28 January 2023

Tingginya kasus diabetes tidak lepas dari kebiasaan mengonsumsi gula yang terus meningkat khususnya pada kalangan muda. Ini adalah sebuah peringatan bagi kita untuk bekerja keras menurunkan prevalensi diabetes.

SinarHarapan.id – Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan kasus diabetes tertinggi di dunia. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2021 bahwa ada sekitar 19,5 juta orang Indonesia berusia 20-79 tahun yang mengidap diabetes di Indonesia.

Tingginya kasus diabetes tidak lepas dari kebiasaan mengonsumsi gula yang terus meningkat khususnya pada kalangan muda. Ini adalah sebuah peringatan bagi kita untuk bekerja keras menurunkan prevalensi diabetes.

Hal ini disampaikan oleh Senior Manager Medical Underwriter Sequis dokter Fridolin Seto Pandu yang mengatakan bahwa prevalensi diabetes akan sulit ditekan jika masyarakat masih terus terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat.

“kebiasaan minum dan makanan manis dalam jumlah banyak dan rutin dapat membuat tubuh mengalami resistensi insulin, yakni sel-sel tubuh tidak mampu menggunakan gula yang masuk ke dalam tubuh karena terjadi gangguan respon insulin atau dikenal dengan prediabetes. Padahal, insulin berguna untuk membantu proses metabolisme gula darah. Jika tidak segera diobati maka dalam jangka panjang bisa menyebabkan penyakit diabetes dan penyakit komplikasi lainnya, seperti stroke, hipertensi, jantung koroner, dan disfungsi ereksi karena diabetes adalah ‘induk’ dari segala penyakit degeneratif,” UNgkapdr. Fridolin.

Mengurangi konsumsi asupan yang manis dan menjalankan pola hidup sehat adalah bentuk proteksi dari dalam agar terhindar dari masalah kesehatan yang bisa menggerus harapan hidup. Tubuh yang sehat akan memampukan kita beraktivitas, bersekolah dan bekerja demi mencapai kesejahteraan.

Namun, perlu juga kita pertimbangkan proteksi dari luar karena pertambahan usia tidak dapat dihindari. Artinya, kondisi tubuh kita nantinya akan semakin rentan. Demikian juga lingkungan yang semakin buruk dapat membuat tubuh terpapar polusi dan rentan terinfeksi virus, jamur, atau bakteri. Proteksi dari luar dapat dilakukan dengan berasuransi untuk menghindari tergerusnya tabungan dan aset akibat biaya yang besar untuk pengobatan medis.

Hal ini disampaikan oleh Head of Digital Channel Sequis, Antonius Tan yang ikut angkat suara mengenai fenomena prevalensi diabetes. Antonius mengatakan bahwa pengobatan diabetes sudah pasti berbiaya tinggi dan harus dilakukan secara berkelanjutan. Tanpa memiliki asuransi kesehatan maka finansial keluarga dapat terganggu dan bisa berdampak serius bagi kelangsungan hidup keluarga.

“Diabetes dapat ditanggung oleh asuransi kesehatan selama bukan kondisi bawaan lahir atau kondisi yang sudah ada sebelumnya. Mengingat risiko diabetes bisa terjadi pada siapa saja maka selagi sehat dan produktif lakukan proteksi dari dalam dengan mengubah gaya hidup dan lakukan proteksi dari luar melalui asuransi jiwa dan kesehatan,” sebut Antonius.

Jika kendala berasuransi karena khawatir soal premi maka solusinya adalah asuransi online karena premi cenderung lebih murah serta prosesnya cepat, mudah, dan efisien. Sebagaimana Super Easy Health Protection dari Super You by Sequis Online, preminya mulai dari Rp135 ribu per bulan sudah memberikan perlindungan kesehatan menyeluruh yakni biaya rawat inap serta rawat jalan sebelum dan sesudah rawat inap sesuai tagihan (as charged) dengan sistem cashless. Tersedia manfaat rawat jalan untuk kemoterapi, radioterapi, fisioterapi, terapi okupasi, hemodialisa, dan biaya rawat jalan darurat akibat kecelakaan dengan pertanggungan hingga Rp1 Miliar.

“Memperingati Hari Diabetes Nasional dengan melakukan proteksi dari dalam melalui gaya hidup sehat dan sejak dini lakukan proteksi dari luar dengan asuransi kesehatan demi menjaga kondisi finansial,” ungkap Antonius.

 

About Post Author