Membendung Paham Radikalisme di Lingkungan Pemerintahan

In Eksposisi

Menteri BUMN Erick Thohir baru-baru ini menyatakan bahwa kementerian yang dia pimpin akan memperkuat proses internal untuk mencegah dan menangani masuknya paham radikalisme di lingkungan Kementerian dan perusahaan-perusahaan BUMN. Pernyataan Menteri Erick ini menyusul penangkapan seorang terduga teroris berinisial S yang merupakan pegawai PT Kimia Farma oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Republik Indonesia pada Jumat 10 September 2021.

Apa yang disampaikan oleh Menteri Erick semestinya juga menjadi semangat dari kementerian, lembaga pemerintah, dan lembaga negara lainnya. Sebab, beberapa waktu lalu kita juga dikejutkan oleh informasi dari Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebut bahwa ada 41 masjid dan musala di lingkungan kementerian, lembaga, dan BUMN yang disusupi oleh penceramah-penceramah pengusung radikalisme.

Jika kita melihat fenomena di lapangan atau setidaknya di media-media sosial, informasi BIN itu bukanlah isapan jempol. Kita tak jarang menemukan meme atau informasi yang menunjukkan para penceramah yang dikenal radikal ternyata berceramah di hari-hari besar keagamaan di lingkungan kementerian, lembaga, dan BUMN. Bahkan tak jarang sebagian mereka menggelar pengajian rutin yang diadakan oleh komunitas pegawai kementerian, lembaga, dan BUMN.

Artinya, meskipun berjumlah kecil, mereka yang mengusung radikalisme dan ekstremisme aktif menyusup ke kegiatan-kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian, lembaga, dan BUMN. Mereka biasanya memulai langkah mereka dengan cara-cara yang subtil. Pengajian mereka awalnya berisi akhlak atau fikih, dan nyaris sama sekali tidak menyentuh ideologi radikalisme dan ekstremisme. Namun, perlahan tapi pasti pengajian-pengajian mereka itu mulai menunjukkan tanda-tanda cara pandang yang eksklusif.

Eksklusivisme tersebut diawali dengan ceramah-ceramah tentang fikih yang semata berorientasi halal-haram dan surga-neraka. Mereka kemudian mengajarkan bahwa fikih yang berbeda dari mereka sebagai bid’ah. Tak cukup begitu, mereka mulai menghukumi kelompok masyarakat muslim yang mempraktikkan cara-cara yang berbeda telah keluar dari Islam atau kafir. Inilah takfirisme, yakni cara pandang yang menyisihkan yang lain dari suatu komunitas agama (eksklusif).

Lebih jauh lagi, ceramah dan pengajian mereka mulai memprovokasi orang untuk tidak hanya mengkafirkan yang berbeda tapi juga harus menghukumnya secara fisik di dunia. Di titik ini, ideologi radikalisme dan ekstremisme mulai beranjak dari tataran wacana ke praktik kebencian dan tindak kekerasan atau terorisme. Ideologi eksklusivisme tadi tidak hanya terbatas pada wacana melainkan telah dihubungkan dengan ancaman atau upaya pemusnahan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka dari bumi ini.

Radikalisme dan ekstremisme berbeda dengan sikap teguh memegang keyakinan agama. Seseorang yang konsisten menjalankan ajaran agamanya atau pemahamannya atas ajaran agama tidak selalu mengkafirkan yang berbeda dengannya. Dia menyakini bahwa pemahamannya benar tapi pada saat yang sama menolak untuk menyalahkan cara pandang orang lain yang berbeda. Dia juga masih membuka kemungkinan cara pandangnya mengandung kekeliruan dan cara pandang yang lain berpotensi mengandung kebenaran. Inilah sikap-sikap para sahabat Nabi dan ulama dalam sejarah peradaban Islam.

Ini yang sering disalahpahami oleh banyak orang. Ketika tidak menghakimi cara pandang orang lain, orang itu lantas disimpulkan tidak memiliki sikap atau pendirian.

Itulah kenapa ekstremisme keberagamaan adalah benih dari terorisme, terutama ketika ideologi ini bersentuhan dengan kepentingan-kepentingan sosial-politik yang memfasilitasi mereka. Sejarah mencatat bagaimana perpaduan, baik langsung maupun tidak langsung, di antara ideologi radikalisme dan ekstremisme dengan kepentingan sosial-politik telah memunculkan aksi-aksi kekerasan dan teror.

Maka, tak jarang pengajian atau ceramah kaum ekstremis mulai beranjak dari tema-tema yang awalnya hanya akhlak dan fikih ke tema-tema yang sarat muatan politik dan kekuasaan. Mereka mulai menghakimi secara serampangan pemerintahan, sistem politik, dan bahkan negara sebagai produk kekafiran yang harus dilawan dan dimusnahkan.

Ini bukanlah fenomena baru dalam sejarah Islam. Pada masa-masa awal Islam, dan bahkan tak sampai setengah abad setelah wafatnya Nabi, muncul kelompok Khawarij yang selalu mengusung konsep takfirisme tadi. Khawarij tak hanya memperlakukan sesama muslim yang berbeda dengan mereka sebagai kafir tapi, jika perlu, akan mencabut hak mereka untuk hidup di bumi ini. Sejarah kemudian mencatat bagaimana kelompok ini dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan sosial-politik tertentu dalam perebutan kekuasaan.

Menjelang hari-hari terakhirnya, Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang menjadi korban kekerasan Khawarij, sempat berwasiat kepada dua putranya: “Orang-orang ini (Khawarij) masih akan terus dilahirkan dari tulang-tulang sulbi ayah mereka.” Itu berarti kita masih akan mendapati problem takfirisme di tengah-tengah umat Islam.

Mengapa orang-orang, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi dan bekerja di kementerian-kementerian atau perusahaan-perusahaan BUMN, bisa terpapar oleh radikalisme dan ekstremisme?

Menurut saya, di tengah lingkungan hidup yang cenderung individualistik dan banjirnya informasi di era teknologi informasi, banyak orang tak lagi punya waktu dan energi untuk melibatkan pikiran yang mendalam dalam mencerna informasi yang membanjir itu, terutama dalam kaitan dengan informasi-informasi keagamaan. Akibatnya, orang saat ini mencari keyakinan-keyakinan yang simplistik dan instan sekaligus menjamin keselamatan akhirat. Keyakinan-keyakinan model seperti ini sulit didapat dari agamawan atau ulama yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan informasi yang berkualitas serta mendalam.

Maka, kebutuhan umat yang mengalami kebingungan dan disorientasi tadi dipenuhi oleh orang-orang yang membawa paham eksklusivisme, radikalisme, dan ekstremisme. Penceramah model seperti ini tak hanya mengklaim bahwa paham mereka adalah satu-satunya kebenaran tapi lebih jauh memastikan yang selainnya pasti salah sekaligus menyemai perasaan permusuhan dan ancaman pemusnahan terhadap semua orang di luar mereka.

Lalu, apa yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mencegah atau menghambat infiltrasi radikalisme dan ekstremisme?

Menurut saya, kita harus menghadirkan pemahaman keberagamaan yang lebih berdasarkan pada cinta daripada hanya hukum semata. Pemahaman keberagamaan ini menekankan pada pembinaan jiwa manusia agar terus mendekat kepada Tuhannya. Jika jiwa makin mendekat ke Pemiliknya, maka seseorang akan berdamai bukan saja dengan lingkungan sekitarnya tapi bahkan juga dengan dirinya sendiri.

Kondisi berdamai, baik dengan diri maupun selain dirinya, itu akan memberinya perasaan tenteram dan bahagia. Dia tak akan punya ambisi untuk memurnikan ajaran agama. Dia tak akan punya ambisi untuk menyeragamkan pemahaman atas ajaran agama. Sebab, hanya Tuhan yang bisa melakukan semua itu. Sebab, bagaimanapun, perbedaan dalam memahami ajaran agama merupakan suatu keniscayaan duniawi.

Jika radikalisme dan ekstremisme berporos pada eksklusivisme, kebencian, dan penggunaan kekerasan, maka pemahaman keberagamaan yang didasarkan pada cinta didominasi oleh sikap-sikap inklusif dan damai. Allah berfirman bahwa hanya jiwa-jiwa yang damai inilah yang bisa kembali kepada Diri-Nya. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. (QS. Al-Fajr: 27-28)

Pada akhirnya, semangat Menteri Erick untuk memperkuat proses internal di lingkungan Kementerian BUMN dalam mencegah dan menangani paham radikalisme yang bisa menjadi benih terorisme sudah seharusnya direplikasi di banyak kementerian, lembaga, dan BUMN. Pengajian dan ceramah keagamaan di lingkungan kementerian, lembaga, dan BUMN juga semestinya diisi dengan pemahaman keberagamaan yang didasarkan pada cinta, bersifat inklusif, dan menolak upaya-upaya penyeragaman dengan jalan kekerasan.(Penulis: Zulvan Lindan, Pengamat Sosial Keagamaan)

You may also read!

Membuka Akses Air Bersih untuk Kehidupan yang Lebih Baik di Nusa Tenggara Timur

Sinarharapan.id-“Tidak terpikirkan sebelumnya saya bisa menanam sayur di tanah yang dulunya sangat kering. Ini layaknya mimpi,” ucap Roni Y.

Read More...

Aktifitas PTM Aman dan Menyehatkan Dengan Segala Persiapan dan Protokolnya bersama SoKlin Antisep

Sinarharapan.id-Pembelajaran tatap muka terbatas (PTM Terbatas) disikapi beragam di tengah masyarakat. Ada yang mendukung dengan syarat ada juga yang

Read More...

Kaspersky dan Para Pakar Bersama Perkuat Pertahanan Rantai Pasokan TIK di Asia Pasifik

Sinarharapan.id-Telah terjadi lompatan besar secara digitalisasi selama pandemi ini. Langkah-langkah keamanan siber kerap terlewat yang mengakibatkan beberapa serangan rantai pasokan

Read More...

Mobile Sliding Menu