2 December 2022

SinarHarapan.id-Ketersediaan segalanya saat ini bisa memicu pola hidup seseorang.

Keinginan untuk selalu mendapatkan dan mewujudkannya bisa dilakukan pelbagai cara.

Kemajuan teknologi dan gencarnya intensitas bersosial media mendorong pelbagai keinganan yang belum bisa terwujud segalanya.

Malah banyak dari kita sudah sibuk untuk melakukan hal-hal yang sudah diagendakan namun lupa untuk menikmati setiap fasenya (Mindful).

Semestinya setiap proses yang terjadi dalam mengerjakan hal mulai terkecilpun bisa berarti nantinya.

Psikolog, Infanti Wisnu Wardani, S.Psi., M.Psi., bersama Adam Abednego, Co-Founder Menjadi Manusia, membeberkan lebih lanjut mengenai Hustling Culture dan kaitannya dengan Mindful kepada media dan pengunjung Jenius Co.Creation Week.

Jenius Co. Creation Week 2022.(Red/Iw)
Jenius Co. Creation Week 2022.(Red/Iw)

Dalam gelaran yang menyambut hari jadinya Jenius ke-6 itu, Infanti menjelaskan Hustle culture bisa disamaartikan dengan gaya hidup bekerja tanpa batas atau tiada hari tanpa bekerja dan terus menghasilkan.

Bagi golongan hustle culture, selalu bekerja menjadi keharusan, bila perlu setiap saat dan dimanasaja. Terkadang apa yang telah mereka kerjakan, raih dianggap belum memuaskan, belum cukup. Sehingga untuk mencapai kesuksesan mereka dituntut terus bekerja keras tanpa hanti, jelas Infanti, di hari kedua Jenius Co. Creation Week 2022, Plaza Indonesia.(29/10/2022)

Ada juga yang merasa bila mereka sedang tidak bekerja dianggapnya tidak produktif, dan bagi mereka adalah kesalahan. Karenanya mereka menunjukan diri kalau mereka produktif dibanding lainnya, padahal nyatanya tidak, tegas Infanti.

Lebih lanjut, Infanti menjelaskan, ada satu ciri dari golongan mereka yakni, FOMO (fear of missing out). FOMO merupakan tanda-tanda seseorang yang sedang hustling. Ada perasaan gak mau kalah ketika melihat orang lain berada ‘lebih unggul’ darinya. Dan proses selanjutnya, mereka akan berupaya keras meraih tujuannya, bahkan dengan mengorbankan dengan banyak hal.

Bila hal tersebut terjadi, seseorang gak akan bisa mendapatkan work life balance. Seluruh kehidupannya hanya akan tertuju pada pekerjaan sehingga mereka melupakan kepentingan pribadinya dan sekitarnya, lanjut pendiri Asoka Consulting ini.

Orang seperti ini malah akhirnya bisa mengacaukan suasana dan rekan kerja. Karena bukannya produktif malah jadi burnout, imbuhnya.

Lebih mengerikan lagi, orang semacam ini tidak lagi mampu bersyukur dengan apa yang sudah diraih dan dinikmati. Tidak mampu menghargai diri sendiri, kurang bergaul dengan teman, saudara semestinya lagi.

Mereka kerap lupa bersyukur pada hal sekecil apapun.

Lantas Infanti menyarankan beberapa hal sederhana untuk mengatasi hustle culture ini. Pertama, sadar dengan keadaan yang ada (Mindful), selanjutnya buatlah tujuan yang realistis karena ada tujuan dan hubungan sosial yang harus dijaga.
Berhenti membandingkan dan bersikap tegas untuk diri sendiri.

Masalah Mindful dan Hustling Culture telah terjadi sejak lama bahkan mulai masa remaja dan kerap muncul di perkotaan, namun pergeseran teknologi yang membuat hal ini menjadi tabu untuk diumbar ketimbang saat ini yang lebih bisa diblow di media sosmed, pungkas Infanti.(Red/Iw)

 

About Post Author