SinarHarapan.id – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2024, situasi memprihatinkan diperkirakan masih akan berlangsung saat warga Gaza merayakan Idul Adha pada Minggu (16/6) besok. Pasalnya tentara penjajahan Israel (IDF) masih terus membombardir Jalur Gaza, menewaskan warga sipil dan memperluas bencana kelaparan. Hari yang mestinya penuh suka cita itu dibayangi kehancuran, kematian, dan kesulitan hidup akibat sembilan bulan tanpa henti serangan brutal penjajah.

Akibat serangan brutal Israel ke Palestina, total lebih dari 36 ribu warga Gaza tewas karena serangan Israel. Oleh sebab itu, Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) secara resmi menyerukan kampanye #IdulAdhaTanpaProdukGenosida. YKMI berpandangan masyarakat muslim Indonesia harus berkomitmen menjaga konsistensi dalam menghindari produk terafiliasi terutama dalam setiap kegiatan terlebih momentum hari besar Islam.

“Kampanye Idul Adha Tanpa Produk Genosida ini merupakan kelanjutan dari kampanye Ramadhan Tanpa Produk Genosida. Tak bosan-bosannya YKMI mengingatkan kembali kepada konsumen muslim Indonesia untuk tidak menggunakan produk-produk terafiliasi Israel selama melaksanakan ibadah haji dan momentum Hari Raya Idul Adha. Ini bentuk komitmen dan solidaritas kita (sebagai muslim) kepada rakyat Palestina,” ucap Direktur Eksekutif YKMI Ahmad Himawan dalam keterangan kepada awak media, Kamis (14/6) sore.

Seruan boikot ini perlu terus digemakan, karena saat mulai banyak pergerakan anti boikot dengan dalih akan menciptakan pengangguran dan menambah tekanan bagi dunia usaha.

Sementara, hal yang menjadi alasan boikot produk yaitu untuk melemahkan perusahaan terkait genosida. Cara ini akan efektif apabila dilakukan secara masif oleh masyarakat internasional, tidak hanya Indonesia. Dengan demikian, ekonomi Israel akan tertekan dan mau tunduk pada seruan PBB untuk gencatan senjata.

Di sisi lain, dengan perusahaan yang tidak terafiliasi akan terus berkembang dan membutuhkan tenaga. Sebab, aksi boikot ini bukan berarti daya beli menjadi turun, tapi konsumen akan menghentikan konsumsi atas suatu produk dan menggantikannya dengan produk lainnya yang sejenis yang tidak terafiliasi.

“Jadi dengan adanya boikot, bukan berarti konsumen mengalami kelesuan daya beli. Inilah yang menjadi momen transisi yang menguntungkan Indonesia, agar produk nasional dapat menjadi produk pengganti dan secara otomatis produk nasional pun akan berkembang. Sehingga perusahaan nasional bisa kemudian menyerap tengah kerja lebih banyak,” jelas Himawan.

Himawan pun kembali menyebutkan, “Inilah 10 merek produk yang dirujuk YKMI sebagai produk genosida. Kesepuluh produk tersebut antara lain Starbucks, Danone Aqua, Nestle, Zara, Kraft Heinz, Unilever, Coca Cola Group, McDonalds, Mondelez, Burger King, dan sejumlah produk Kurma Israel,’ ungkapnya, tercantum sebagai produk-produk yang terafiliasi Israel dalam situs boikot internasional: boycott.thewitness dan bdnaash.