Kuatkan Rupiah, PSI Usul Pajak Akuntan Dkk Dihapus

In Ekonomi
Rizal Calvary Marimbo, Juru Bicara PSI Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis. (Foto/Ist)

SinarHarapan.id – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendukung langkah-langkah penguatan nilai tukar rupiah. PSI mengusulkan agar pemerintah menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% disektor jasa.  “Selain pungutan sawit kemarin, kita usul langkah sederhana dan praktis berikutnya untuk menstabilkan rupiah, yakni PPN disektor jasa dihapus saja. Berbagai negara sudah menghapus untuk menaikkan pertumbuhan ekonominya, ” ujar Juru Bicara Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo di Jakarta hari ini.

Rizal mengatakan, sektor jasa merupakan salah satu penyumbang defisit neraca transaksi berjalan atau current account defisit (CAD). Dia mengatakan, neraca transaksi berjalan sektor jasa mengalami defisit sebesar US$ 1,78 miliar pada kuartal II/2018. Sebelumnya, sepanjang 2017, defisit sektor jasa menembus angka US$ 7,80 miliar alias naik dari 2016 senilai US$7,08 miliar.

Dua tantangan besar defisit yang kerap melemahkan rupiah yakni defisit transaksi berjalan  dan defisit neraca perdagangan. Sebab itu, untuk menahan laju defisit neraca ini, PSI mengusulkan penghapusan PPN sebesar 10 persen disektor jasa. “Jadi kita usul agar the milenials, profesional,  dan yang bergerak di sektor jasa-jasa akuntansi, keuangan, konsultan, call center, tenaga-tenaga IT, jasa digital expert, industri kreatif, desainer, arsitektur, dan sektor jasa dibawahnya tidak usah dipajaki lagi dengan PPN,” ucap Rizal.

Rizal mengatakan, apalagi sektor ini terbukti mampu menyerap banyak tenaga kerja. Bila diberikan insentif lebih besar, sektor ini juga mampu menciptakan banyak calon pengusaha-pengusaha kecil dan menengah baru yang dapat mempercepat laju ekspor. Sektor jasa ini juga banyak dipakai oleh pelaku usaha eksportir sehingga eksportir dapat memberikan harga yang kompetitif dipasar dunia.

Cabut DNI

Rizal mengatakan, pihaknya juga mendukung gagasan agar sektor jasa ini segera dikeluarkan dari Daftar Negatif Investasi (DNI). “Krisis 1998 sudah dua puluh tahunan berjalan. Tapi sektor usaha yang seksi dan prospektif ini masihnangkring di DNI. Kita juga heran. Apa susahnya, tinggal dicabut,” pungkas Rizal. Akibatnya, sektor ini tak mampu berkembang atau mencegah lajunya defisit transaksi berjalan yang berujung pada pelemahan rupiah.

Dia memberi contoh, setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden nomor 44 tahun 2016 yang mengeluarkan perfilman dari DNI, sektor ini tumbuh dengan pesat. “Kita juga harapkan pemerintah mengeluarkan Perpres mencabut sektor ini dari DNI,” imbuh Rizal.

Kontribusi sektor jasa sangat besar bagi penyerapan tenaga kerja. Pada 2000, penyerapan tenaga kerja sektor jasa dan terkait dengan jasa mencapai 35 juta orang (39%), sedangkan pada 2017 mencapai 60 juta orang (55%).  Berdasarkan data ISD (Indonesia Services Dialogue Council/ISD), kontribusi sektor jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2017 mencapai 54%, stagnan dari tahun sebelumnya. Namun, angka itu bertumbuh dari capaian pada 2000 sebesar 45%. Sementara itu, geliat industri jasa dan kontribusinya terhadap PDB nasional pada tahun ini, diperkirakan tumbuh 6,5% dari realisasi tahun lalu. (SH/EOS/RLS)

 

You may also read!

Suhadi Sesalkan Tanah Kliennya Dieksekusi Oleh Putusan yang Salah Alamat

SinarHarapan.id - Kepemilikan tanah oleh H Muhammad Yusuf Arsyad bin Jebing yang berlokasi di Jl Kebayoran Lama no 119 Rt

Read More...

Plaza MINI Bandung, Diler MINI Terbaru dan Pertama di Bandung

Sinarharapan.id-MINI Indonesia bersama dengan PT Plaza Auto Raya resmikan diler MINI terbaru dan pertama di Bandung, Plaza MINI Bandung. PT Plaza

Read More...

Tampilan Tangguh Mitsubishi New Pajero Sport Dengan Inovasi Mumpuni

Sinarharapan.id-Mitsubishi New Pajero Sport yang telah lama cukup dinanti pecinta otomotif tanah air, kini telah resmi hadir untuk pasar

Read More...

Mobile Sliding Menu