang baik, Presiden Soekarno mengamanahkan sejumlah jabatan strategis untuk  diemban, seperti menteri perekonomian, menteri perhubungan, serta menteri pekerjaan umum.

Sebagai seorang cendekiawan, kepiawaiannya tidak hanya teruji dalam pengembangan teknik konstruksi rancang bangun saja, namun, juga memiliki  kepedulian dan dedikasi yang tinggi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.

Sejarah mencatat Prof. Roosseno berperan dalam berdirinya Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (FT-UGM), yaitu saat proses perpindahan dan menjadi Ketua Pertama STT Bandung di Yogyakarta yang merupakan embrio FT-UGM. Perpindahan ini sebagai pencerminan ketegasannya dalam mengambil keputusan, agar Indonesia memiliki perguruan tinggi teknik.

Kehadiran sosoknya juga menjadi peletak dasar pengembangan dengan senantiasa berpedoman pada sikap kemandirian dan keberanian, sehingga menjadi spirit hadirnya Gedung Smart and Green Learning Center (SGLC).

Sebagai simbol FT-UGM, gedung ini nantinya akan difungsikan sebagai pusat layanan pendidikan, penelitian dan inovasi serta menjadi  sarana pendukung dalam merumuskan berbagai kebijakan strategis untuk memajukan bangsa dan negara.

Untuk itu, sebagai apresiasi dalam mengenang jasa-jasanya, Selasa, 2 Agustus 2022, bertepatan dengan hari lahirnya Prof. Roosseno, FT-UGM menyematkan nama Bapak Beton Indonesia ini, pada bangunan baru SGLC dengan sebutan Gedung Prof.Roosseno Soerjohadikoesoemo.

Penyematan nama tersebut, diresmikan secara langsung oleh Plt.Dirjen Diktiristek Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng. & Rektor UGM Prof.dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K).,Ph.D., serta disaksikan Dekan, Sivitas Akademika serta Perwakilan Keluarga Roosseno.

“Kado yang sangat spesial di hari jadinya beliau, kami sangat bersyukur dan terhormat atas apresiasi yang luar biasa kepada Prof. Roosseno, besar harapan kami, dengan disematkannya nama beliau pada Ikon baru ini, dapat menjadi semangat bagi seluruh sivitas akademika dalam mendedikasikan ilmu dan pengetahuan untuk membangun tanah air,” kata Cyril Noerhadi, cucu Roosseno, yang hadir di acara sebagai perwakilian keluarga.

“Meskipun raganya tak lagi bersama kita, semoga ide atau gagasan pemikiran beliau akan terus menjadi inspirasi bagi kita semua. Atas nama keluarga besar, saya mengucapkan  terima kasih kepada FT-UGM  yang senantiasa memberi perhatian, penghargaansekaligus mengenang jasa beliau semasa hidup“ ujar Cyril Noerhadi lagi.