6 October 2022

Diskusi yang digelar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dengan tema ‘Review Keselamatan Pelayaran pada Kapal Tradisional di Indonesia’, di Jakarta, Rabu (21/9/2022). (Dok/sh.id).

SinarHarapan.id – Keberadaan kapal tradisional di daerah masih sangat signifikan dan dibutuhkan masyarakat banyak khususnya di wilayah kepulauan.

Namun demikian akibat tidak standarnya kapal tradisional yang digunakan serta tidak dilengkapi sarana penunjang seperti alat komunikasi dan alat navigasi yang menadai, mengakibatkan banyak kapal tradisional yang mengalami kecelakaan dan tidak terselamatkan.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dengan tema ‘Review Keselamatan Pelayaran pada Kapal Tradisional di Indonesia’, di Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Diskusi menampilkan narasumber Tenaga ahli pelayaran knkt: Lambert Manupassa, Wakil Sekjen MTI Deddy Herlambang dan Kasubdit Rancang Bangun dan Garis Muat Kapal Ditkapel M. Syaiful. Bertindak selaku moderator, Budi Nugraha, wartawan Suara Merdeka liputan transportasi.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam sambutannya mengatakan, panjangnya daftar kecelakaan kapal tradisional terutama kapal nelayan banyak disebabkan oleh kondisi kapal yang tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan, minimnya sarana komunikasi, navigasi dan alat keselamatan, juga akibat faktor cuaca Tapi kelalaian manusia masih dominan sebagai penyebab kecelakaan.

Sebagaimana disampaikan tenaga ahli pelayaran KNKT Lambert Manupassa banyak mesin dan peralatan kelistrikan tidak sesuai pada tempatnya dan berpotensi menimbulkan kebakaran.

Belum lagi posisi bahan bakar yang ditempatkan di tempat panas, dekat mesin dan dalam jerigen plastik yang gampang terbakar. Syaiful, Kasubdit Rancang Bangun dan Garis Muat Kapal Direktorat Perkapalan dan Kelautan Direktorat Perhubungan Laut menjelaskan, sebagian besar kapal-kapal tradisional yang beroperasi tidak dibuat sesuai dengan gambar. Tapi masih menggunakan feeling dan kebiasaan.

Ketika diberikan gambar dengan spek tertentu, malah bingung membuatnya. Karenanya perusahaan galangan kapal rakyat tidak pernah membuat kapal sebagaimana yang dipersyaratkan Ditjen Perhubungan Laut, baik itu bahan yang digunakan, ukuran dan kekuatan terhadap getaran mesin maupun hempasan gelombang.

Oleh karenanya, arah kebijakan keselamatan kapal pelayaran rakyat/ tradisional menjadi hal yang mendasar agar galangan kapal rakyat membangun kapal-kapal tradisional yang memenuhi persyaratan untuk laik melaut.  (non)