Kesra

Bukan Sekadar Bengkel Sekolah, Ini Kisah Transformasi Pendidikan Vokasi di Kupang

×

Bukan Sekadar Bengkel Sekolah, Ini Kisah Transformasi Pendidikan Vokasi di Kupang

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Di Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, matahari masih harus terbit lebih pagi bagi puluhan siswa SMK Negeri 1 Takari. Mereka datang dari desa-desa pedalaman seperti Oesusu, Benu, dan Takari, menempuh puluhan kilometer setiap hari hanya untuk mengakses bangku sekolah kejuruan. Sebagian besar dari mereka adalah anak keluarga sederhana yang menggantungkan harapan pada ijazah SMK sebagai tiket keluar dari jerat ekonomi.

Namun, persoalan klasik dunia pendidikan vokasi menghadang: fasilitas praktik terbatas, minimnya alat peraga, dan metode pembelajaran yang belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan industri. Lulusan SMK kerap dipersepsikan “siap kerja”, tetapi kenyataannya banyak yang belum siap.

Sejak 2021, Yayasan Astra melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim masuk mendampingi SMKN 1 Takari. Bukan dengan memberi ikan, tetapi pancing dan cara memancingnya. Pendekatan bertahap dilakukan: penguatan karakter siswa, peningkatan literasi dan numerasi bagi 23 guru, hingga pendampingan teaching factory pada 2023 untuk mendekatkan praktik sekolah dengan dunia kerja nyata.

Hasilnya, lahir inovasi yang tak terduga. Di jurusan teknik kendaraan ringan, para guru dan siswa berkolaborasi mengembangkan alat simulasi pembelajaran, seperti sistem penerangan dan sistem starter kendaraan. Dari sanalah ide “Gaspol” muncul—sebuah aplikasi pembelajaran berbasis digital yang memuat materi pengenalan komponen, simulasi rangkaian, hingga kuis interaktif.

“Awalnya hanya ingin mengatasi keterbatasan alat praktik, tapi kemudian kami berpikir, kenapa tidak dibuat aplikasi saja biar bisa dipakai berkali-kali,” ujar salah satu guru pendamping.

Hingga kini, Gaspol telah dimanfaatkan oleh lebih dari 75 siswa dan menjadi bagian dari sesi pembelajaran praktik. Sebuah bukti bahwa keterbatasan bisa melahirkan kreativitas.

Dampak pendampingan mulai terlihat nyata. Sejumlah alumni SMKN 1 Takari kini tidak hanya bekerja di bengkel-bengkel otomotif, tetapi ada pula yang membuka usaha sendiri. Salah satu kisah paling inspiratif datang dari lulusan jurusan pengelasan. Ia pernah mengalami kesulitan akademik, namun kini sukses mengelola bengkel las milik sendiri.

Tak hanya itu, ia secara rutin kembali ke sekolah untuk menjadi penguji praktik bagi adik-adik kelasnya. Sebuah siklus pemberdayaan yang memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis pengalaman nyata.

“Kami ingin lulusan SMK tidak hanya mencari kerja, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Melihat alumni kembali ke sekolah sebagai penguji adalah kebanggaan tersendiri,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro.

Tidak berhenti di kelulusan, Yayasan Astra juga membuka akses pendidikan tinggi melalui kerja sama dengan Politeknik Astra. Setiap tahun, enam siswa kelas XII dari SMKN 1 Takari mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi beasiswa penuh. Ini menjadi jembatan emas bagi anak-anak desa yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya.

SMKN 1 Takari kini menjadi salah satu rujukan bagi sekolah kejuruan lain di Kabupaten Kupang. Dengan 322 siswa yang tersebar di lima konsentrasi keahlian—mulai dari kriya kreatif kayu dan rotan, batik, desain bangunan, teknik kendaraan ringan, hingga pengelasan—sekolah ini membuktikan bahwa mutu pendidikan tidak selalu tergantung pada kemewahan fasilitas, tetapi pada kolaborasi dan inovasi.

Kisah lengkap perjalanan ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube SATU Indonesia. Sebuah cerita tentang bagaimana tantangan geografis dan keterbatasan sarana berhasil diubah menjadi peluang, oleh tangan-tangan gigih para guru dan siswa di pelosok Nusa Tenggara Timur.