SinarHarapan.id – Di balik hiruk-pikuk agenda olahraga internasional yang kerap sarat angka dan target, sebuah konser amal lahir dari ruang yang lebih sunyi: hati. International Charity Concert 100 CTFP (ICC 100 CTFP) disiapkan tanpa anggaran, tanpa sponsor besar, dan tanpa pamrih komersial. Yang menjadi bahan bakarnya hanyalah empati.
Indonesia menjadi negara pertama yang dipercaya menggelar ICC 100 CTFP. Konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan perpanjangan dari gerakan global 100 CTFP, sebuah inisiatif kemanusiaan yang menghadirkan pesan-pesan moral dari tokoh dunia bagi atlet difabel di berbagai belahan bumi.
Gerakan ini memiliki simbol sederhana namun kuat. Tiga pesan utama dari setiap tokoh dunia dituangkan dalam kartu berwarna merah. Warna itu dipilih sebagai lambang kasih, keberanian, dan kepedulian kepada atlet paralimpik yang selama ini berjuang dalam keterbatasan, namun terus melampaui batas.

Merangkai Kepingan yang Tercecer
Bagi Natalia Tjahja, pencetus 100 CTFP dan ICC 100 CTFP, perjalanan ini terasa seperti merangkai kepingan yang tercecer. “Ini sebuah puzzle. Saya harus mencari siapa saja orang-orang beautiful heart yang dipilih Tuhan untuk menjadi bagian dari ICC 100 CTFP, karena semuanya dilakukan dengan anggaran nol,” ujarnya.
Dukungan datang dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya dari Majid Rashed, Presiden Asian Paralympic Committee, yang juga berperan sebagai figur sentral Asian Para Games Aichi–Nagoya 2026. Ajang olahraga difabel terbesar di Asia itu dijadwalkan berlangsung pada 18–24 Oktober 2026.
Dalam tiga pesannya untuk ICC 100 CTFP, Majid Rashed menempatkan atlet sebagai fondasi utama gerakan paralimpik. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan atlet bukan sekadar visi, melainkan janji masa depan. Keberhasilan sejati, menurutnya, tidak hanya tercermin dari medali, tetapi dari sistem yang dibangun bersama. “Karena bersama, kita lebih kuat,” pesannya.
Ruang Apresiasi
Konser amal ini juga menjadi ruang apresiasi. Sebanyak 27 tokoh Indonesia akan menerima “100 CTFP Card of Honor”, penghargaan bagi mereka yang dinilai berjasa mendorong kemajuan paralimpik dari berbagai sektor.
Nama-nama tersebut datang dari latar yang beragam: Raja Sapta Oktohari selaku Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Harnoto Darsono sebagai Ketua Umum Perkumpulan Insan Maritim Andalan Indonesia (PIMA), Muhammad Jufri Sakka dari Marriott Business Council Jakarta, hingga para seniman dan budayawan seperti Dwiki Dharmawan, Ita Purnamasari, dan Didi Budiardjo.
Seni menjadi bahasa universal dalam ICC 100 CTFP. Sebuah lukisan berjudul From the Heart karya Maki Starfield, pelukis juara dunia asal Jepang, turut dihadirkan sebagai simbol visual gerakan ini.
“Saya memberikan lukisan tersebut kepada Bapak Harnoto Darsono selaku Ketua Umum PIMA Indonesia. Lukisan From the Heart ini akan menjadi pembuka 100 CTFP di Jepang, sekaligus bentuk dukungan bagi Asian Para Games Aichi–Nagoya 2026,” kata Natalia.
Pembukaan ICC 100 CTFP akan diawali dengan tiga pesan dari Andrew Parsons, Presiden International Paralympic Committee, organisasi yang menaungi 185 negara. Acara ini juga akan dibuka secara resmi oleh Jenderal Wandee Tosuwan, Sekretaris Jenderal ASEAN Para Sports Federation, bersama Natalia Tjahja.
Bagi Natalia, konser ini juga membawa makna personal. “Keinginan saya untuk dapat bereuni dengan Garuda Indonesia akhirnya terwujud melalui acara ini,” ujarnya, tanpa menjelaskan lebih jauh, seolah memberi ruang tafsir bagi pembaca.
Di akhir perbincangan, Natalia memilih menutup dengan rasa syukur. Ia menyebut kerja kolektif sebagai sumber kedamaian dalam perjalanan ICC 100 CTFP. “Saya merasakan ketenangan bekerja bersama tim yang sehati,” katanya, menyebut nama-nama yang selama ini berada di balik layar: Dwiki Dharmawan, Jose R. Kurniawan, Ariawan Hadiwidjaja, Julius Wijaya (Nagaswara), Saurma MGP Siahaan, dan Paula Meliana.
Di tengah dunia yang kerap mengukur segalanya dengan angka, ICC 100 CTFP memilih ukuran lain: hati. Dari Indonesia, pesan itu kini bergema ke panggung global.







