SinarHarapan.id-PT Yili Indonesia Dairy menegaskan komitmen pembangunan daerah luar Jawa. Perusahaan menggandeng BPOM RI dan sejumlah perguruan tinggi. Kolaborasi berlangsung lewat Program KKN Tematik Keamanan Pangan. Inisiatif ini menyasar kapasitas sumber daya manusia dan penguatan Usaha Mikro Kecil pangan.
Indonesia memiliki sekitar 65 juta UMKM. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto mencapai 61 persen. Sektor makanan dan minuman jadi penyumbang terbesar. Namun keamanan pangan masih menjadi persoalan serius di banyak daerah. Pembinaan dari hulu dibutuhkan agar produk UMKM naik kelas.
Yili Group dikenal sebagai perusahaan susu terbesar Asia. Peringkatnya masuk lima besar global. Melalui PT Yili Indonesia Dairy, perusahaan hadir lewat Greenfields. Konsumsi susu nasional hanya sekitar 16 liter per kapita per tahun. Angka itu jauh di bawah Malaysia dan rata-rata dunia.
Program KKNT Keamanan Pangan memberdayakan mahasiswa sebagai Fasilitator Keamanan Pangan dan Kader Keamanan Pangan. Sebelum diterjunkan ke desa, mereka menerima pembekalan teknis. Tugas mereka memberi edukasi dan pendampingan kepada masyarakat serta UMK pangan olahan. Pendekatan ini menjembatani teori kampus dan kebutuhan lapangan.
Presiden Direktur PT Yili Indonesia Dairy, Yu Miao, menyatakan kemajuan Indonesia perlu dibangun bersama dan merata. Perguruan tinggi berperan sebagai pusat pengetahuan dan pengembangan SDM daerah. UMK menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Yili ingin berkontribusi menciptakan dampak langsung bagi masyarakat di daerah.

Dukungan Yili disalurkan melalui program CSR. Dana digunakan untuk operasional mahasiswa di lapangan. Sebagian dialokasikan untuk pengadaan alat produksi sederhana bagi UMK binaan. Selain itu, Yili mendukung penyelenggaraan pameran hasil kegiatan KKN di desa. Dunia usaha hadir sebagai penguat program.
Program 2026 melibatkan lima perguruan tinggi. Universitas Mataram, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Tanjungpura. Universitas Mataram mendapat mandat pendampingan di sepuluh desa. Sebaran wilayah mencakup Jawa dan luar Jawa, dari Nusa Tenggara hingga Kalimantan.
Pembekalan mahasiswa mencakup lima kunci keamanan pangan di keluarga, sekolah, pangan siap saji, dan ritel. Materi lain mencakup Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga. Ada pula penyusunan SOP produksi, GAP Assessment dan CAPA, tata cara perizinan pangan olahan, serta pendaftaran NIB dan SPPIRT melalui OSS.
Maiser Syaputra, perwakilan Universitas Mataram, menyebut program ini memberi mahasiswa kesempatan mengimplementasikan pengetahuan sekaligus berkontribusi nyata. Mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pelaku UMK pangan. Fokusnya meningkatkan pemahaman keamanan pangan, proses produksi, serta pemenuhan aspek administrasi dan regulasi. Ia mengapresiasi dukungan mitra industri seperti Yili Indonesia.
Kolaborasi ini menegaskan pentingnya sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Program menjadi bagian Merdeka Belajar-Kampus Berdampak. Bagi Yili, keterlibatan ini mendukung penguatan ekosistem pangan nasional. Tujuannya pembangunan Indonesia yang inklusif, memberi ruang tumbuh bagi daerah luar Jawa. (*)




