Digital Skills: Positif, Kreatif dan Aman di Internet

In Teknologi

Sinarharapan.id-Kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo menggelar webinar literasi digital mengenai “Jangan Asal Komentar, Kikis Ujaran Kebencian” di Bitung, Sulawesi Utara.(14/9/2021)

Program kali ini menghadirkan 887 peserta dan empat narasumber yang terdiri dari Blogger, Stephanie Hertanto; Founder Blod.id, Eko Nasaru; Direktur Pusat Kajian Indonesia Timur, Nur Allan Lasido; dan Kreator Konten, Cecillia Conellius.

Acara dimulai dengan sambutan video Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Stephanie Hertanto yang membawakan tema “Digital Skills: Positif, Kreatif dan Aman di Internet”. Dia menyampaikan, internet harus dimanfaatkan secara positif dan kreatif. Misalnya, menggunakan internet untuk mendapatkan penghasilan dengan menjadi dropshipper, membuat konten kreatif, hingga belajar atau kursus melalui internet.

Berikutnya, Cecillia Conellius menyampaikan materi “Jangan Asal Komentar, Kikis Ujaran Kebencian”. Menurut dia, teknologi bisa berpengaruh pada kesehatan mental generasi muda, salah satunya melalui penggunaan media sosial (medsos). “Medsos seakan menciptakan gaya hidup ideal yang sebenarnya tidak seindah kenyataannya. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi muda,” tuturnya.

Sebagai pemateri ketiga, Nur Allan Lasido membawakan tema “Digital Culture: Jangan Asal Komentar, Kikis Ujaran Kebencian”. Dia mengatakan, dalam masyarakat digital, identitas itu sifatnya cair dan berlipat-lipat. “Anda akan menjadi siapa tergantung di mana Anda mengakses dan apa tools atau aplikasi atau software yang digunakan. Bahkan, kita bisa memiliki lebih dari satu identitas, bisa mengubah nama. Maka, kaitan dengan keamanan digital, salah satu faktor penting adalah ketahanan atau keamanan identitas,” ujarnya.

Adapun, Eko Nasaru sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”. Dia mengingatkan bahwa jejak digital yang telah ditorehkan di internet atau medsos akan terekam selama mungkin. Untuk itu, penting untuk merawat jejak digital dengan selalu mengunggah hal-hal positif. “Usahakan jangan posting hal negatif. Seemosi apapun jangan posting karena bisa jadi bencana kalau bahasanya menyinggung orang lain,” tukasnya.

“Bagaimana cara memanfaatkan teknologi dengan baik agar tidak ke luar dari norma dan budaya?” tanya Syahrun Harahap, salah satu peserta kegiatan Literasi Digital. Stephanie Hertanto mengatakan, resepnya adalah selalu ‘think before act’. “Pikir dulu apakah kontennya itu patut dibagikan, bermanfaat, isinya benar, atau apakah kalau kita posting bisa berkaitan dengan hukum? Itu harus dipikirkan dulu sebelum membagikan sesuatu di medsos,” tandasnya.

You may also read!

Bakrie Amanah Gelar Khitanan 500 Anak Negeri

JAKARTA - Acara Pembukaan Program Khitanan sebagai bagian dari Festival Muharam Ceria 2021 diselenggarakan di Masjid Roosniah Al-Achmad Bogor,

Read More...

Penelitian Terbaru Mengenai Pengalaman Pelanggan (CX) dari NTT, Teknologi yang Digunakan dalam Pengalaman Pelanggan (CX) Menetapkan Dasar Baru

Sinarharapan.id-NTT Ltd. pada hari ini merilis Global Customer Experience Benchmarking Report (GCXBR) edisi tahun 2021, yakni sebuah survei tahunan

Read More...

PT Blue Bird Tbk Raih Penghargaan Asia’s Outstanding Company 2021

Sinarharapan.id-PT Blue Bird Tbk (Bluebird) sebagai penyedia layanan transportasi darat terdepan di Indonesia kembali meraih penghargaan. Kali ini, Bluebird dinobatkan

Read More...

Mobile Sliding Menu