30 November 2022

SinarHarapan.id-Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di 18 kota utama Indonesia menemukan 0,27 juta ton hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut selama kurun waktu 2018. Salah satu sampah yang paling banyak ditemukan adalah sampah styrofoam.

Saat ini styrofoam makin banyak digunakan karena  mudah didapatkan, tetapi sangat sulit untuk dihancurkan. Sampah styrofoam bertahan lama bahkan abadi karena styrofoam dapat terperangkap di lingkungan kita selama berabad-abad, jika tidak dikelola dan dikurangi penggunaannya.

Dalam proses pembuatan styrofoam, chlorofluorocarbons atau CFC terlibat. Bahkan setelah itu, styrofoam tidak bisa terurai. Styrofoam membutuhkan waktu sekitar 500 – 1 juta tahun untuk dapat terurai oleh tanah.

Namun, styrofoam tidak terurai sempurna, melainkan berubah menjadi mikroplastik dan dapat mencemari lingkungan.

Kondisi ini membuat Indonesia dalam keadaan darurat sampah styrofoam dimana The Antheia Project mengajak masyarakat untuk serukan Say No To Styrofoam untuk meminimalisir sampah khususnya styrofoam.

Pengelolaan sampah yang kurang baik membuat The Antheia Project tergerak untuk berkontribusi dalam memberikan edukasi dan kesadaran publik.

The Antheia Project sebagai gerakan pemuda yang percaya diri, inspiratif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan mengajak masyarakat untuk bertindak sekarang, menggunakan program edukasi, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan rehabilitasi kehidupan laut untuk melindungi bumi.

The Antheia Project melalui kampanye #SayNoToStyrofoam adalah sebuah respon atas kondisi darurat sampah styrofoam yang perlu dicari solusinya bersama-sama.

Ruhani Nitiyudo, Co-Founder of The Antheia Project mengatakan Kolaborasi dan kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan juga diperlukan untuk mendukung gerakan dan semakin banyak orang yang terlibat untuk bersikap baik kepada alam.(24/11/2022)

Kami juga menyerukan kepada pelaku industri yang masih menjalankan business yang tidak sustainable misalnya perusahaan Indofood CBP Sukses Makmur dimana salah satu produknya POP MIE masih menggunakan styrofoam. Setiap kami melakukan aksi bersih – bersih kemasan POP MIE tidak pernah absen dari tumpukan sampah yang kami temukan, ujarnya.

Kami menyerukan kepada Indofood CBP Sukses Makmur untuk menghentikan penggunaan styrofoam atau kemasan sekali pakai yang tidak ramah lingkungan yang merusak alam dan bumi yang merupakan masa depan bagi kami generasi muda, imbuhnya.

The Antheia Project ke depan akan mengirimkan surat terbuka kepada perusahaan seperti Indofood CBP Sukses Makmur dan perusahaan – perusahan lain yang masih menggunakan styrofoam untuk menghentikan penggunaan wadah makanan tersebut dengan menggantinya dengan wadah yang ramah lingkungan. Mari kita ciptakan lingkungan yang bebas dari sampah untuk kehidupan generasi muda di masa mendatang”, kata Ruhani.

Ruhani menambahkan “The Antheia Project juga akan terus mengajak anak muda untuk lebih menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan dari rumah yaitu dengan mulai membiasakan diri memisahkan sampah. Selanjutnya kami juga akan melaksanakan kegiatan aksi bersih – bersih dengan tema Antheia Beach Clean Up Vol. 4” dimana dari kegiatan tersebut adalah aksi langsung turun ke lapangan sehingga para peserta aksi bersih – bersih dapat melihat realitas problem sampah khususnya sampah styrofoam yang merusak lingkungan. Perlu ditekankan lagi bahwa styrofoam adalah sampah abadi yang akan merusak lingkungan kita secara permanen” ujar Ruhani.

Dr. Ir. Novrizal Tahar IPM, Direktur Penanganan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK), mengatakan Pemerintah sangat mendukung dan mengapresiasi tentang kampanye #SayNoToStyrofoam. Kami akan support Beach Clean Up Vol. 4 pada 3 Desember mendatang. Semoga bisa memberikan pengaruh besar kepada publik, terutama kalangan generasi muda. Styrofoam juga masalah plastik yang paling sulit diurai. Terkait dalam konteks itu pemerintah sudah melakukan banyak hal tentang pengelolaan sampah plastik.

“Dalam hal kebijakan pemerintah memiliki kebijakan terkait pengurangan sampah plastik antara lain mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang penanganan sampah laut. Kami memiliki target ingin mengurangi sampah plastik 75 persen tahun 2025. Kami memiliki baseline data sampah plastik 2018 dan memiliki perhitungan sendiri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. Kami akan mendorong road map 2030 antara lain single use plastic bag yang di dalamnya membahas sedotan dan styrofoam. Perlu banyak dukungan perilaku masyarakat untuk mendukung ini. Apa yang dilakukan oleh The Antheia Project sejalan dengan visi dan kebijakan pemerintah tentang single use plastic” ujar Novrizal.

Dedhy Bharoto Trunoyudho, Co-Founder & COO Garda Pangan mengatakan pengalamannya dalam menangani masalah sampah, perlu peran semua pemangku kepentingan di sepanjang rantai pasok untuk mengatasi masalah banyaknya makanan yang terbuang. Mulai dari pemerintah yang memiliki peran sentral sebagai pihak yang berwenang membuat regulasi, sampai advokasi ke lingkup yang lebih luas agar masyarakat lebih sadar untuk bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan diri sendiri.

Ignatius Mario, Project Manager The Antheia Project dan Puspa Salsabila, Project Manager The Antheia Project dalam kesempatan ini juga memberikan edukasi tentang waste management. “Pengelolaan sampah merupakan aktivitas untuk mengelola sampah dari awal hingga pembuangan, meliputi pengumpulan, pengangkutan, perawatan, dan pembuangan, diiringi oleh monitoring dan regulasi manajemen sampah.”

The Antheia Project akan terus menggelar aksi positif ini hingga dapat menekan jumlah limbah di tanah air. Sehingga “Suistaenable Living” sebagai platform The Antheia bisa terwujud yang dimulai dari diri sendiri, pungkas Ruhani.(Red/Iw)

About Post Author