SinarHarapan.id-JEC Eye Hospitals and Clinics memperingatkan masyarakat soal bahaya uveitis dan gangguan retina yang sering diabaikan.
Memperingati World Retina Day 2025 dan menyambut Inflammation Eye Disease Awareness Week, JEC menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat.
JEC menyebut mata merah dan penglihatan kabur bisa menjadi gejala uveitis—peradangan pada lapisan tengah mata yang berisiko merusak retina dan menyebabkan kebutaan.
Baca juga : JEC Hadirkan Prosedur RLE, Kembalikan Produktivitas dan Kualitas Hidup Penyandang Presbiopia
Uveitis dapat menyerang semua umur, terutama usia produktif. Studi menunjukkan 48–70% kasus uveitis tidak diketahui penyebab pastinya (idiopatik).
“Uveitis bukan sekadar mata merah biasa. Banyak pasien terlambat periksa karena gejalanya sering disangka ringan,” kata Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, Subspesialis Infeksi dan Imunologi Mata di JEC.(17/9)
JEC menjelaskan uveitis bisa menimbulkan komplikasi seperti glaukoma, katarak, dan kerusakan retina permanen.
JEC menekankan pentingnya penanganan menyeluruh dengan kombinasi pengobatan—mulai dari tetes kortikosteroid, cycloplegics, hingga imunosupresan dan antibiotik sesuai penyebabnya.
Sebagai pusat rujukan retina nasional, RS Mata JEC @ Menteng melayani kedaruratan retina 24 jam melalui JEC Retina Center.
Fasilitas ini dilengkapi 15 alat diagnostik berteknologi tinggi dan ditangani 11 dokter subspesialis retina.
“JEC Retina Center sudah menangani lebih dari 12 ribu pasien retina dan infeksi mata dalam tiga tahun terakhir,” ujar Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng.
JEC mencatat gangguan retina jadi penyebab utama kebutaan di dunia. WHO melaporkan 196 juta orang mengalami degenerasi makula, dan 146 juta menderita retinopati diabetik.
Di Indonesia, prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1%.
JEC terus mengedukasi masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala mata merah dan penglihatan kabur, serta mengimbau masyarakat segera konsultasi ke dokter mata jika mengalami keluhan serupa.

