SinarHarapan.id – Di sebuah sudut Desa Sidomulyo, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, air bersih mengalir lebih jernih dari biasanya. Bukan karena hujan turun lebih sering, melainkan karena sebuah teknologi yang selama ini bekerja jauh di bawah tanah—mengalirkan gas—kini dipinjam untuk melayani kebutuhan paling dasar warga desa: air.
Pada 17 Januari 2026, PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, memperkenalkan Program Pusaka Artha. Inisiatif ini sederhana dalam tujuan, namun tidak biasa dalam cara. Teknologi pigging, yang lazim digunakan di industri migas untuk membersihkan pipa gas, dimodifikasi menjadi teknologi tepat guna bagi pemeliharaan pipa air desa
“Pertagas membawa teknologi yang biasa diterapkan di industri migas sebagai solusi bagi masyarakat desa dalam membersihkan jaringan pipa air yang efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: Pertagas Raih 4 Penghargaan Internasional, Bukti Komitmen Dampingi Warga Desa
Proyek Percontohan
Pigging sendiri bukan barang baru di dunia energi. Di jaringan pipa gas, teknologi ini digunakan untuk membersihkan endapan, menjaga efisiensi aliran, sekaligus memastikan keselamatan. Di tangan para teknisi Pertagas, metode tersebut diadaptasi agar dapat bekerja dengan tekanan air pompa desa, mendorong alat sikat khusus, disebut pig, menyusuri pipa air tanpa perlu dibongkar.
Sebagai proyek percontohan, Desa Sidomulyo dipilih. Pertagas menerjunkan teknisinya langsung ke lapangan, sekaligus menggelar Workshop Pengenalan Inovasi Sistem Pigging di area Pamsimas RT 05. Warga tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi menyaksikan praktiknya secara langsung.
Hasilnya terasa segera. Dalam uji coba teknis yang dipandu oleh teknisi Pertagas, Deka, proses pembersihan pipa yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan hanya dalam 1–2 jam. Pengerjaan cukup dilakukan oleh satu hingga dua orang, tanpa perlu membongkar jaringan pipa.
Lebih Ringan dan Cepat
Perubahan ini kontras dengan kondisi sebelumnya. Ketua Paguyuban Pamsimas RT 05, Santo, mengenang betapa beratnya proses pembersihan manual. Seluruh unit pompa dan pipa harus diangkat ke permukaan, melibatkan tiga hingga lima orang tenaga kerja, dan menyita waktu hingga 6–8 jam. Karena berat dan melelahkan, pembersihan hanya bisa dilakukan sebulan sekali. Endapan lumpur pun kerap menyumbat aliran.
“Perbedaannya sangat terasa. Dulu, servis pipa terasa berat karena butuh gotong royong seharian. Sekarang prosesnya jauh lebih ringan dan cepat,” kata Santo. “Karena mudah, kami bisa membersihkan pipa seminggu sekali. Air yang sampai ke warga jadi lebih lancar dan jernih.”
Bagi Pertagas, keberhasilan kecil di Sidomulyo adalah cermin dari potensi besar transfer teknologi. Dengan keunggulan di bidang infrastruktur energi terintegrasi, perusahaan ini melihat ruang untuk menjembatani dunia industri dan kebutuhan desa.
Imam menegaskan, adopsi teknologi migas untuk kepentingan publik akan terus dikembangkan. “Kami berharap inovasi ini tidak hanya mendorong efisiensi pemeliharaan, tetapi juga menjamin keberlanjutan akses air bersih bagi warga,” ujarnya.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) Pertagas. Program Pusaka Artha berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta Tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Di Sidomulyo, teknologi migas tidak lagi identik dengan pipa raksasa dan proyek bernilai triliunan rupiah. Ia hadir dalam wujud yang lebih membumi, membersihkan pipa air desa, mempersingkat kerja warga, dan memastikan air bersih mengalir ke rumah-rumah. Dari energi untuk industri, kini energi pengetahuan itu mengalir untuk kehidupan.










