28 January 2023

Sinarharapan.id- ITSEC ASIA, perusahaan penyedia jasa keamanan informasi terbesar di Asia Pasifik pada hari ini menggelar  ITSEC: Cyber Security Summit 2023 yang bertajuk “Cyber Attack Defense and Mitigation Strategy in the Era of Data Leakage” di JW Marriot Hotel, Jakarta. Acara ini menghadirkan para tokoh di bidang keamanan informasi dari berbagai industri untuk saling berbagi pengalaman, bertukar ide, dan mengulas tantangan yang ada dalam landskap keamanan siber di Indonesia, khususnya menyikapi peningkatan pesat jumlah serangan siber yang menyasar lembaga pemerintah, perusahaan serta masyarakat luas.

Hinsa Siburian, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam pembukaan ITSEC: Cybser Security Summit 2023 mengatakan, “Keamanan ruang siber nasional itu tidak bisa hanya satu bagian atau satu institusi tertentu, harus bersifat semesta dengan melibatkan semua komponen bangsa. Pemerintah harus berkolaborasi dengan pelaku bisnis dan akademisi dalam menjaga keamanan ruang digital.

Hinsa juga memaparkan bahwa data anomali traffic pada tahun 2022 hasil monitoring dari pusat operasi keamanan siber BSSN ada hampir 1 M atau 976 juta lebih ini anomali ancaman yang ada di ruang siber, seperti malware activity (56,84%), information leak (14,75%), trojan activity (10,90%), dan yang lainnya (17,51%).

Patrick Dannacher, CEO of StoneTree Group menjelaskan dalam sesi konferensi pers, Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat di Indonesia dalam berbagai sektor mengharuskan kita turut meningkatkan kesadaran akan urgensi dari infrastruktur siber yang tangguh, mulai dari sumber daya manusia yang kompeten, hingga sistem keamanan yang tepat. Meningkatnya isu keamanan siber membuat kita harus cekatan dalam membantu seluruh elemen di Indonesia untuk melindung diri dari setiap ancaman siber yang ada. Dimulai dengan mengedukasi masyarakat dalam memahami masalah yang terjadi, sehingga setiap orang dapat menjaga datanya tetap aman.”

Melalui event ITSEC: Cyber Security Summit 2023, ITSEC Asia berupaya memberikan kesadaran, pelayanan dan bantuan untuk membangun ekosistem sehingga dapat menciptakan ruang digital yang aman di kemudian hari. Hal ini diungkapkan oleh Andri Hutama Putra, President Director ITSEC Asia dalam sesi konferensi pers dengan mengatakan, “Seluruh pihak harus dapat bekerjasama secara konkret dan bergandengan tangan untuk saling membantu, baik BSSN, ITSEC Asia sebagai pelaku usaha, dan pemerintah Indonesia, untuk menjaga keamanan ruang lingkup digital di kemudian hari.”

Dunia digital tidak pernah berhenti berevolusi dan berkembang, begitu juga dengan ancaman siber yang semakin bervariasi dan beragam. Oleh karena itu acara konferensi ini membahas beragam tantangan utama yang perlu diwaspadai oleh institusi dan korporasi dalam lanskap keamanan Teknologi Informasi pada tahun 2023 dan tahun-tahun mendatang, antara lain:

Evolusi Kecanggihan Serangan Siber

Dengan munculnya teknologi generasi lanjutan seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligent), Cloud Computing, serta teknologi lainnya, penjahat siber menciptakan teknik yang lebih kompleks dan efektif yang diharapkan dapat jauh lebih berbahayamenjadi lebih canggih, dapat beroperasi secara mandiri, dan semakin sulit dideteksi.

Peningkatan Kebutuhan Akan Teknologi Digital

Meningkatnya penggunaan perangkat pintar menghadirkan konektivitas yang memungkinkan pemerintah, industri, dan masyarakat untuk mendorong produktivitas dan kemampuan mereka dalam beraktivitas. Pada tahun 2020, diperkirakan lebih dari 20 miliar perangkat IoT akan terhubung secara global. Penerapan kultur Hybrid Working yang telah diterapkan selama beberapa tahun ini dan diprediksi akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan juga menunjukan bagaimana kebutuhan masyarakat akan teknologi semakin tinggi menciptakan peluang besar bagi penjahat siber untuk mengeksploitasinya.

Infrastruktur Informasi Vital (IIV)

Dengan diberlakukannya Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2022 tentang perlindungan Infrasturktur Informasi Vital (IIV), para pemangku kebijakan perlu lebih serius dan waspada dalam menghadapi kemungkinan terjadinya kebocoran data atau pun kerugian lainnya yang diakibatkan oleh serangan-serangan siber. ITSEC: Cyber Security Summit 2023 ini diharapkan dapat menjadi sarana yang tepat dalam melakukan sosialisasi mengenai urgensi dari penegakan kebijakan IIV bagi para pemangku kebijakan cybersecurity.

Perkembangan Kesadaran akan Resiko Kejahatan Siber

Kejahatan siber tingkat tinggi baru-baru ini telah menyebabkan perusahaan di seluruh dunia mengantisipasi kemungkinan adanya kerentanan dan implikasi negatif pada bisnis mereka. Tahun lalu, total pengeluaran keamanan siber di Asia Tenggara diperkirakan mencapai USD1,90 miliar dan diperkirakan akan tumbuh hingga USD5,45 miliar pada tahun 2025. Saat ini juga banyak pihak yang menganggap penerapan sistem keamanan informasi yang canggih sebagai bentuk investasi jangka panjang yang dapat meningkatkan peluang sebuah perusahaan dan organisasi dalam bertahan dari serangan-serangan siber yang semakin gencar.

Andri Hutama Putra, President Director ITSEC Asia juga turut menyampaikan harapannya terhadap penyelenggaraan ITSEC: Cyber Security Summit 2023 ini,Sebagai perusahaan penyedia jasa keamanan informasi, kami harap acara ini dapat menjadi ajang bagi para pemangku kebijakan cybersecurity untuk saling bertukar informasi, ide, dan gagasan, serta memberikan wawasan yang dibutuhkan dalam membangun ekosistem keamanan informasi yang tangguh di Indonesia”, tutup

About Post Author