SinarHarapan.id- Urban legend atau cerita rakyat menjadi hal menarik untuk di angkat ke film dengan kisah misterinya yang mencekam.
Salah satu film yang ditunggu-tunggu adalah Waru, adaptasi dari sebuah horor berbalut mitos, kearifan lokal, dan kisah-kisah yang konon benar-benar terjadi di tengah masyarakat.
Kepercayaan lama masyarakat Jawa menyebutkan bahwa sebagian pohon memiliki energi gelap, menjadi saksi bisu sebuah tragedi, bahkan pintu perlintasan makhluk tak kasat mata, salah satunya adalah pohon Waru.
Film Waru diproduksi oleh Adglow Pictures bersama Suraya Filem, Film Q, dan Megah Sinema Indonesia
Sutradara, Chiska Doppert mengungkap bagi masyarakat setempat keberadaan pohon waru besar dan berdiri lama memiliki sifat lembab dan angker.
“Waru itu punya kanopi yang sangat lebar, membuat area di bawahnya gelap, sejuk, dan lembap. Kondisi ini dalam kepercayaan masyarakat sering diasosiasikan sebagai tempat yang nyaman bagi makhluk astral karena minim cahaya dan relatif sunyi,” ucap Chiska Doppert di screening film Waru, XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan,Jumat (6/2) malam.
Film Waru tak sekadar menyajikan ketakutan, tetapi menghidupkan kembali cerita-cerita lama tentang pohon Waru yang tak boleh ditebang sembarangan, tempat orang hilang, kesurupan, hingga kematian misterius.
“Meski mengusung horor mitologis, Waru menekankan drama yang kuat, konflik emosional, dan plot twist tak terduga, menjadikannya bukan sekadar film horor, tetapi juga kisah tragis tentang manusia, dosa, dan warisan gelap yang tak pernah benar-benar mati,” jelas Chiska Doppert.
Lebih lanjut, Chiska Doppert yang dikenal lewat film-film horor dengan elemen klasik ini mengaku menghadapi tantangan yang berbeda.
“Biasanya saya mainnya pocong-pocongan, tapi di Waru ini beda. Pohon waru tidak hanya dijadikan media, tapi dibuat seolah ‘hidup’, punya dimensi psikis. Itu tantangan tersendiri buat saya,” ungkapnya.
Menurut Chiska, horor dalam Waru tidak hadir secara instan, melainkan dibangun melalui konflik, trauma, dan konsekuensi dari setiap tindakan karakter.
“Di sini hantu itu bukan cuma hadir buat menakut-nakuti. Semua ada sebab-akibatnya. Bahkan ada plot twist besar di bagian belakang cerita yang baru kebuka kalau penonton nonton sampai habis,” jelasnya.
Selain horor psikologis, Waru juga mengusung drama yang kuat dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak. Unsur moral menjadi fondasi utama dalam treatment cerita yang dikembangkan sejak awal.
“Unpredictable. Jadi penonton jangan setengah-setengah nontonnya. Harus sampai akhir biar tahu kebenaran ceritanya,” ujar Chiska.

Film ini mengambil lokasi syuting di tiga daerah di antaranya Bogor, Sukabumi, Solo. Chiska mengaku sengaja memberi ruang bagi wajah-wajah baru yang sebelumnya lebih dikenal lewat FTV dan layar kaca.
“Saya senang kasih warna baru buat penonton. Mereka ini sebenarnya sudah punya fans sendiri, hanya saja jarang tampil di layar lebar. Semua pemain juga tetap melalui proses workshop akting yang cukup intens,” ujarnya.
Meski proses produksi film telah rampung sejak 2025, film ini baru dirilis pada 2026 karena melalui tahapan pascaproduksi yang cukup panjang dan menantang.
“Kami sempat melakukan online editing dua kali karena ada kendala di post-production. Tapi semua itu bagian dari proses. Strategi rilis sepenuhnya ada di tangan produser,” kata Chiska.
Film ini dibintangi oleh Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Yatti Surachman, Josiah Hogan, Sharifah Husna, Dewi Amanda, dan Sean Mikhail.
Film ‘Waru’ dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 Februari 2026.

