SinarHarapan.id – Bulan Suci Ramadhan yang identik dengan nilai kesederhanaan sering kali kontras dengan realita di lapangan, di mana penggunaan air rumah tangga justru melonjak tajam. Fenomena ini mendorong PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) bersama LAZNAS Al-Azhar untuk menggaungkan edukasi penghematan air sebagai bagian dari ibadah.
Dalam acara “Ngopling” (Ngobrol Peduli Lingkungan) yang digelar di Jakarta (11/3), Laboratorium Manager PPLI, Muhamad Yusuf Firdaus, menyoroti kebiasaan mencuci masyarakat. Penggunaan detergen dengan busa melimpah dinilai merusak ekosistem sungai.

”Tumpukan busa di sungai menghalangi sinar matahari dan oksigen masuk. Akibatnya, biota air terganggu, mati, dan memicu pendangkalan,” jelas Yusuf. Ia juga menyentil perilaku boros air saat berwudhu yang sering kali menggunakan debit air maksimal layaknya sedang mandi.
Data Mengejutkan Penggunaan Air Wudhu
Supervisor Environmental Database and Program PPLI, Irfan Maulana, memaparkan data bahwa rata-rata orang menghabiskan 2,9 hingga 5 liter air setiap kali wudhu. Padahal, sesuai sunnah, wudhu hanya membutuhkan sekitar 0,5 hingga 0,7 liter air.
Sebagai perusahaan pengelola limbah, PPLI telah mempraktikkan efisiensi ini dalam skala industri. Sejak 2025, PPLI telah mengelola sekitar 225 ribu meter kubik limbah melalui metode kimia-fisika, evaporator, dan biologis.
”Sekitar 99 ribu meter kubik air hasil olahan limbah kami gunakan kembali untuk operasional internal, seperti mencuci kendaraan pengangkut. Ini adalah wujud nyata komitmen kami terhadap sirkularitas air,” tambah Irfan.

Mendorong Konsep 3R Berbasis Masjid
Senada dengan PPLI, Direktur LAZNAS Al-Azhar, Iwan Rahman, menilai faktor kultur menjadi penyebab utama pemborosan air di Indonesia. Melimpahnya sumber daya membuat masyarakat kurang memiliki sense of crisis dibandingkan saat berada di wilayah gurun.
”Desain kran di mayoritas masjid kita juga mengeluarkan debit yang terlalu besar. Kami mendorong implementasi 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berbasis masjid,” ujar Iwan. Ia mencontohkan program di Muara Enim, di mana air bekas turbin listrik dimanfaatkan kembali untuk pengairan sawah dan perkebunan warga.
Sinergi ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat bahwa menjaga kelestarian air bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan ladang pahala yang harus disisipkan dalam setiap aktivitas keagamaan.






