SinarHarapan.id-Penyakit kardiovaskular masih menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Data menunjukkan hampir 800.000 jiwa melayang setiap tahun akibat serangan jantung dan stroke. Namun, di balik angka-angka itu, muncul fenomena lain yang tak kalah mengkhawatirkan: meningkatnya mobilitas pasien yang memilih berobat ke luar negeri.
Kondisi inilah yang mendorong Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) untuk bergerak lebih jauh. Melalui forum Editorial ASMIHA 2026 yang digelar di Jakarta, organisasi profesi ini mengajak seluruh pemangku kepentingan duduk bersama membahas masa depan layanan jantung tanah air. Forum bertajuk “Beyond Borders: Trust, Training, and the Future of Indonesian Cardiology” itu mempertemukan pemerintah, akademisi, penyedia layanan, hingga tokoh masyarakat dalam satu ruang diskusi.
Ketua The 35th ASMIHA 2026, dr. Amir Aziz Alkatiri, Sp.Jp(K), mengungkapkan bahwa pertemuan tahun ini diikuti lebih dari 2.500 peserta. Mereka terdiri atas dokter spesialis jantung, dokter umum, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Namun, yang membedakan ASMIHA tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah pendekatan multidisiplin yang diusung.
“ASMIHA tidak lagi hanya membahas perkembangan ilmu kardiologi, tetapi juga penguatan sistem layanan jantung Indonesia,” ujar dr. Amir. Mulai dari pendidikan dokter spesialis, pemerataan layanan, pembiayaan, hingga membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri, semua menjadi bahan diskusi hangat dalam forum tersebut.
Salah satu sorotan utama dalam diskusi adalah fenomena masyarakat Indonesia yang masih memilih berobat ke luar negeri. Dua kardiolog senior, dr. Muhammad Munawar, Sp.Jp(K), dan dr. Renan Sukmawan, Sp.Jp(K), PhD, menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan lagi semata-mata soal kemampuan klinis. Menurut mereka, kompetensi dokter jantung Indonesia telah mampu bersaing dengan standar global. Namun, ada faktor lain yang tak kalah penting, yaitu pengalaman pasien secara menyeluruh atau patient experience.

“Kualitas pelayanan tidak berhenti pada tindakan medis. Transparansi komunikasi, pelayanan yang humanis, proses yang mudah dipahami, serta pengalaman pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan merupakan bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan Indonesia,” jelas dr. Munawar.
Baca juga :Cegah Kematian Bayi Akibat PJB, PERKI Gandeng GE HealthCare Skrining Jantung Anak Usia Sekolah
Di sisi lain, keberlanjutan sistem pembiayaan juga menjadi perhatian serius. Mayjen TNI (Purn.) Dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.Jp(K), FIHA, MMRS, memaparkan bahwa meningkatnya beban penyakit jantung berdampak besar pada pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data BPJS Kesehatan mencatat biaya pelayanan penyakit jantung mencapai sekitar Rp12,1 triliun dengan sekitar 15 juta kasus pelayanan. Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi medis dan efektivitas biaya melalui kebijakan berbasis bukti atau Health Technology Assessment (HTA).
Ketua PP PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, Sp.Jp(K), PhD, menambahkan bahwa transformasi layanan tidak akan berjalan optimal tanpa memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan. Distribusi dokter spesialis ke daerah terpencil, menurutnya, wajib dibarengi dengan insentif layak, jenjang karier yang pasti, serta lingkungan kerja yang aman dan suportif.
Forum Editorial ASMIHA 2026 juga menghadirkan perspektif unik dari dua tokoh publik. Aktris senior Christine Hakim turut menjadi pembicara dalam sesi khusus, memberikan sudut pandang dari sisi keluarga pasien penyakit jantung sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antara dunia medis dan figur publik untuk meningkatkan kesadaran deteksi dini. Sementara itu, Dahlan Iskan, tokoh publik sekaligus pemerhati layanan kesehatan, berbagi pengalamannya sebagai pasien.
“Bagi pasien, rasa percaya dibangun dari pengalaman. Ketika pelayanan terasa manusiawi, masyarakat akan semakin yakin bahwa mereka dapat memperoleh pelayanan terbaik di negeri sendiri,” tutur Dahlan Iskan.
Melalui Editorial ASMIHA 2026, PERKI menegaskan bahwa masa depan kardiologi Indonesia harus melampaui batas-batas konvensional. Kolaborasi erat antara Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, institusi pendidikan, penyedia layanan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan ekosistem kardiologi yang mandiri, tepercaya, dan sejahtera.


