Penanganan Miopia Sejak Dini Agar Mata Tetap Sehat

In Health
Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) selaku Ketua Layanan JEC Myopia Control Care (Istimewa)

Sinarharapan.id-Situasi dan pandemi Covid-19 membuat siapapun membiasakan berinteraksi berjarak, salah satunya dengan melakukan beberapa kegiatan secara virtual.

Kegiatan belajar, bekerja, meeting sekalipun kerap dilakukan secara daring dan menyebabkan penggunaan gadget juga perangkat komputer atau laptop kian intens.

Keseringan bahkan memaksa kedua mata di depan layar gadget menyebabkan iritasi hingga gangguan penglihatan.

Secara tidak langsung pandemi COVID-19 memberi pengaruh pada penambahan kasus miopia.

Eye care leader di Indonesia, JEC Eye Hospitals & Clinics, meluncurkan layanan terbaru Myopia Control Care yang menghadirkan penanganan mata minus secara menyeluruh berdasarkan tingkatan kebutuhan pasien.

JEC menjadi institusi kesehatan mata pertama di Indonesia yang memiliki sentra khusus miopia. Tersedia perdana di Rumah Sakit Mata JEC @ Kedoya, layanan terbaru JEC ini menawarkan pilihan tindakan perawatan dan penanganan miopia yang ekstensif, dari terapi hingga tindakan koreksi berbasis laser (lasik).

Temuan WHO menyebut, sekitar 40% dari populasi dunia (3,3 miliar orang) akan menderita miopia pada 2030 mendatang. Lebih sedikit waktu di luar ruangan dan lebih banyak waktu menatap layar menjadi pemicu.

Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) selaku Ketua Layanan JEC Myopia Control Care (Istimewa)
Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) selaku Ketua Layanan JEC Myopia Control Care (Istimewa)

“Di samping genetik, faktor risiko miopia lainnya adalah gaya hidup. Tak bisa dipungkiri, pandemi COVID-19 mengubah perilaku masyarakat. Aktivitas di luar ruangan jauh berkurang, sementara kelekatan terhadap gawai berlayar semakin tinggi”, papar Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Ketua Layanan JEC Myopia Control Care (23/2/2021).

Anak-anak belajar jarak jauh secara daring, sedangkan kelompok dewasa juga bertumpu pada gadget untuk bekerja dan bersosialisasi. Artinya, semua kalangan usia semakin berpotensi terserang miopia,”  kata Dr. Gusti

”JEC melalui Myopia Control Care memudahkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan penanganan miopia secara menyeluruh. Dengan demikian, mereka bisa memperoleh perawatan yang tepat berdasarkan kondisi miopia yang diderita, serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing.” imbuhnya.

Jika tidak segera diatasi, miopia bisa menyebabkan komplikasi lanjutan seperti mata malas, katarak, glaukoma, dan retina lepas. Bahkan, sampai kebutaan. Karenanya, gejala miopia yang terkesan remeh (antara lain: sering memicingkan mata saat melihat, kesulitan memandang jauh ketika berkendara, sering mendekatkan mata ke layar TV atau ponsel, mata terasa lelah dan tegang, serta kerap mengucek mata) patut diwaspadai.

Pemeriksaan mata secara berkala (minimal 6-12 bulan sekali) menjadi kunci.

Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care (Istimewa)
Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care (Istimewa)

“Myopia Control Care mengedepankan integrasi antar sub-spesialis mata di JEC. Artinya, pemeriksaan dan penanganan terhadap pasien, baik yang sudah menderita miopia ataupun berpotensi mata minus, meliputi seluruh aspek mata. Dari sisi teknologi, layanan ini juga diperkuat alat diagnostik termutakhir: Pentacam® AXL, yang mampu mengukur seluruh data organ mata, seperti panjang bola mata, keadaan kornea dan ketebalan lensa,“ jelas Dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care.

“Dengan gabungan expertise dan teknologi JEC, melalui layanan Myopia Control Care, pasien akan mendapatkan pilihan dan rekomendasi tindakan lanjutan yang cermat guna mencegah progresivitas miopia mereka.” ujar Dr. Damara.

JEC Myopia Control Care menawarkan layanan dari tahapan awal: konsultasi dan screening mata secara komprehensif, hingga langkah-langkah treatment berdasarkan tingkatan kebutuhan dan usia (anak-anak hingga dewasa).

Mulai pemberian vitamin, terapi obat tetes mata, anjuran penggunaan kacamata yang terkustomisasi, terapi lensa kontak (Ortho-K, RGP Lens, Scleral Lens), sampai koreksi refraksi dengan LASIK/ReLEx® SMILE.

Ada juga, terapi lensa kontak khusus Ortho-K yang dikenakan pada malam hari untuk membantu pasien terbebas dari penggunaan kacamata selama aktivitas keesokan harinya. Ortho-K dapat digunakan pada semua usia, sejak usia 5 tahun sekalipun. Sementara, LASIK/ReLEx®️ SMILE – yang membutuhkan waktu tindakan hanya beberapa detik, disarankan bagi penderita minus tinggi berusia di atas 18 tahun,” tambah Dr. Damara Andalia, SpM.

Myopia Control Care telah beroperasi mulai 1 Februari 2021, bertepatan dengan hari jadi JEC ke-37. “Hingga hari ini pasien yang menggunakan layanan ini terus bertambah”, tutur Dr. Damara.

 

You may also read!

Suhadi Sesalkan Tanah Kliennya Dieksekusi Oleh Putusan yang Salah Alamat

SinarHarapan.id - Kepemilikan tanah oleh H Muhammad Yusuf Arsyad bin Jebing yang berlokasi di Jl Kebayoran Lama no 119 Rt

Read More...

Plaza MINI Bandung, Diler MINI Terbaru dan Pertama di Bandung

Sinarharapan.id-MINI Indonesia bersama dengan PT Plaza Auto Raya resmikan diler MINI terbaru dan pertama di Bandung, Plaza MINI Bandung. PT Plaza

Read More...

Tampilan Tangguh Mitsubishi New Pajero Sport Dengan Inovasi Mumpuni

Sinarharapan.id-Mitsubishi New Pajero Sport yang telah lama cukup dinanti pecinta otomotif tanah air, kini telah resmi hadir untuk pasar

Read More...

Mobile Sliding Menu