Gaya Hidup

Pementasan Memukau Home Sweet Loan The Musical Angkat Kisah Kaluna Gapai Rumah Impian

×

Pementasan Memukau Home Sweet Loan The Musical Angkat Kisah Kaluna Gapai Rumah Impian

Sebarkan artikel ini

Home Sweet Loan The Musical mengangkat perjuangan Kaluna mewujudkan impian memiliki rumah di tengah tekanan ekonomi, tanggung jawab keluarga, dan pencarian makna rumah sebagai ruang untuk pulang.

SinarHarapan.id - Sejumlah pemeran memperagakan adegan dalam Teater Musikal bertajuk Home Sweet Loan The Musical di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026). Setelah sukses diadaptasi ke layar lebar, novel karya Almira Bastari, Home Sweet Loan, kini hadir dalam format musikal melalui Home Sweet Loan The Musical. Pertunjukan yang digelar kolaborasi Visinema, Indonesia Kaya, dan Jakarta Art House tersebut akan dipentaskan sebanyak 23 kali pada 30 September–18 Oktober 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Foto: SHID/Ruht Semiono

SinarHarapan.id – Di tengah gemerlap lampu panggung, para pemeran Home Sweet Loan The Musical menghidupkan kisah tentang impian, keluarga, dan perjuangan menemukan tempat untuk pulang. Lewat lagu, dialog, dan gerak tari, panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026), menjadi ruang bagi penonton untuk menyaksikan pergulatan seorang perempuan dalam mewujudkan impiannya memiliki rumah.

Bagi Kaluna, rumah bukan sekadar bangunan dengan dinding dan atap. Rumah adalah impian yang terus diperjuangkan di tengah tuntutan keluarga, tekanan ekonomi, dan keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, ketika tanggung jawab terhadap orang-orang terdekat semakin besar, impian itu justru terasa kian jauh.

Kisah Kaluna yang sebelumnya dikenal melalui novel karya Almira Bastari dan diadaptasi ke layar lebar, kini menemukan bentuk baru dalam pertunjukan musikal. Melalui Home Sweet Loan The Musical, cerita tentang perjuangan generasi muda menghadapi mahalnya biaya hidup dan sulitnya memiliki hunian di perkotaan disajikan dengan pendekatan yang lebih dekat melalui seni pertunjukan.

Dipentaskan mulai 30 September hingga 18 Oktober 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pertunjukan ini merupakan kolaborasi Visinema, Indonesia Kaya, dan Jakarta Art House. Sebanyak 23 kali pementasan dijadwalkan untuk membawa perjalanan Kaluna lebih dekat kepada penonton.

Sebelum hadir dalam produksi musikal penuh, kisah tersebut lebih dahulu diperkenalkan melalui pertunjukan singkat Aku Kaluna di Galeri Indonesia Kaya. Perjalanan itu kemudian berkembang menjadi sebuah produksi panggung yang memadukan kekuatan cerita, musik, akting, dan koreografi.

Di bawah arahan sutradara Dinda Lisa Reideka, dengan naskah musikal karya Widya Arifianti dan Yemima Krisantina, karakter Kaluna hadir melalui dua interpretasi yang diperankan Kalya Islamadina dan Chintana Jo. Keduanya membawa karakter perempuan muda yang berusaha menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dengan kebutuhan untuk membangun kehidupan sendiri.

Kisah Kaluna menjadi cerminan kehidupan yang tidak asing bagi banyak anak muda, terutama mereka yang berada dalam posisi sandwich generation. Di satu sisi, ada keinginan untuk mandiri, memiliki rumah, dan menikmati hasil kerja sendiri. Namun, di sisi lain, terdapat tanggung jawab untuk membantu keluarga yang kerap kali mengharuskan mereka mengesampingkan kebutuhan pribadi.

Persoalan tersebut semakin terasa ketika harga properti terus menjadi tantangan bagi generasi muda. Rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat dan membangun kehidupan justru berubah menjadi impian besar yang membutuhkan perjuangan panjang. Di tengah kondisi itu, Kaluna harus menghadapi pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah antara memenuhi harapan keluarga dan memperjuangkan masa depannya sendiri.

Melalui perpaduan musik, dialog, dan koreografi, pergulatan tersebut diterjemahkan menjadi pengalaman panggung yang emosional. Sebanyak 11 pemeran lainnya dan 24 anggota ensemble turut menghidupkan cerita, didukung lebih dari 50 insan kreatif yang terlibat dalam produksi musikal ini.

Namun, Home Sweet Loan The Musical tidak semata-mata berbicara tentang perjuangan membeli rumah. Di balik impian memiliki hunian sendiri, tersimpan persoalan yang lebih mendasar tentang kebutuhan setiap orang untuk memiliki ruang aman, tempat mereka dapat beristirahat tanpa harus terus-menerus memenuhi harapan orang lain.

Kaluna mewakili mereka yang terbiasa menjadi tempat bersandar bagi keluarga, tetapi terkadang lupa bahwa dirinya juga membutuhkan tempat untuk bersandar. Perjalanan hidupnya mengajak penonton melihat kembali batas antara kasih sayang, tanggung jawab, dan pengorbanan. Sebab, mencintai keluarga tidak selalu berarti harus mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.

Dari panggung musikal ini, penonton diajak merenungkan kembali arti rumah. Apakah rumah hanya tentang kepemilikan dan kemapanan, atau justru tentang perasaan aman, diterima, dan memiliki kebebasan untuk menjadi diri sendiri?

Pada akhirnya, perjuangan Kaluna bukan hanya tentang mengumpulkan uang untuk membeli rumah. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan menemukan tempat bagi dirinya sendiri di tengah berbagai tuntutan kehidupan. Sebuah pengingat bahwa setiap orang berhak memiliki ruang untuk pulang, termasuk mereka yang selama ini selalu menjadi rumah bagi orang lain. Foto dan Teks: Ruht Semiono

Foto

SinarHarapan.id – Kisah cinta dan pencarian jati diri Kugy dan Keenan kembali menemukan bentuk baru. Setelah lama hidup di…