SinarHarapan.id-Memperingati Hari Kartini, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) untuk berkembang menjadi gerakan nasional. Langkah ini diambil di tengah fakta bahwa setiap hari rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas—setara satu ibu setiap jam.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, salah satu tertinggi di Asia Tenggara. Selain itu, setiap tahun lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21.000 kematian (satu perempuan meninggal setiap 25 menit).
Ketua Umum Pengurus Pusat POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, menjelaskan bahwa SPRIN bukan sekadar program. “SPRIN adalah gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kesehatan perempuan adalah fondasi utama pembangunan bangsa,” ujarnya.(21/4)

Acara ini turut dihadiri Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan. Hadir pula perwakilan IDI, IBI, FISIP UI, Pegadaian, dan Kadin, menunjukkan dukungan lintas sektor.

Prof. Budi memaparkan empat hal: tingginya angka kematian ibu, mutu layanan yang belum merata, kesenjangan akses antarwilayah, serta rendahnya literasi dan kepercayaan masyarakat.
Sebagai langkah konkret, SPRIN mengusung 10 fokus utama, antara lain skrining DNA HPV dan vaksinasi HPV massal, edukasi kesehatan reproduksi remaja, suplemen multimikronutrien untuk ibu hamil, skrining Hb dan zat besi, cek kesehatan menopause, hingga program “Finansial Sehat untuk Reproduksi Sehat”.
Dan yang menjadi prioritas dari kesepuluh fokus tersebut yakni : suplemen multimikronutrien, skrining DNA HPV dan vaksinasi HPV massal dan “Finansial Sehat untuk Reproduksi Sehat”, tegas Prof. Budi.

POGI juga tengah mencangkan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) yang akan berlokasi di Rumah POGI Nasional sebagai pusat terpadu edukasi, layanan, dan pemberdayaan perempuan. Selain itu, akan dibentuk Satgas SPRIN untuk memastikan keberlanjutan program.
Kedepannya akan dibangun R-PRIN di beberapa kota di Indonesia, ungkap Prof. Budi.
SPRIN dijalankan dengan pendekatan pentaheliks (pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media). Inisiatif yang telah berjalan meliputi vaksinasi HPV di 10 titik POGI cabang, podcast, pemberian suplemen MMN, serta aksi penurunan AKI, AKB, dan stunting.
“Ketika perempuan mendapatkan akses edukasi dan layanan kesehatan yang baik, dampaknya pada keluarga, komunitas, dan masa depan bangsa. Menyelamatkan perempuan hari ini berarti menyelamatkan generasi masa depan Indonesia,” tutup Prof. Budi.



