Gaya Hidup

Film “Patah Hati yang Kupilih” Tak Hanya Soal Beda Agama

×

Film “Patah Hati yang Kupilih” Tak Hanya Soal Beda Agama

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Dalam Film Patah Hati yang Kupilih, Prilly Latuconsina dan Bryan Domani menggarap film ini tak cuma sebagai pemeran utama namun juga sebagai produser.

Kisah film ini angkat dinamika cinta rumit antara Alya dan Ben yang terhalang tembok perbedaan agama. Sinetron berjudul sama sebelumnya pernah tayang namun versi film ini hadirkan pembaruan cerita yang lebih dalam.

Alya dan Ben harus berpisah meski dari hubungan mereka telah lahir seorang anak. Perbedaan keyakinan dan absennya restu keluarga menjadi penyulit utama hubungan asmara mereka.

Waktu pun berlalu dan Alya menjalani hidup sebagai ibu tunggal dengan dukungan sang ibu, Rahma. Kehidupan baru Alya mulai terbentuk ketika Fadil hadir sebagai sosok yang diterima keluarganya. Namun kedatangan Ben kembali mengguncang pilihan hidup yang telah Alya jalani selama ini.

Film ini menawarkan perspektif yang lebih dewasa dibandingkan karya-karya sebelumnya dari rumah produksi Sinemaku Pictures. Sutradara Danial Rifki sengaja pilih pendekatan lembut untuk eksplorasi konflik batin para karakternya.

Ia yakin tema perbedaan yang diangkat sangat membumi dan relevan untuk penonton Indonesia. Produser Umay Shahab ingin film ini jadi bahan diskusi tentang kisah-kisah universal yang dekat dengan keseharian penonton.

Marissa Anita yang berperan sebagai ibu Alya mengaku karakter Rahma adalah sosok kompleks.  Sebagai ibu tunggal yang ditinggal suami, Rahma jadi sangat protektif terhadap kehidupan putrinya.

Pengalaman pahitnya sendiri yang membuatnya ikut campur dan tak merestui hubungan Alya dengan Ben.  Menurut Marissa, penolakan orang tua merupakan beban berat yang sering mengorbankan kebahagiaan anak.

Prilly Latuconsina tegaskan bahwa film ini tidak hanya seputar konflik beda agama belaka. Ia menyebut ada lapisan cerita lain seperti pola asuh keluarga dan perbedaan visi hidup yang turut diangkat.

Pengalaman memerankan Alya sebagai seorang ibu tunggal juga menjadi hal baru bagi Prilly dalam karier aktingnya. Ia berharap film ini dapat menjadi semacam diary atau wadah curhat bagi penonton yang memiliki pengalaman serupa.

Bryan Domani mengungkapkan karakter Ben membawanya ke dimensi hubungan cinta yang lebih dewasa dan jujur. Aktor yang juga menjalani hubungan beda agama di kehidupan nyata ini merasa kisah film ini sangat relatable. Ia berharap penonton dapat melihat proses kedewasaan sebuah hubungan melalui perjalanan karakternya.

Kolaborasinya dengan Prilly dalam produksi film ini juga memberi warna berbeda pada proses kreatif mereka.

Film yang dijadwalkan tayang 24 Desember 2025 ini menghadirkan konflik restu keluarga yang terasa menyesakkan. Adegan kontras ritual doa dalam teaser telah tunjukkan benturan dua keyakinan yang akan jadi inti cerita.

Dialog tegas dari sang ibu tentang batasan agama menjadi episentrum dari semua drama yang terjadi.  Hubungan Alya dan Ben digambarkan harus bernegosiasi dengan tekanan kultur dan tradisi yang lebih besar.

Patah Hati yang Kupilih hadir sebagai refleksi bahwa tidak semua cinta berhak dimiliki meski perasaan masih menggebu.  Film ini menyoroti pilihan-pilihan sulit yang harus diambil dan konsekuensi yang menyertainya.

Proses pendewasaan diri menjadi harga yang harus dibayar oleh setiap karakter dalam film. Pada akhirnya, pelajaran berharga tentang kehidupan dan cinta bisa diambil dari setiap luka yang dipilih.

Sinemaku Pictures percaya film ini akan menyentuh emosi penonton dengan visual cantik dan akting solid para pemainnya. Mereka berkomitmen menghindari penyederhanaan isu beda agama menjadi sekadar romansa murahan.

 Film ini justru fokus pada perspektif polos sang anak yang hanya ingin kedua orang tuanya bersama. Sinematografi apik dan pengolahan warna yang matang turut mendukung kekuatan narasi film ini.

Film Patah Hati yang Kupilih resmi akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 24 Desember 2025 mendatang. Publik kini bisa menantikan bagaimana akhirnya Alya memilih antara kembali pada masa lalu atau bertahan dengan kehidupan barunya.

Film ini diharapkan bisa mengajak penonton berempati dan berdialog tentang kompleksitas cinta di tengah perbedaan. Sinemaku Pictures menutup tahun 2025 dengan karya yang menjanjikan kedalaman cerita dan kualitas produksi.