Legenda Tinju Alberth Papilaya Tinggalkan Asa dan Semangat Menjulang bagi Keluarga

In Berita Khas, Olahraga

Perwira Polisi itu ‘Menutup Mata’ di Ternate, Maluku Utara

SinarHarapan.id– Kelahiran, jodoh, dan maut adalah hak mutlak Yang Kuasa. Siapa pun manusia tentu tak kuasa menolaknya. Begitu pun dengan Florence ‘Jetty’ Nanere.

Perempuan asal Desa Awer, Kecamatan Sahu Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, yang selama 26 tahun menjalani tugas mulianya sebagai ibunda dua putra dan istri dari legenda tinju Indonesia, Kompol. Alberth Papilaya, memang harus lapang merelakan kepergian suami terkasih.

Kebersamaan Jetty dan Alberth berjalan kurang lebih 29 tahun dengan tiga tahun menjalani masa pacaran hingga hidup berumah tangga selama 26 tahun. Sebuah rentang waktu yang pasti jadi prasasti dalam jiwa.

Hingga Tuhan memanggil sang suami kembali kepadaNya setelah melewati perawatan intensif di IGD RSUD Dr. H. Chasan Boesoerie, Ternate, Maluku Utara, 18 April 2021 dini hari.

Tangis Jetty dan kedua putranya pun pecah di ruang IGD rumah sakit di Ternate, kala itu. Jetty tentu saja terpukul harus kehilangan sang suami yang masih aktif bertugas di Direktorat Samapta Polda Metro Jaya (PMJ) dalam dua tahun terakhir ini, sebelum dipindahkan dari Polres Metro Bekasi Kota.

Bagaimana mungkin Jetty dan kedua putranya Stevenson Papilaya (25) dan Sugar Ray Leonard Papilaya (21) tak terpukul. Dalam sekitar tiga tahun terakhir sebelum kepergiannya, Alberth benar-benar menjadi suami dan ayah terbaik bahkan sangat dekat dengan keluarga.

Tepat Rabu (15/9/2021), saat SH.id menemui Jetty dan Sugar Ray di Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, kami berbincang seru soal banyak hal. Bahkan, Jetty pun menceritakan kalau tepat 15 September ini, jika mendiang suaminya masih ada, ia akan genap berusia 56.

“Alberth itu sesungguhnya kelahiran 15 September 1965. Tapi, selama tinju usianya selalu dicantumkan lebih muda dua tahun. Dalam pemberitaan di media-media selalu ditulis kelahiran 15 September 1967. Jadi kalau ia masih ada, hari ini persis akan berulang tahun ke-56, bukan yang seperti selalu ada dalam pemberitaan selama ini,” ucap wanita 51 tahun itu sambil menyeruput kopinya, ketika itu.

Dari Piala Presiden Hingga Olimpiade

Ada yang mengembang dalam hatinya saat Jetty bercerita dengan senyum dan wajahnya yang sumringah. Ya, ibu yang kerap berpembawaan tomboy ini memang tahu persis kalau ia harus secepatnya bangkit, bersemangat demi meraih asa cemerlang di depan, bersama kedua putranya.

Jetty pun bercerita kalau melalui cabang tinju, Alberth bisa sampai pada karirnya sebagai Abdi Negara. Tak cuma itu. Serentang panjang prestasi telah direngkuh mendiang suaminya.

Mulai dari  prestasi di ajang Piala Presiden, 4 medali emas PON hingga prestasi internasional dengan 7 medali SEA Games (5 emas, 1 perak, 1 perunggu).

MENANG – Alberth Papilaya saat menang di Kejuaraan Dunia 1995 di Berlin, Jerman, saat itu Alberth lolos hingga delapan besar. (Dok/pribadi).

Tak cuma sampai di situ,  Alberth adalah satu dari tiga petinju Indonesia yang sampai di perempat final Olimpiade (Olimpiade 1992 Barcelona).

Dua petinju lainnya adalah Ferry Moniaga (Olimpiade Musim Panas 1972 Muenchen) dan La Paene Masara (Olimpiade 1996 Atlanta, Amerika Serikat).

Kelengkapan prestasi itu masih berlanjut saat menjadi pelatih, lalu pengurus tinju  sebelum kemudian berkarir sebagai Perwira Polisi. Sebuah perjalanan yang praktis membuat waktunya lebih banyak tersita untuk pekerjaan dan tinju ketimbang keluarga.

Ia misalnya pernah menempati posisi Kepala Unit II Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Bekasi Kota, Kepala Unit Reskrim Polsek Pondok Gede, Kepala Unit Provost Sie Propam Polres Metro Bekasi Kota, Wakil Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Bekasi Kota, dan terakhir ia menjabat Kepala Seksi Pasdal di Subdit Dalmas Direktorat Samapta Polda Metro Jaya.

Dalam tiga tahun terakhir, Alberth begitu dekat dengan keluarganya. Ia bahkan sehari-harinya menuju tempatnya bertugas di PMJ selalu minta diantar sang istri.

Di siang hari, keduanya makan bersama dan Alberth melanjutkan pekerjaan, hingga sore kembali ke rumah pun bersama. Di rumah, Alberth pun begitu dekat dengan kedua putranya sampai hal-hal kecil dari dua putra dewasa itu pun ia perhatikan.

Alberth misalnya kerap memasukkan uang jajan ke dompet dua putranya secara diam-diam, jika ia melihat dompet mereka sudah kosong. Begitu perhatiannya sang ayah kepada dua putranya itu.

Jika ada penugasan di luar sehingga tak perlu ke PMJ, Alberth lebih banyak minta ditemani sang istri dan putra sulung mereka, Stevenson, sementara Putra bungsu Sugar Ray sibuk dengan kuliah online-nya di rumah.

Kedekatan ini yang membuat mereka begitu terpukul, harus begitu cepat kehilangan panutan terbaik dalam hidup mereka. Jetty mengisahkan, Alberth memang mulai sakit sejak awal tahun 2021. Tapi, ia lebih banyak menyimpan rasa sakitnya.

Pasalnya, anak kedua dari lima bersaudara pasangan Thomas Papilaya dan Oktovina Soukotta itu masih dinas di PMJ seperti biasa, juga menjalani aktivitas sebagai suami dan ayah secara normal.

Meski terkadang lemah, Alberth tetap bersemangat dan bahkan kerap menunjukkan energinya yang luar biasa.

Semangat tinggi yang selalu ditunjukkan Alberth dalam sakitnya itu yang membuat Jetty pun termotivasi untuk lebih keras menyemangati suami terkasih.

TERASA – Kemesraan Alm. Alberth Papilaya dan sang istri begitu terasa dalam tiga tahun terakhir. (Dok/Pribadi)

Hal-hal kecil ia tunjukkan kepada Alberth agar terus menjaga semangatnya. Ia misalnya kerap membawa Alberth ke tempat-tempat kenangan yang sering mereka berdua datangi saat masih pacarana 20-an tahun lalu.

“Sangat jelas kelihatan Alberth bahagia dan terhibur di tempat-tempat memori kami. Semangat Alberth itu yang menjalari saya dan anak-anak hingga ia sudah pergi. Semoga semangat itu akan tinggal selamanya bersama kami,” tutur Jetty.

 Mindset Atlet Soal Bonus Harus Berubah

Di penghujung 2020, Alberth ikut mendukung Mayjen TNI (Purn) Komarudin Simanjuntak, hingga terpilih sebagai Ketua PP Pertina (Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir). Komarudin unggul dengan 18 suara, sementara petahana, Johny Asadoma hanya meraih 15 suara.

PP Pertina pimpinan Komarudin pun dilantik pada 18 Februari 2021. Alberth Ketika itu menempati posisi dibidang Teknik Kepelatihan. Semangat juangnya yang tinggi membuat Komarudin pun menempatkan Alberth sebagai Pelatih Kepala Pelatnas Tinju.

Tekad Alberth begitu besar ingin merubah goal dari tinju amatir nasional. Di suatu waktu, Alberth pernah bercerita kepada SH.id kalau ia sedih sekali melihat perkembangan tinju amatir belakangan ini.

Ia bahkan bilang, tinju amatir kini seperti mati suri. Hilang emas dari SEA Games dan sejumlah event internasional.

Di mata Alberth, tinju amatir seperti jalan di tempat. Karena itu, pria berpostur tinggi besar itu ingin sekali menularkan semangat 45 buat para junior. Alberth menginginkan para petinju bahkan seluruh atlet nasional berjuang demi NKRI.

Yang harus ditanamkan juga di otak para petinju, menurut Alberth, kalau berjuang di event internasional, bagaimana caranya agar Bendera Merah Putih bisa berkibar di negeri orang dan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang.

Itu pastinya akan menjadi kebanggaan luar biasa, melebihi apa pun. Ia juga sempat berkisah kalau di eranya, belum ramai bicara soal bonus dari pemerintah atau para pengusaha bagi para atlet yang meraih medali di event internasional.

Bonus itu sudah cerita yang kesekian. Alberth bilang, dulu mereka bertarung hanya demi NKRI, agar bendera kebangsaan bisa berkibar di negeri orang dan lagu kebangsaan Indonesia Raya jadi makin familiar di telinga bangsa lain.

Karena itu, ia tak mau atlet hanya memikirkan bonus dan bonus. Itulah yang menurut Alberth harus dirubah, agar rasa cinta tanah air bisa lebih besar lagi. “Mindset atlet soal bonus itu harusnya berubah dengan rasa cinta terhadap NKRI,” tutur Alberth ketika itu.

Setelah merebut sejumlah medali perunggu, perak hingga emas di kejuaraan lokal, Alberth melangkah ke SEA Games Malaysia pertama kalinya pada 1989 dengan hasil medali perunggu.

Sejak itu, dari SEA Games ke SEA Games, Filipina 1991, Singapura 1993 ia meraih medali emas, terpaut 1 medali perak di SEA Games Thailand 1995, lantas SEA Games 1997 di negeri sendiri, Alberth kembali meraih medali emas.

Emas berlanjut di SEA Games 1999 Brunei Darussalam dan SEA Games 2001 Malaysia. Hingga Olimpiade 1992 di Barcelona pun Alberth yang kala itu turun di kelas menengah 75 kg menyodok hingga babak perdelapan final.

Tolak Tawaran Oscar De La Hoya Karena Cinta NKRI

Setelah Olimpiade Barcelona 1992 itu, Alberth dan peraih medali emas kelas menengah asal Amerika Serikat (AS), Oscar De La Hoya pun diajak untuk hengkang ke tinju professional di AS.

BANGGA – Kompol. Alberth Papilaya yang selalu bangga dengan pekerjaannya sebagai seorang Perwira Polisi. (Dok/Pribadi)

Oscar yang memang berdomisili di AS pun menjadi jembatan untuk meminta Alberth hengkang ke AS. Bahkan, cerita Alberth dan beberapa orang yang ketika itu ikut ke AS, Oscar berbicara setengah memaksa. Oscar membeberkan sejumlah janji manis jika Alberth mau hengkang ke AS.

Tapi, kecintaan Alberth pada Indonesia dan keluarga tercinta di tanah air, juga pekerjaannya sebagai aparatur negara membuat ia menolak secara halus tawaran menarik itu.

“Saya punya istri dan dua anak, pekerjaan yang baik dan keinginan besar saya membina tinju di Indonesia yang membuat saya tak bisa menerima tawaran itu. Memang hati kecil saya saat itu sempat membayangkan bagaimana nikmatnya kalau saya bisa tinju di AS, tapi apa daya, hati saya tak bisa berbohong, saya sangat mencintai NKRI,” jelas Alberth kala itu.

Dan, prestasi Alberth juga yang membuat ia mendapat sejumlah penghargaan dari Presiden RI dan terakhir ia menerima penghargaan sebagai pelaku olahraga berprestasi pada peringatan Hari Olahraga Nasional 2020.

Perhatian Besar Direktorat Samapta PMJ

Semangat Alberth yang luar biasa itu yang kini jadi pegangan kuat bagi istri dan dua putranya dalam menjalani kehidupan selanjutnya.

Jetty mengaku bersyukur prestasi Alberth selama tinju dan hasil dari pekerjaannya cukup untuk membuat ia berpikir melakukan usaha dalam menjalani sisa hidupnya.

“Alberth pergi meninggalkan semangat juang luar biasa bagi saya dan anak-anak. Itu harapan besar bagi kami dan semangat itu yang harus kami lanjutkan untuk menggapai harapan di hari-hari selanjutnya,” cerita Jetty.

Tujuh bulan sudah berlalu sejak kepergian Alberth dan tepat Rabu (15/9/2021), Alberth berulang tahun ke-56. Pertama kali ulang tahun Alberth setelah kepergiannya meninggalkan istri dan anak-anak.

Meski sang suami sudah tiada, Jetty mengaku masih merasa Alberth selalu menjaga ia dan kedua putranya. Ia juga bersyukur kepada Direktorat Samapta, terlebih kepada Dir Samapta PMJ, Gatot Haribowo yang punya perhatian besar terhadap Alberth.

Padahal kepergian Alberth ke Awer, Maluku Utara di penghujung Maret itu, hanya sekadar jalan-jalan untuk penyegaran melihat kampung halaman.

Tapi, Jetty tahu persis itu sudah jalan yang diaturkan Tuhan. Pasalnya, selama hidup, Alberth selalu bilang ingin menjalani masa tuanya di kampung halaman bersama Jetty.

Sampai-sampai ia sudah pernah bertanya-tanya soal harga kapal motor yang bisa dipakai untuk menyusuri laut sambil mencari ikan. “Itu impian besar dan doa Alberth dimasa tua jika ia sudah pensiun dan tak dipakai lagi di tinju,” cerita Jetty.

DITEMANI – Florence ‘Jetty’ Nanere, istri almarhum Alberth Papilaya lebih sering ditemani putra kedua, Sugar Ray setelah kepergian sang suami. (SH.id/Nonnie Rering)

Alberth memang selalu merindukan masa-masa kecilnya di kampung. Terlebih bisa menyusuri laut sambil mencari ikan di pantai. Itu yang membuat Alberth selalu bahagia dan ingin secepatnya kembali ke kampung.

Dan, dalam keadaan masih sehat di penghujung Maret  2021 itu, Alberth pun mengajak Jetty jalan-jalan ke kampung halaman mereka berdua di Maluku Utara. Tak disangka, baru tiga hari tiba di Awer, Alberth jatuh sakit. Ia tiba-tiba tak bisa jalan.

Tapi, usaha masih tetap dilakukan dengan latihan jalan di rumah. Ternyata kondisinya tak kunjung membaik, hingga ia harus dilarikan dengan penyeberangan laut menuju rumah sakit di kota Ternate, Maluku Utara.

Tiga hari menjalani perawatan intensif RSUD Dr. H Chasan Boesoerie, Ternate, Alberth pun menghembuskan nafas terakhir. Dokter menyatakan ia terserang stroke.

Rasa sedih Jetty dan kedua putranya kala itu bisa terhibur dengan kehadiran dua rekan kerja Alberth dari Samapta PMJ yang diutus langsung oleh Dir Samapta PMJ, Gatot Haribowo, untukhadir langsung di pemakaman di Awer, Maluku Utara.

Suntikan semangat luar biasa sangat terasa dengan kehadiran langsung dua rekan kerja Alberth dari Polda Metro Jaya saat pemakaman itu. “Kami bangga, senang dan merasa lebih bersemangat karena merasa suami dan ayah anak-anak begitu dihargai dalam pekerjaannya,” jelas Jetty.

Belum lagi dari sejumlah pernyataan dari Ketua KONI Kota Ternate, Lukman Polii yang mengusulkan agar nama Alberth Papilaya dapat abadikan sebagai nama sasana maupun jalan khususnya di kawasan Sangaji, Kota Ternate.

“Pemerintah Daerah juga warga Ternate merasa kehilangan dengan kepergian petinju legendaris Alberth Papilaya. Almarhum adalah symbol atlet asal Maluku Utara yang berprestasi hingga tingkat internasional. Kami ingin Alberth selalu dikenang untuk membangkitkan semangat juang para atlet di kota Ternate, bahkan seluruh Indonesia. Harapan besar kami agar Alberth-Alberth muda segera lahir untuk mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional,” kata Lukman Polii.

Doa dan Semangat dari berbagai kalangan pun hingga saat ini masih terus dikirimkan kepada Jetti dan anak-anak. Hal ini membuat Jetty bangga pernah memiliki Alberth dalam hidupnya.

Tujuh bulan sudah berlalu sejak kepergian sang suami. Tapi, Jetty mengaku masih merasa Alberth terus mengikuti dirinya dan anak-anak. Ketiga disinggung, apakah terpikir mencari pengganti Alberth. Jetty dengan tegas menampik.

“Hidup sisa saya dan anak-anak, kami hanya bergantung kepada Tuhan. Saya percaya Tuhan terus pelihara kami. Tidak terpikir sama sekali untuk mencari pengganti Alberth karena semangat dan harapan yang selalu diberikan Alberth akan tetap berkobar dalam kehidupan saya dan anak-anak,” ujar Jetty yang juga membuka usaha dengan menyewakan sebidang tanah di samping rumahnya di kawasan Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat, menjadi lokasi kuliner dan tempat pencucian motor.

Sejumlah peninggalan dari sang suami tetap bisa jadi andalan bagi Jetty dan anak-anak.  Itu juga yang membuat semangat dan harapannya untuk terus mendampingi Stevenson dan Sugar Ray hingga sukses, terus menyala.

“Stevenson baru saja mulai bekerja bulan lalu, sementara Sugarray masih menjalani kuliah memasuki semester 6 di sebuah Universitas di Salatiga. Saya optimistis, Tuhan terus bersama saya hingga anak-anak memperoleh kehidupan yang layak kelak. Mohon doa dari semua, agar kami tetap bisa menjaga semangat dan harapan yang ditularkan Alberth untuk terus menyala selamanya,” tutup Jetty bersemangat.   (nonnie rering)  

You may also read!

Membuka Akses Air Bersih untuk Kehidupan yang Lebih Baik di Nusa Tenggara Timur

Sinarharapan.id-“Tidak terpikirkan sebelumnya saya bisa menanam sayur di tanah yang dulunya sangat kering. Ini layaknya mimpi,” ucap Roni Y.

Read More...

Aktifitas PTM Aman dan Menyehatkan Dengan Segala Persiapan dan Protokolnya bersama SoKlin Antisep

Sinarharapan.id-Pembelajaran tatap muka terbatas (PTM Terbatas) disikapi beragam di tengah masyarakat. Ada yang mendukung dengan syarat ada juga yang

Read More...

Kaspersky dan Para Pakar Bersama Perkuat Pertahanan Rantai Pasokan TIK di Asia Pasifik

Sinarharapan.id-Telah terjadi lompatan besar secara digitalisasi selama pandemi ini. Langkah-langkah keamanan siber kerap terlewat yang mengakibatkan beberapa serangan rantai pasokan

Read More...

Mobile Sliding Menu