PKS Tetap Kawal UU Cipta Kerja

In Politik

SinarHarapan.id – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan tetap mengawal implementasi Undang-Undang Cipta Kerja yang telah disahkan belum lama ini. Sejak awal, PKS adalah Fraksi yang konsisten menolak Ciptaker sejak masih berbentuk RUU dan dibahas di DPR RI. Penolakan itu bukan tanpa alasan. PKS melihat, isi daripada UU Ciptaker lebih banyak merugikan pekerja.

“UU Ciptaker banyak sekali dampaknya pada pekerja. Kemarin saya diskusi di Jakarta Utara tentang perlindungan terhadap perempuan. Buruh perempuan itu sudah pasti sangat terdampak, yang biasanya dapat cuti haid sekarang jadi terkikis dan lain-lain,” kata anggota Komisi IX DPR RI Kuniasih Mufidayati dalam acara Ngobrol Santai dengan tema “ Nasib Buruh Antara Pandemi Berkepanjangan dan Penerapan UU Cipta Kerja,” di Jakarta Selatan, Senin (3/5/2021).

Saat ini, kata dia, pemerintah telah mengeluarkan beberapa Peraturan Pemerintah (PP) sebagai turunan UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Salah satu yang disinggung yakni terbitnya PP No. 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), Alih Daya, Waktu Kerja, Hubungan Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Dengan adanya PKWT tersebut, kata Mufida, tentu akan sangat berdampak signifikan terhadap pekerja Indonesia. Sebab sebelum keluarnya UU Cipta Kerja, termasuk PP turunannya seperti aturan PKWT, sudah banyak pekerja kena PHK di masa pandemi Covid-19.

“Data terakhir sekitar 4 jutaan pekerja di-PHK, pertumbuhan UMKM semakin menurun, 30 persen UMKM terdampak pandemi Covid-19, itu terjadi sebelum implementasi UU Cipta Kerja. Apalagi ditambah dengan UU Ciptaker, ini jadi tantangan pemerintah,” tegasnya.

Kini, UU Ciptaker telah disahkan dan beberapa PP telah diterbitkan sebagai turunan aturan UU tersebut. Meski telah berusaha menolak pengesahan UU tersebut, kini PKS berharap pemerintah tak berlaku semena-mena kepada para pekerja dalam negeri.

“Mudah-mudahan pemerintah tetap berpihak kepada pekerja, dan juga mencari titik temu. Harus ada komunikasi tripartit, itu sangat penting sekali,” tutup Mufida.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta Heber Lalo Simbolon menuturkan, PHK yang dialami pekerja tak bisa dilepaskan dari kondisi pandemi Covid-19 yang serba sulit. Covid-19 tak hanya merugikan buruh, melainkan juga kepada para pengusaha.

Ia memaparkan, sektor usaha yang paling terdampak Covid-19 adalah sektor pariwisata.

“Di bulan Januari (awal Pandemi 2020), hotel benar-benar sudah banyak yang tutup, mereka duluan mengalami derita ini. Sebagai pengusaha, pil pahit ini kita telan saja,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia sependapat dengan pernyataan Mufida terkait dengan pentingnya komunikasi tripartit antara organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah untuk mencari solusi terbaik.

“Saya berharap buruh bisa jadi saudara, bukan hanya sebagai mitra. Kami juga berharap tripartit bisa berjalan,” pungkasnya. SH/R

You may also read!

Junimart Girsang Kritis SK KLHK Sebagai Pemicu Konflik Sengketa Lahan Masyarakat

SinarHarapan.id  - Wakil Ketua Komisi II DPR, Junimart Girsang. Melaporkan persoalan konflik lahan yang terjadi pada sejumlah daerah di Indonesia,

Read More...

Tingkatkan Pemberantasan IUU Fishing Transnasional, KKP Gandeng Kerjasama Dengan Interpol

SinarHarapan.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus meningkatkan upaya pemberantasan aksi penangkapan ikan ilegal (IUU Fishing), dengan kerjasama

Read More...

DPR Desak Panglima TNI dan Kapolri Segera Tangkap Kelompok Teroris Bersenjata di Papua

SinarHarapan.id - Dalam rapat Paripurna DPR RI pembukaan masa sidang ke V, tahun 2020-2021. Ketua DPR Puan Maharani, mengungkapan lembaga

Read More...

Mobile Sliding Menu