28 January 2023

Brand Manager Hoegaarden Indonesia, Kartika Erwanto (kanen) begitu bersemangat menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. (dok/sh.id)

SinarHarapan.id –  Orang Indonesia, meski tinggal di daerah tropis, kegemaran akan minuman bir, tak berbeda dengan mereka yang tinggal di wilayah empat musim.

Karena itu, hal ini pun dipelajari benar oleh sejumlah perusahan bir besar. Adalah perusahaan bir dan minuman terkemuka Anheuser-Busch Inbev yang lantas kembali memperkenalkan dua varian bir Hoegaarden, yakni Hoegaarden Onginal dan Rosée.

Kembalinya bir Hoegaarden ke Indonesia, ditandai dengan rangkaian event THE GAARDEN IS OPEN  di Lucy In The Sky, Senayan Park, Jakarta, Kamis (3/11/2022) sore. Peluncuran ini nantinya diikuti event-event berikutnya yang melibatkan kolaborasi dengan para key opinion leader (KOL) gaya hidup ibu kota.

Bir Hoegaarden adalah merek super-premium bir gandum asli Belgia yang telah dikenal dalam skala global, membanggakan resep sarat sejarah yang berasal dari tahun 1445 dan telah teruji oleh waktu. Bir ini diproduksi oleh Anheuser-Busch Inbev dari Belgia, yang telah menunjuk PT Mitra Indo Maju sebagai importir resmi dan ekslusifnya di Indonesia.

Pengakuan akan kualitas Bir Hoegaarden telah diakui dunia, diantaranya melalui penghargaan Piala Bir Dunia (World Beer Cup) yang merupakan pujian tertinggi di dunia bir. Sembilan kali memenangkan medali World Beer Cup, menjadikan Hoegaarden bir gandum Belgia yang paling banyak mendapatkan penghargaan dalam sejarah.

Dua varian bir  yang diperkenalkan kali ini adalah Hoegaarden Original dan Hoegaarden Rosée. Varian orginal memiliki kandungan ABV (alcoho! by volume) 4.9 persen dengan cita rasa unik dan kompleks. Bir putih ini memiliki gabungan rasa manis, asam, sedikit pahit, dilengkapi sentuhan rasa spicy dari ketumbar dan sensasi rasa jeruk.

Sedangkan Hoegaarden Rosée dengan ABV 3 persen, memang berwarna merah muda, namun merupakan bir gandum yang sebenamya. Selaras dengan warna cantiknya, varian ini menampilkan cita rasa serta warna lembut dari buah raspbemes.

Hoegaarden Rosée memiliki rasa manis alami dalam balutan aroma buah yang kaya, disertai sedikit sentuhan rempah dan ketumbar. Karena tidak difilter, bir ini hadir dalam warna yang khas dan hidup dengan rona merah muda hingga nuansa oranye terang.

Rangkaian event peluncuran Hoegaarden, THE GAARDEN IS OPEN, berkeinginan menginspirasi para pelanggan untuk mengambil jeda dari kesibukan sehari-hari, meluangkan waktu, dan menikmati jeda tersebut dengan santai.

Sementara itu, menandai perkenalan dua varian Bir Hoegaarden, Brand Manager Hoegaarden Indonesia, Kartika Erwanto menyatakan pihaknya merasa senang dan bangga memperkenalkan dua varian ini.

“Kami dengan senang hati memperkenalkan dua varian Hoegaarden, yaitu The Original dan Rosée yang menggabungkan Belgian Beer Heritage dan bahan-bahan berkualitas tinggi. Kami yakin kehadiran Hoegaarden akan memberikan warna dan pengalaman baru bagi pasar bir di Indonesia,” ujarnya, disela-sela peluncuran.

Sedangkan Dominic Kirk selaku General Manager Anhheuser-Busch Inbev Thailand, Filipina, dan Indonesia mengatakan sedang dan bangga menghadirkan kembali Hoegaarden di Indonesia.

“Kami sangat bersemangat dan bangga meluncurkan Hoegaarden di Indonesia. Ini adalah merek dengan sejarah besar dan rasa yang lebih nikmat. Hoegaarden dicintai oleh konsumen di seluruh dunia, terutama berkinerja sangat bak di Kawasan Asia di mana merek ini dkenal sebagai bir gandum nomor satu,” katanya melalui video conference.

Dominic melanjutkan,selama 25 tahun terakhir  merek ini telah diluncurkan di Cina  Asia Timur, India dan (hampir) semua wilayah Asia Tenggara, dimana para penikmatnya sering kali merupakan konsumen bir non-lager pertama yang pemah mencoba Indonesia adalah garde terdepan begi merek kami.

Dominic menambahkan Hoegaarden hadir dalam botol fevorit dan kemasan glassware ritual penuangan serta rasa yang tidak dapat dibandingkan dengan lager pada umumnya saat ini.

“Terlebih, kita berbicara tentang bir yang pertama kali diseduh sektar 600 tahun lalu oleh para barawan yang menerima buah-buahan dan rempah-rempah pertama yang d bawa di sepanjang jalur sutra yang menghubungkan Asia ke Belgia,” imbuhnya. “Dan tahun ini kami akhirnya membawa kembali beberape konteks sejarah itu dengan sentuhan modem,” tandasnya.  (non)

About Post Author