7 October 2022

SinarHarapan.id-Kontribusi nyata Samsung untuk ikut serta membantu pemerintah meningkatkan kapasitas siswa dan mengakselerasi transformasi digital di Indonesia, Batch 3 Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 3 – 2021/2022 digelar dengan tema IoT Product Development Bootcamp.

Teknologi IoT mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia. Data Kementerian Kominfo pada 2022, akan terdapat 400 juta perangkat IoT di Indonesia dan akan menjadi 678 juta perangkat pada 2025 yang didorong oleh teknologi 5G.

Laporan World Economic Forum bertajuk The Future of Jobs Report 2020 menyebutkan, sebanyak 9 persen perusahaan pada 2025 sudah memanfaatkan teknologi IoT.

Untuk mengantisipasi hal itu, Kominfo dan Kemendikbudristek kemudian mendorong peningkatan kapasitas dunia pendidikan SMA dan SMK dalam pemanfaatan TIK yang berfokus pada teknologi IoT, Big Data, Cloud Computing, Video Based Learning, Virtual Reality, dan Augmented Reality.

“Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 3 – 2021/2022 sejalan dengan upaya pemerintah mendorong peningkatan kapasitas guru dalam bidang TIK dan mencetak siswa Indonesia sebagai generasi muda yang menguasai teknologi digital, mampu menghasilkan solusi nyata untuk berbagai permasalahan di komunitas mereka, dan siap bersaing di industri”, jelas Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship Samsung Electronics Indonesia.

Pada tahap bootcamp ini, para siswa diajarkan beberapa materi, diantaranya; Foundation & Hardware (IoT), Networking & Communication Basics (Raspberry Pi), Software & Platform (MongoDB, PyMongo, UBIDOTS).

Ardika Purna Siswa SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi Malang mengatakan, materi-materi yang diajarkan di bootcamp bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai konsep design thinking, innovation, berpikir kritis, program validation, membuat ide solusi, python course, dan IoT course, yang saling berkaitan dalam menggarap produk IoT.

Produk IoT yang dirancang oleh tim ini adalah smart aquarium yang disebut AQUAThings, dirancang untuk mempermudah mengontrol akuarium ikan hias melalui smartphone. Solusi ini bertumpu pada tiga fitur utama, yaitu IoT pengatur kadar PH air, IoT feeder fish, dan IoT pencahayaan akuarium.

Cukup banyak tantangan yang harus mereka hadapi pada fase itu. Diantaranya adalah harus menggunakan bahasa pemrograman yang sama sekali baru dari yang pernah dipelajari, lalu saat merakit dan merangkai komponen perangkat IoT yang terdiri dari sensor-sensor, dan masalah hardware engineering. “Karena produk kami kan berhubungan dengan air, kami sudah sering mengalami konsleting saat perakitan karena sensor-sensornya ada di dalam air sehingga menyebabkan kerugian,” kata Ardika yang bercita-cita menjadi hardware engineer ini.

Melalui SIC Ardika merasa keterampilannya bertambah dan pengertiannya mulai terbuka bahwa hardware engineering ternyata tidak melulu membuat produk macam handphone atau laptop. IoT yang ternyata juga penting karena banyak dibutuhkan orang untuk memecahkan masalah sehari-hari.

Sementara itu, Daffa Eka Sujianto siswa dari SMK Al Huda, Kota Kediri Jawa Timur, mewakili kelompoknya mengatakan materi yang diajarkan di stage bootcamp adalah materi-materi baru, contohnya seperti cara menjalankan sensor dengan program python, mengirim data sensor ke data IoT, cara menjadikan ide menjadi produk melalui tahap perakitan hardware dan pembuatan program.

Desain project IoT tim Daffa adalah kacamata yang dilengkapi sensor ultrasonic, GPS, kamera, dan speaker yang bisa memberikan perintah berbelok kepada tuna netra berdasarkan data dari sensor. Kacamata itu diciptakan untuk membantu tuna netra untuk lebih mudah beraktivitas.

Tantangan yang dihadapi saat mengerjakan project itu terjadi pada tahap merakit hardware. Ternyata ada beberapa hardware yang tidak mendukung atau malah tidak tersedia. Selain itu, ada beberapa sensor yang tidak bisa menangkap sinyal, contohnya sensor GPS, sehingga harus membeli perangkat baru.

Stage IoT Product Development Bootcamp di SIC Batch 3 – 2021/2022 digelar pada Juni-September 2022. Tahap ini diikuti oleh siswa-siswi yang telah melewati seleksi Stage 2 dengan ide solusi dan nilai terbaik, yakni 100 siswa (25 tim) dari 6 MAN (8 tim) dan 10 SMK (17 tim) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 100 siswa ini disaring dari 1.000 siswa dari 40 SMK dan 30 MAK/MAK/MAP yang berpartisipasi di SIC Batch 3 – 2021/2022. 1.000 siswa ini adalah mereka yang lolos dari logic test dari 3.000 pendaftar. Para peserta dibimbing oleh para mentor berpengalaman dari Skilvul.