SinarHarapan.id-Masyarakat Indonesia kini dapat melakukan deteksi dini gangguan irama jantung secara mandiri melalui metode sederhana bernama MENARI, singkatan dari “meraba nadi sendiri”. Metode ini dinilai efektif untuk menemukan fibrilasi atrium, kondisi yang berisiko tinggi memicu stroke.
Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus dewan pengawas Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) atau Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa pemeriksaan nadi mandiri dapat menjadi langkah skrining awal sebelum masyarakat melakukan pemeriksaan medis lanjutan.
“Meraba nadi sendiri selama minimal 30 detik dapat membantu menemukan denyut yang tidak teratur. Itu tanda paling penting dari fibrilasi atrium,” kata Profesor Yoga dalam konferensi pers Pulse Day 2026 dengan tema “Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat” di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Cara Melakukan Metode MENARI
Penggagas metode MENARI itu memaparkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat:
- Letakkan dua jari (telunjuk dan jari tengah) di pergelangan tangan sisi ibu jari
- Rasakan dan hitung denyut nadi selama 30 detik
- Kalikan hasil hitungan dengan dua untuk memperoleh perkiraan denyut per menit
- Perhatikan keteraturan irama denyut selama proses perabaan
Profesor Yoga menegaskan bahwa denyut yang terasa tidak teratur, hilang timbul, atau berubah-ubah perlu diwaspadai. Masyarakat yang menemukan kondisi tersebut disarankan segera melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) di fasilitas kesehatan terdekat untuk konfirmasi diagnosis.
Bukan Alat Diagnosis, tapi Penyaring Awal
Meski efektif, Profesor Yoga mengingatkan bahwa pemeriksaan nadi mandiri bukanlah alat diagnosis, melainkan berfungsi sebagai penyaring awal. Sejumlah studi menunjukkan metode perabaan nadi mandiri memiliki kemampuan deteksi yang cukup baik jika dibandingkan dengan EKG sebagai standar konfirmasi medis.
“Deteksi dini diikuti pemeriksaan dan terapi yang tepat dapat menurunkan risiko stroke secara bermakna pada pasien fibrilasi atrium,” ujarnya.
Kampanye Pulse Day 2026
Metode MENARI menjadi bagian dari rangkaian kampanye Pulse Day 2026 yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan irama jantung melalui deteksi dini berbasis komunitas. Kegiatan ini melibatkan jejaring organisasi aritmia global dan nasional, termasuk Asia Pacific Heart Rhythm Society dan InaHRS, untuk memperluas edukasi skrining gangguan irama jantung.
Profesor Yoga menambahkan bahwa metode MENARI sangat relevan diterapkan di Indonesia karena mudah diajarkan, tidak membutuhkan alat khusus, dan dapat diimplementasikan di daerah dengan keterbatasan sumber daya kesehatan.
“Kami ingin masyarakat tidak perlu takut atau merasa kesulitan untuk memeriksa kesehatan jantungnya. Dengan metode sederhana ini, siapa pun bisa melakukan deteksi dini secara mandiri di rumah,” pungkasnya.
Fibrilasi atrium sendiri merupakan gangguan irama jantung yang cukup umum terjadi dan menjadi salah satu penyebab utama stroke jika tidak ditangani dengan tepat. Deteksi dini menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan komplikasi serius akibat kondisi tersebut.

