SinarHarapan.id – Rumah produksi Dunia Mencekam Studio bersama Santara resmi menggelar gala premiere film horor “Songko” di Metropole XXI. Film Songko, yang diangkat dari legenda masyarakat Minahasa, menghadirkan kisah kelam tentang ketakutan, tuduhan, dan kehancuran sebuah desa akibat kemunculan makhluk misterius yang mengincar darah suci perempuan muda.
Salah satu keunikan produksi Songko terletak pada pembangunan set yang dilakukan secara khusus di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Dari area yang sebelumnya masih kosong, tim produksi membangun sebuah desa lengkap sebagai lokasi utama cerita. Tidak hanya digunakan selama proses syuting, set tersebut hingga kini masih berdiri dan bahkan kerap dikunjungi oleh masyarakat yang penasaran, menjadi spot foto yang menarik sekaligus meninggalkan jejak nyata dari produksi film ini.
Selain itu, komitmen terhadap keaslian juga terlihat dari keterlibatan talenta lokal. Hampir enam puluh persen cast dan crew dalam film ini merupakan putra-putri Manado dan sekitarnya, menjadikan Songko sebagai ruang kolaborasi yang kuat antara sineas nasional dan kreator daerah.
Dalam proses riset, Santara juga melakukan pendekatan yang mendalam. Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, terlibat langsung dalam menggali akar cerita dengan melakukan wawancara kepada kepala adat, warga Tomohon, serta masyarakat Manado. Riset ini dilakukan untuk menentukan arah kreatif film, mulai dari visual sosok Songko, desain wardrobe, gaya bahasa, hingga atmosfer desa yang ditampilkan dalam film.
Pendekatan tersebut membuat Songko tidak hanya tampil sebagai film horor, tetapi juga sebagai representasi budaya yang kuat dan autentik.

Foto: Istimewa
Eksekutif Produser Santara, Whisnu Baker, menambahkan bahwa Songko merupakan bagian dari visi untuk mengangkat cerita-cerita daerah yang selama ini jarang tereksplorasi.
“Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat,” jelas Whisnu.
Sutradara Gerald Mamahit mengungkapkan bahwa film ini bukan hanya tentang menghadirkan rasa takut, tetapi juga tentang menggali sisi gelap manusia saat dilanda teror.
“Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan horor yang terasa dekat dan nyata,” ujar Gerald.
Bagi Annette Edoarda, pengalaman menonton kembali film ini di gala premiere justru menghadirkan rasa tegang yang berbeda.“Waktu syuting, kami sudah merasakan atmosfer yang berat. Tapi saat menonton di layar lebar bersama penonton lain, rasanya jauh lebih intens. Ada momen-momen yang bahkan membuat saya sendiri ikut merinding,” ungkap Annette.
Sementara itu, Imelda Therinne menyoroti sisi psikologis yang membuat film ini terasa semakin mencekam.“Horor di Songko bukan hanya soal sosoknya, tapi bagaimana ketakutan itu menyebar dan memecah hubungan antar manusia. Itu yang menurut saya membuat film ini terasa lebih dalam dan menegangkan,” kata Imelda.
Setelah Jakarta, rangkaian gala premiere Songko akan berlanjut ke Manado, sebagai bentuk penghormatan terhadap asal-usul cerita yang menjadi inspirasi film ini. Kehadiran film ini di tanah Minahasa diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi masyarakat yang telah lama mengenal legenda tersebut.
Berlatar tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, Minahasa, Songko mengisahkan teror yang dimulai dari kematian misterius perempuan-perempuan muda. Warga percaya bahwa makhluk bernama Songko telah datang untuk mengincar darah suci demi kekekalan.
Ketakutan pun berubah menjadi kepanikan.
Film Songko yang dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak, akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.


