Gaya Hidup

Awake Brain Surgery, Terobosan Bedah Saraf Indonesia yang Jaga Kualitas Hidup Pasien

×

Awake Brain Surgery, Terobosan Bedah Saraf Indonesia yang Jaga Kualitas Hidup Pasien

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Sebuah terobosan dalam dunia bedah saraf kini diterapkan di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Dokter spesialis bedah saraf subspesialis neurovaskular, Dr. dr. Mard’on Jahad, Sp.BS, Subsp.N-Vas, yang akrab disapa dr. Joy, secara rutin melakukan prosedur awake brain surgery atau operasi otak dengan pasien dalam keadaan sadar. Metode ini menjadi pilihan utama bagi pasien dengan tumor yang tumbuh di area eloquent, yakni wilayah otak yang mengatur fungsi bicara, gerakan tubuh, sensorik, dan pemahaman bahasa.

Berbeda dengan operasi otak konvensional yang menggunakan anestesi umum, awake brain surgery hanya memberikan anestesi lokal pada kulit kepala. Pasien tetap terjaga sepanjang prosedur pengangkatan tumor. Tim medis secara berkala mengajak pasien berbicara, menjawab pertanyaan, atau menggerakkan tangan dan kaki. Jika respons mulai melambat atau kaku, dokter segera menghentikan pengangkatan jaringan di area itu untuk melindungi fungsi neurologis permanen.

Dr. Joy menjelaskan bahwa jaringan otak sendiri tidak memiliki reseptor nyeri. Rasa tidak nyaman hanya berupa tekanan atau getaran. Jika pasien merasa cemas atau tidak nyaman, tim anestesi yang bersiaga dapat memberikan sedasi ringan sewaktu-waktu. “Tujuan utama bukan hanya mengangkat tumor semaksimal mungkin, tetapi juga mempertahankan kemampuan pasien berbicara, bergerak, dan merasakan setelah operasi,” ujarnya di sela pemaparan kasus di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Keunggulan metode ini terlihat pada sejumlah kasus. Salah satu pasien dengan tumor di area motorik dan oksipital berhasil menjalani operasi tanpa nyeri maupun kelemahan anggota gerak. Fungsi kognitifnya tetap utuh. Bahkan, pasien tersebut mampu berjalan mandiri keluar dari ruang operasi menuju ruang pemulihan. Pada kasus lain, fungsi bicara pasien membaik secara progresif setelah operasi. Hasil CT scan menunjukkan pengangkatan tumor menyeluruh (total removal). Kelemahan pada anggota gerak kanan dan kiri juga mengalami perbaikan signifikan hingga mendekati normal.

Prosedur ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Keberhasilannya bergantung pada kolaborasi erat antara ahli bedah saraf, dokter anestesi, dan dokter neurologi. Selain itu, tidak semua pasien tumor otak memenuhi kriteria. Mereka dengan gangguan kecemasan berat, epilepsi tidak terkontrol, atau tumor yang terlalu dalam di area non-dominan tetap memerlukan pendekatan berbeda.

Dr. Joy sendiri bukan nama baru di dunia medis Indonesia. Pada 2025, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai dokter dengan masa studi doktor tercepat di Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Universitas Helsinki, Finlandia, yakni hanya 18 bulan 12 hari. Ia menyelesaikan studi subspesialis skull-base surgery di Keio University Hospital, Jepang, serta clinical fellowship cerebrovascular microsurgery di Helsinki University Central Hospital, Finlandia.

Risiko tumor otak yang tidak ditangani sangat berat. Sekalipun jinak, tumor yang membesar dapat meningkatkan tekanan intrakranial, menyebabkan hidrosefalus, herniasi otak, koma, bahkan kematian. Dengan awake brain surgery, harapan untuk hidup berkualitas tanpa kehilangan kemampuan dasar sebagai manusia kini bukan sekadar mimpi.