30 November 2022

SinarHarapan.id – Akuntan Publik pemeriksa laporan keuangan semester 1 2022 mendapati PT Bumi Resources Tbk (IDX:BUMI) mengalami defisit senilai USD2,719 miliar sehingga memunculkan indikasi ketidakpastian untuk mempertahankan kelangsungan usaha BUMI.

Sebenarnya defisit tersebut telah berkurang 5,8 persen dibanding akhir tahun 2021 yang mencapai USD2,887 miliar. Emiten tambang batu bara ini pada semester 1 2022 berhasil membukukan laba bersih senilai USD167,67 juta, atau 16.600 persen dibanding periode sama tahun 2021 yang tercatat USD1,89 juta.

Hasil itu melambungkan laba per 1000 saham dasar ke level USD1,56, sedangkan akhir Juni 2021 berada di level USD0,03.

Data tersebut tersaji dalam laporan keuangan semester I 2022 telah audit BUMI yang diunggah pada laman Bursa Efek Indonesia(BEI), Rabu (31/8/2022).

Perinciannya, pendapatan naik 129 persen menjadi USD968,68 juta yang ditopang peningkatan ekspor batu bara sebesar 98,2 persen menjadi USD454,09 juta. Penjualan batu bara ke pasar dalam negeri melonjak 173,6 persen menjadi USD509,05 juta.

Walau beban pokok pendapatan bengkak 121 persen menjadi USD754,96 juta, tapi laba kotor tetap naik 166 persen menjadi USD213,72 juta.

Menariknya, bagian laba entitas asosiasi dan ventura bersama naik 181 persen menjadi USD248,75 juta. Sehingga laba sebelum pajak penghasilan melonjak 385 persen menjadi USD277,47 juta.

Untuk mengatasi defisit itu, BUMI telah melakukan peningkatkan keunggulan operasionalnya melalui peningkatan volume produksi, penekanan biaya-biaya dan peningkatan efisiensi.

Induk perusahaan juga mempercepat pengembangan BRMS, Arutmin dan anak-anak usaha lainnya dengan memanfaatkan harga komoditas yang semakin membaik.

Langkah terakhir, BUMI sedang dalam proses restrukturisasi utang.

About Post Author