7 December 2022

Garuda Indonesia.

SinarHarapan.id – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue. Perseroan siap melepas sebanyak 225 miliar saham baru atau setara 871,44% dengan harga pelaksanaan antara Rp 50-Rp 150 per saham.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Rionald Silaban mengatakan “Skenario pertama, dalam hal pemegang saham minoritas atau publik yang tidak mengambil haknya dengan rentang harga pelaksanaan Rp 50 – Rp 150 per saham, maka kepemilikan negara setelah right issue Garuda Indonesia berada pada rentang 53,12% hingga 54,08%,” dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (26/9/2022).

Skenario kedua, apabila pemegang saham minoritas Garuda Indonesia mengambil haknya dengan rentang harga pelaksanaan Rp 50- Rp 150, maka kepemilikan negara akan berada pada rentang 51,43% sampai 52,7%. Artinya, jika pemegang saham minoritas mengeksekusi haknya maka akan terhimpun dana US$ 358 juta sehingga bila ditambahkan dengan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar US$ 505 juta, maka total pada aksi penggalangan dana ini mencapai US$ 863 juta.

Skenario ketiga adalah jika pemegang saham minoritas Garuda Indonesia tidak mengambil haknya dengan harga pelaksanaan antara Rp 50 – Rp 150 per saham, maka kepemilikan negara akan berada pada rentang 66,43% sampai 65,51%.

“Penetapan harga rights issue menggunakan penilai independen atau KJPP,” terang Rionald dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI, Senin (26/9/2022). Rionald menjabarkan, terdapat tiga skenario kepemilikan negara setelah rights issue.

Saat ini pemerintah memegang 60,54 persen saham GIAA. Kemudian PT Trans Airways 28,26 persen dan publik 11 persen. (Red)

About Post Author