30 November 2022

Panel multidisiplin internasional, Aesthetic Council for Ethical use of Neurotoxin Delivery (ASCEND), hari ini meluncurkan publikasi konsensus di IMCAS Asia 2022, dengan judul “Emerging trends in botulinum neurotoxin A resistance: An international multidisciplinary review and consensus”, yang menyerukan kesadaran dan advokasi yang lebih besar di antara praktisi estetika tentang potensi risiko imunogenisitas sebagai akibat dari perawatan Botulinum Toxin A (BoNT-A) yang berkelanjutan.

Sejak 1999, injeksi Botulinum Toxin A (“BoNT-A”) telah menjadi prosedur estetika yang paling
banyak dilakukan di dunia1. Selain itu ini juga merupakan pilihan perawatan lini pertama untuk berbagai kondisi medis seperti distonia serviks dan spastisitas tungkai. Secara global, penggunaan
BoNT-A dalam estetika telah meningkat karena semakin banyak pasien yang mencari perawatan dan perluasan indikasi off-label. Khususnya di Asia Pasifik, dimana pertumbuhan tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya tren pasien estetika dari generasi
yang lebih muda serta meningkatnya pendapatan yang dapat dibelanjakan di wilayah tersebut.

Dikarenakan efek BoNT-A bersifat sementara dan dapat berkurang seiring waktu, injeksi berulang
diperlukan untuk mempertahankan efek perawatan. Meskipun demikian, injeksi berulang BoNT-A,
yang merupakan protein bakteri asing, dapat merangsang pembentukan antibodi, termasuk antibodi netralisasi (NAbs) yang dapat melawan aktivitas biologisnya. Hasilnya adalah
imunoresistensi, atau NAb-induced secondary nonresponse (SNR), yang mengacu pada
pengurangan atau tidak adanya efek terapeutik setelah perawatan awal yang berhasil.

Menurut sebuah studi riset konsumen yang dilakukan oleh Merz Aesthetics® dalam kemitraan
dengan Frost & Sullivan masing-masing pada tahun 2018 dan 2021, lebih banyak responden yang
melaporkan penurunan kemanjuran perawatan BoNT-A (69% pada 2018 dibandingkan dengan 79% pada 2021). Tindakan paling umum yang diambil oleh pasien untuk mengatasi penurunan
kemanjuran tersebut adalah dengan terus melakukan perawatan tetapi dengan dosis dan frekuensi
yang ditingkatkan.

Dengan latar belakang tersebut, “Emerging trends in botulinum neurotoxin A resistance: An international multidisciplinary review and consensus” ditujukan untuk meningkatkan kesadaran
tentang risiko resistensi imun dari perawatan BoNT-A yang berkelanjutan, dan memberikan
rekomendasi tentang praktik terbaik, mengintegrasikan pertimbangan klinis, etika, dan estetika
untuk penilaian dan pengelolaan risiko SNR yang diinduksi NAb. Karena terapi BoNT-A seringkali
dilakukan seumur hidup, penulis setuju bahwa menggunakan formulasi BoNT-A yang sangat murni dengan risiko imunogenik terendah untuk meminimalkan risiko pembentukan NAb akan menjadi keputusan klinis yang bijaksana.

Mengomentari topik imunogenisitas, Dr. Wilson Ho, Plastic Surgeon, direktur The Specialists: Lasers, Aesthetic & Plastic Surgery, Hong Kong dan salah satu penulis publikasi konsensus, mengatakan, “Imunoresistensi BoNT-A diakui secara luas di bidang neurologi, dengan sebagian besar kasus yang dilaporkan sebelumnya terkait dengan indikasi neurologis, di mana dosis yang digunakan biasanya jauh lebih tinggi daripada dosis yang digunakan dalam indikasi estetika. Namun, tren saat ini dalam praktik estetika menunjukkan bahwa kisaran indikasi estetika BoNT-A telah diperluas hingga mencakup perawatan estetika hipertrofi masseter dan, baru-baru ini, kontur tubuh. Oleh karena itu, bertentangan dengan kepercayaan umum di antara praktisi estetika, dosis total yang diterima untuk prosedur estetika dapat dengan mudah mencapai kisaran yang digunakan untuk indikasi terapeutik, dan sebagai hasilnya, potensi risiko pasien yang mengalami resistensi kekebalan terhadap BoNT-A dapat meningkat.”

Sementara tingkat sebenarnya dari SNR yang diinduksi antibodi dalam praktik estetika saat ini tidak diteliti atau didokumentasikan dengan baik, panel multidisiplin setuju bahwa hal tersebut mungkin tidak dilaporkan dalam literatur medis. Dengan peluncuran publikasi konsensus, Dr Ho mengatakan “Kami mendesak praktisi untuk memainkan peran aktif dalam meminimalkan faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk imunogenisitas BoNT/A dengan mempertimbangkan riwayat perawatan pasien, termasuk perawatan BoNT-A ekstensif sebelumnya untuk beberapa indikasi dari praktik yang berbeda, dan mempertimbangkan implikasi dari pilihan perawatan tertentu sepanjang riwayat medis pasien. Dari perspektif klinis, menggunakan formulasi BoNT-A yang sangat murni dan memberikan dosis efektif minimum pada interval yang tepat dapat membantu membatasi perkembangan kekebalan.”

Rekomendasi lainnya dari publikasi ini adalah pentingnya meningkatkan kesadaran konsumen
tentang potensi risiko imunogenisitas. Hal ini membutuhkan pendekatan kolaboratif yang berpusat
pada pasien, penilaian individual dan diskusi menyeluruh tentang masalah perawatan BoNT-A dan
risiko potensial, termasuk resistensi kekebalan dan potensinya untuk memengaruhi penggunaan
terapeutik di masa depan, dengan pasien sejak awal. Tenaga medis profesional dapat memainkan
peran besar dalam mendukung pasien untuk memahami dampak perawatan pada kesehatan jangka panjang mereka secara keseluruhan, bukan hanya pada hasil perawatan tertentu.

Publikasi konsensus ini merupakan publikasi ketiga yang didukung oleh Merz Aesthetics® dalam
lima tahun terakhir yang mengangkat topik imunogenisitas. Sementara dua publikasi pertama berfokus pada pengalaman konsumen dengan berkurangnya kemanjuran perawatan BoNT-A,
publikasi konsensus ini adalah yang pertama yang telah menerima konsensus industri yang kuat di
tingkat internasional dan multidisiplin. (Lihat lampiran A untuk tabel pernyataan konsensus).

 

About Post Author