SinarHarapan.id-Perusahaan komoditas global Louis Dreyfus Company (LDC) menggandeng perusahaan inovasi pertanian Pandawa Agri Indonesia dan penyedia teknologi asuransi Blue Marble dalam mendorong praktik pertanian kopi regeneratif di Indonesia.
Kolaborasi ini bertujuan menciptakan ekosistem budidaya kopi yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Di Indonesia, LDC telah beroperasi lebih dari 25 tahun dengan menghadirkan produk berkelanjutan untuk masyarakat sekaligus mengekspor sumber daya alam komoditas pertanian ke pasar global.
Aktivitas perusahaan mencakup sektor hasil pertanian, kopi, refined casings, minyak kemasan, serta impor kapas, kedelai, dan gandum. LDC juga memiliki merek jus Montebello Juice asal Brasil yang diluncurkan tahun lalu sebagai produk B2C.
“Kami hadir di Jakarta, Balikpapan, dan Lampung. Kami terus bekerja erat dengan para petani untuk memastikan kualitas tanah, kualitas produk, keberagaman tanaman, serta hasil panen tetap terjaga dengan baik,” ujar Country Head of Indonesia LDC, Rajat Dutt, Kamis (12/2/2026).
Rajat menegaskan bahwa komitmen perusahaan tidak hanya pada bisnis komoditas, tetapi juga memberikan kontribusi kembali kepada komunitas dan bekerja dekat dengan masyarakat.
Pertanian Regeneratif: Memulihkan Tanah dan Meningkatkan Ketahanan Petani
Regional Program Manager Stronger Coffee Initiative LDC, Chintara Diva Tanzil, menjelaskan bahwa pertanian regeneratif bagi LDC merupakan pendekatan pengelolaan pertanian holistik yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Fokus utamanya adalah memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan biodiversitas, dan memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim. Melalui Stronger Coffee Initiative, kami memberikan pendampingan teknis, mendorong praktik rendah karbon, serta membantu petani bertransisi menuju sistem budidaya kopi yang lebih berkelanjutan dan produktif,” kata Chintara.
Menurutnya, pertanian regeneratif memiliki tiga pilar utama: pemulihan kesehatan tanah, peningkatan biodiversitas, dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Pendekatan ini mencakup berbagai praktik seperti penggunaan tanaman penutup tanah, konservasi lahan, rotasi tanaman, tumpang sari, penerapan pupuk organik, pengurangan pupuk dan pestisida sintetis, serta efisiensi irigasi.
“Regenerative agriculture berfokus pada kesehatan tanah sebagai fondasi utama budidaya. Tanah sehat memiliki biodiversitas tinggi, kehidupan mikro aktif, serta mendukung produktivitas kebun kopi,” imbuhnya.
Inovasi Pandawa Agri: Kurangi Ketergantungan Bahan Kimia
CEO Pandawa Agri Indonesia, Kukuh Roxa, menyampaikan bahwa perusahaannya menghadirkan inovasi pertanian berbasis bahan baku lokal untuk membantu mengurangi ketergantungan pada input kimia tanpa menurunkan hasil panen. Berdiri sejak 2014 di Banyuwangi, Pandawa Agri mengembangkan dan memproduksi sendiri berbagai produk inovasi dengan paten lokal.
“Hingga saat ini, teknologi kami telah berkontribusi pada pengurangan lebih dari 5 juta liter pestisida dan sekitar 17.500 ton emisi CO₂ di Indonesia dan Malaysia. Kolaborasi dengan LDC memungkinkan pendekatan yang lebih komprehensif agar petani dapat menerapkan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan sekaligus menjaga produktivitas dan keberlanjutan usahanya,” jelas Kukuh.
Pandawa Agri juga mengembangkan pupuk berimbang yang menyeimbangkan aspek biologis, kimia, dan fisik tanah, serta teknologi decomposer untuk mengelola limbah pertanian. Limbah panen kopi yang besar dikembalikan ke tanah melalui teknologi tersebut agar menjadi nutrisi dan mendukung transisi ke pertanian regeneratif.
Sejak 2021, inisiatif bersama petani padi dan kopi membantu mengurangi sekitar 2.000 ton CO₂ ekuivalen melalui pengelolaan air, nutrisi, dan pengurangan pestisida. Validasi lingkungan dilakukan melalui sertifikasi Green Label internasional serta perhitungan dampak berbasis data.
Blue Marble: Lindungi Petani dari Risiko Cuaca Ekstrem
Senior Analyst Southeast Asia Blue Marble, Rinaldo, menjelaskan bahwa perubahan cuaca kini menjadi risiko nyata bagi sektor pertanian, termasuk kopi. Melalui asuransi berbasis indeks cuaca, perusahaan memanfaatkan data satelit global untuk memantau kondisi iklim dan memungkinkan klaim diproses otomatis tanpa verifikasi lapangan.
“Kopi sangat terpengaruh dengan risiko kekeringan dan curah hujan saat pembuahan. Lalu saat panen, risiko curah hujan tinggi yang akan berpengaruh pada buahnya, pada bunganya, yang ujung-ujungnya memengaruhi tingkat produksi dari tanaman kopinya,” kata Rinaldo.
Bersama LDC, Blue Marble telah menyelesaikan pilot project asuransi parametrik cuaca pada Agustus–Desember 2025 di Lampung dan sekitarnya. Program ini diterapkan pada 18 demoplot kopi untuk membantu mitigasi risiko perubahan cuaca. Pendekatan ini tidak memerlukan pemasangan stasiun cuaca atau survei lapangan. Klaim dipicu secara otomatis ketika parameter cuaca tertentu tercapai, sehingga pembayaran langsung ditransfer ke rekening petani.
“Perubahan cuaca adalah hal yang pasti dan dampaknya sudah tidak bisa dihitungkan lagi, sehingga perlu ada proses mitigasi risiko, salah satunya adalah asuransi indeks cuaca,” tegas Rinaldo.
Testimoni Petani: Dari Frustrasi hingga Klaim Asuransi
Solihin, petani kopi dari demoplot LDC di Lampung Utara, mengaku sempat frustrasi pada tahun 2020 karena kondisi tanah yang gersang dan nyaris beralih menjadi petani kelapa sawit. Namun, kerja sama dengan LDC sejak 2022 mengubah pola pertaniannya.
“Dulu sekitar tahun 2020, saya sudah frustrasi. Saya sudah berpikir tanah ini tidak mungkin ditanami kopi. Saya berniat mau alih jadi petani kelapa sawit meski tanah saya sedikit. Tapi setelah kerja sama dengan LDC, ketahuan pH tanah saya hanya 5,3 sampai 5,6. Sedangkan pH tanah yang bagus untuk tanaman antara 6 sampai 7,” cerita Solihin.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan bahan kimia berlebihan menyebabkan ekosistem tanah rusak. “Sekarang terjadi longsor, khususnya di perkebunan kopi di dataran tinggi, karena daya serap air sudah tidak ada. Lalu tanaman penaung juga tidak ada,” tambahnya.
Petani kopi di Lampung Utara menerima berbagai dukungan dari LDC, termasuk program agroforestri dengan penanaman tanaman buah-buahan seperti alpukat, durian, dan jengkol sebagai pohon naungan. Solihin juga berterima kasih kepada Pandawa Agri yang membantu mengurangi penggunaan pestisida dari 100 persen menjadi 50 persen tanpa mengurangi efektivitas.
Terkait asuransi cuaca, Solihin mengungkapkan bahwa petani demoplot LDC telah menerima klaim asuransi. “Curah hujan yang paling ekstrem dari bulan Desember, Januari, sampai sekarang. Seperti matahari tidak akan muncul lagi. Pagi hujan, siang hujan, apalagi sekarang banyak hujan malam. Jadi berdampak sekali pada petani kopi, buah kopi kami rontok. Alhamdulillah, dari pihak asuransi cuaca, kami sudah ada klaim. Ini sangat membantu untuk mengatasi kerugian modal kami sebagai petani kopi akibat cuaca ekstrem,” ujarnya.
Petani lainnya, Taufiq, mendapatkan bantuan dari LDC berupa alat untuk membuat biochar. “Biochar itu sejenis arang. Orang-orang dulu kan kalau bikin kebun itu dibakar lahannya. Dampaknya luar biasa bagi kebun kita. Kita sekarang terapkan pakai arang itu. Arang itu menyimpan rongga-rongga untuk menyimpan air, untuk menyimpan nutrisi. Itu banyak manfaatnya,” pungkas Taufiq.




