Ekonomi

DEN Dorong Lompatan Riset Hortikultura dan Herbal demi Kemandirian Pangan

×

DEN Dorong Lompatan Riset Hortikultura dan Herbal demi Kemandirian Pangan

Sebarkan artikel ini

Sinergi sains, teknologi, dan kebijakan untuk masa depan pangan Indonesia

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: DEN)

SinarHarapan.id – Ketahanan pangan bukan sekadar angka produksi atau target impor. Ia adalah cerita tentang kemandirian, tentang tanah yang diolah dengan ilmu, dan tentang masa depan yang disiapkan dengan kesungguhan. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam rapat koordinasi yang dipimpin Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bersama Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta pimpinan lembaga riset nasional lainnya.

Pertemuan tersebut menjadi tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam retreat di Hambalang. Dalam forum itu, Presiden menegaskan bahwa riset tidak boleh lagi berjalan lamban dan terpisah-pisah. Kemandirian pangan, kata Presiden, hanya bisa dicapai jika riset bergerak cepat, terintegrasi, dan berpijak pada kebutuhan nyata bangsa.

Baca Juga: Luhut Dorong Revitalisasi Industri Tekstil dan Alas Kaki

Riset Tak Lagi Boleh Berjalan Sendiri

Dalam arahannya, Luhut menekankan bahwa pendekatan sektoral sudah saatnya ditinggalkan. Indonesia, menurutnya, membutuhkan orkestrasi besar lintas lembaga agar riset benar-benar menjadi penggerak perubahan.

“Presiden sudah sangat jelas. Tidak boleh ada lagi riset yang berjalan pelan dan sendiri-sendiri. Kita harus menyatukan kekuatan, dari BRIN, IPB, UGM, IT Del, hingga TSTH2. Jika semua bersinergi, lompatan besar untuk ketahanan pangan bukan sekadar harapan,” ujar Luhut dengan nada optimistis.

Ia menilai, kekuatan sumber daya manusia dan infrastruktur riset Indonesia sesungguhnya sangat memadai. Yang dibutuhkan kini adalah keberanian untuk menyatukan arah dan mempercepat langkah.

Mengembalikan Kejayaan Bawang Putih Nusantara

Salah satu fokus utama rapat adalah pengembangan riset bibit bawang putih unggul. Komoditas ini dipilih bukan tanpa alasan. Indonesia pernah mencatat sejarah sebagai negara swasembada bawang putih pada 1995, sebelum ketergantungan pada impor benih perlahan meningkat.

Melalui riset terpadu, pemerintah berharap ketergantungan itu dapat dikurangi, bahkan dihentikan. Bawang putih unggul hasil riset dalam negeri diharapkan menjadi simbol kebangkitan kembali pertanian hortikultura nasional—berakar pada pengalaman masa lalu, namun tumbuh dengan teknologi masa depan.

Sains, Teknologi, dan Pusat Kolaborasi Nasional

Rapat juga menyoroti pentingnya pendekatan riset berbasis sains dan teknologi mutakhir. Pemanfaatan superkomputer H200 dan B200, serta mesin genomik T7 terintegrasi, menjadi bagian dari strategi besar yang tengah disiapkan di kawasan TSTH2 (Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura).

Kawasan ini dirancang sebagai pusat kolaborasi nasional, tempat peneliti lintas disiplin bertemu, berbagi data, dan melahirkan varietas unggul hortikultura serta tanaman herbal. Di sanalah, harapan untuk menyatukan riset dengan kebutuhan lapangan mulai dirajut secara konkret.

Herbal Lokal dan Regulasi yang Berpihak pada Inovasi

Arahan Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya pembangunan Genebank nasional dan penguatan industri perbenihan di dalam negeri. Kehadiran Kepala BPOM dalam rapat menjadi penanda penting bahwa inovasi tidak hanya didorong dari sisi riset, tetapi juga dari kebijakan dan regulasi.

Dukungan terhadap pengembangan produk herbal lokal, serta upaya menjadikan regulasi lebih adaptif terhadap kemajuan sains, dipandang sebagai kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, melainkan hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat.

Dari Rencana Menuju Hasil Nyata

Sebagai penutup, DEN mendorong BRIN untuk segera menyusun peta kesesuaian lahan terpadu. Langkah ini penting agar setiap hasil riset dapat langsung diterapkan secara terarah dan efektif di lapangan, menjembatani jarak antara pengetahuan dan praktik.

“Semua ini adalah bagian dari Astacita Presiden Prabowo untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Saya berharap, saat Presiden berkunjung ke TSTH2 pada Oktober nanti, kita tidak lagi berbicara tentang rencana, tetapi sudah menunjukkan ekosistem riset yang hidup dan mulai menghasilkan,” pungkas Luhut.

Di tengah tantangan global dan perubahan iklim, langkah-langkah ini memberi harapan bahwa pangan Indonesia tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berdiri tegak di atas kekuatan riset dan inovasi anak bangsa.