7 October 2022

SinarHarapan.id-Rapi Films bersiap untuk menayangkan remake dari siretron legendaris ‘Noktah Merah Perkawinan’.

Dengan unsur moder dan swaxtate dari kisah sebelumnya, film ini diarahkan oleh sutradara muda Sabrina Rochelle Kalangie dan ditulis skenarionya oleh penulis berpengalaman Titien Wattimena.

Marsha Timothy, Oka Antara, dan Sheila Dara Aisha menjadi bintang utama. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia pada 15 September mendatang.

Bagi Sabrina, “Film ini bukan hanya tentang pernikahan yang rusak karena orang ketiga. Pada dasarnya ini tentang value ketika kita membangun hubungan dengan orang lain, dan terlepas dari itu issue yang diangkat pun juga sangat dekat dengan apa yang biasa terjadi di keluarga-keluarga di Indonesia sampai saat ini. Jadi harapannya film ini masih bisa memberikan sesuatu yang fresh dan bisa berkesan bagi penikmat JP lamanya maupun generasi penonton yang baru.”

‘Noktah Merah Perkawinan’ berkisah tentang hubungan Ambar (diperankan oleh Marsha Timothy) dan Gilang (Oka Antara) yang mulai memasuki masa-masa kekecewaan atas berbagai hal dalam pernikahan mereka, setelah sebelas tahun menikah dan memiliki dua orang anak, Bagas dan Ayu.

Apalagi setelah pertengkaran hebat akibat campur tangan kedua orang tua mereka dalam urusan rumah tangga Ambar dan Gilang.

Gilang bekerja sebagai landscape architect, sedangkan Ambar, di sela-sela kesehariannya mengurus rumah dan anak-anak, berusaha menyibukkan diri dan mencari kedamaian dengan mengajar workshop keramik, dan di sanalah ia berkenalan dengan Yuli (Sheila Dara) yang menjadi salah satu murid di kelasnya.

Hubungan Gilang. Ambar dan Yuli menjadi semakin rumit setelah Gilang mengerjakan projek taman milik Kemal (Roy Sungkono), pacar Yuli.

Waktu-waktu yang dihabiskan bersama Yuli terasa seperti nafas baru bagi Gilang.

Keberadaan Yuli membawa kenyamanan yang sudah lama hilang bagi Gilang, begitu pula sebaliknya.

Yuli sadar betul bahwa dirinya jatuh cinta kepada suami dan Ambar, guru sekaligus wanita yang sangat dikaguminya dan harus berhenti  terhadap rasa itu, tetapi rasanya begitu sulit.

Di puncak sakit hati dan kekecewaannya, Ambar mempertanyakan apakah pernikahannya memang pantas untuk diselamatkan.

Karena cinta saja tidak akan pernah cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan.