25 January 2023

SinarHarapan.id-Dalam beberapa tahun terakhir, fintech telah menjadi salah satu sektor yang paling berkembang dalam lanskap teknologi.

Menurut Survei FinTech Global PWC, pada tahun 2019, lebih dari 47% perusahaan jasa keuangan memasukkan Fintech dalam strategi masa depan mereka. Lebih banyak konsumen juga mengandalkan layanan digital untuk mengakses informasi keuangan mereka dan melakukan transaksi.

Fenomena tersebut telah menyebabkan pertumbuhan layanan fintech yang cepat. Institusi finansial konvensional pun turut mengadopsi tren ini untuk memperluas jangkauan layanan mereka melalui adopsi Open Finance dengan penerapan embedded finance, produk digital dan integrasi API.

Namun, memasuki tahun 2022, ekonomi global mulai mengalami penurunan yang diikuti oleh ancaman resesi. Imbasnya, perusahaan teknologi mulai mengalami pertumbuhan yang lebih lambat karena konsumen menunda pengeluaran mereka dan menyebabkan perampingan tim.

Product Tech Connect by Ayoconnect yang diadakan di ConnectLounge pada Kamis, 8 Desember kemarin ikut menyoroti tren, perkembangan, dan kasus penggunaan teknologi bersama profesional dari bidang produk, strategi, dan engineering dengan membahas peluang open finance, keberadaan neo bank dan bank digital, tech winter, dan inovasi pembayaran yang kian ramai.

Dalam tajuk “Uncovering Opportunities with Open Finance During the Economic Downturn”, acara ini mengundang sederet narasumber dari institusi perbankan Bank Neo Commerce dan NOBU Bank, pemain di industri ekosistem fintech Indonesia DANA Indonesia, AstraPay, Akseleran, hingga computing services dari Google Cloud.

Jakob Rost, CEO dan Founder Ayoconnect dalam keynote-nya memaparkan gambaran ekosistem fintech di 2022 dan prediksi di tahun mendatang.

“Saat dunia mulai pulih dari situasi ekonomi saat pandemi COVID-19, ekonomi global yang menurun kembali membawa kita semua untuk beradaptasi. Ini adalah momentum untuk menjalin dan menguatkan kolaborasi dengan berbagai sektor dan industri.” ujarnya.

Indonesia memiliki keunggulan pada masa tech winter di mana 179 juta orang memiliki smartphone, jumlah yang diperkirakan akan meningkat menjadi 239 juta pada tahun 2026. Angka ini diprediksi menjadi potensi sinergi antar pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri fintech mendorong kemajuan digitalisasi, khususnya untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Besarnya angka penetrasi pengguna internet dan smartphone merupakan peluang yang membuka lebar pintu kesempatan untuk mengoptimalkan kolaborasi antar sektor. Kolaborasi yang optimal tidak hanya mampu mempercepat inklusi keuangan, tapi dalam jangka panjang juga dapat menjanjikan proses pemulihan ekonomi nasional yang stabil dan berkelanjutan” pungkas Jakob.

Dalam salah satu sesi diskusi terbuka, AVP of Synergy Ayoconnect Achmad Syarifuddin menambahkan, “Kerja sama sinergis merupakan salah satu strategi untuk mengatasi tech winter di tahun 2023.”

About Post Author