Internasional

UEA Ajak Dunia Kedepankan Diplomasi Ketimbang Eskalasi Konflik

×

UEA Ajak Dunia Kedepankan Diplomasi Ketimbang Eskalasi Konflik

Sebarkan artikel ini

Duta Besar UEA untuk Indonesia, Republik Demokratik Timor Leste, dan ASEAN, Abdulla Salem AlDhaheri, menekankan bahwa konflik yang terjadi bukanlah konflik agama, melainkan persoalan keamanan, kedaulatan, dan pelanggaran hukum internasional.

Duta Besar UEA untuk Indonesia, Republik Demokratik Timor Leste, dan ASEAN, Abdulla Salem AlDhaheri dalam konferensi pers, Rabu (8/4).

SinarHarapan.ID — Uni Emirat Arab (UEA) menegaskan sikapnya terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, dalam sebuah forum press gathering bersama media nasional di Jakarta. Acara yang berlangsung di kediaman Duta Besar UEA ini menjadi momentum penting untuk menyampaikan posisi resmi UEA sekaligus membangun pemahaman publik berbasis fakta.

Duta Besar UEA untuk Indonesia, Republik Demokratik Timor Leste, dan ASEAN, Abdulla Salem AlDhaheri, menekankan bahwa konflik yang terjadi bukanlah konflik agama, melainkan persoalan keamanan, kedaulatan, dan pelanggaran hukum internasional.

“Ini bukan konflik agama. Upaya untuk membingkai konflik ini sebagai perang agama adalah menyesatkan dan tidak mencerminkan realitas yang terjadi. Ini adalah persoalan keamanan, kedaulatan, dan hukum internasional,” kata Dubes UEA di kediamannya, Rabu (8/4).

Serangan Meluas dan Dampaknya

Dubes UEA mengungkapkan bahwa sejak awal eskalasi, sistem pertahanan udara mereka telah berhasil mencegat ratusan ancaman. Antara lain, 520 rudal balistik, 26 rudal jelajah, 2.221 drone

Namun demikian, puing dari serangan yang berhasil dicegat tetap menimbulkan dampak serius di wilayah sipil. Tercatat 13 warga sipil meninggal dunia dan 217 orang mengalami luka-luka, disertai kerusakan pada infrastruktur vital seperti bandara, pelabuhan, fasilitas energi, dan kawasan permukiman.

Menurut Dubes UEA, fakta ini menunjukkan perubahan pola serangan.

“Apa yang kita saksikan adalah pergeseran berbahaya menuju penargetan infrastruktur sipil dengan tujuan melemahkan stabilitas ekonomi, bukan untuk mencapai tujuan militer yang sah,” kata Dubes AlDhaheri.

Negara GCC dan Yordania Jadi Sasaran Utama

Dalam pernyataan yang disampaikan oleh Duta Besar Bahrain untuk Indonesia, Ahmed Abdulla Alhajeri, mengatakan serangan Iran tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga berdampak luas pada negara-negara GCC dan Yordania.

“Agresi Iran terhadap negara-negara GCC dan Kerajaan Hashemite Yordania tidak hanya menargetkan lokasi operasi militer yang tidak aktif, tetapi juga infrastruktur sipil vital, termasuk rumah, hotel, pusat perbelanjaan, pelabuhan, dan fasilitas energi.”

Ia juga menyoroti besarnya proporsi serangan yang diarahkan ke kawasan tersebut.

“Lebih dari 80% serangan militer Iran selama krisis ini menargetkan negara-negara GCC dan Yordania, dan hanya 20% yang menargetkan sasaran Amerika dan Israel.”

Selain itu, ia menegaskan posisi negaranya terkait jalur damai.

“Negara-negara GCC dan Yordania tidak melancarkan satu pun serangan terhadap Iran, meskipun ribuan rudal dan drone Iran menargetkan negara-negara kami.”

Ancaman Global dari Selat Hormuz

UEA juga menyoroti dampak global dari ketegangan ini, khususnya terkait potensi gangguan di Selat Hormuz.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 20% perdagangan LNG global melewati jalur strategis tersebut. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu kenaikan harga energi, peningkatan biaya logistik, serta tekanan pada rantai pasok global.

Dalam dokumen pernyataan, disebutkan bahwa tindakan Iran di kawasan ini merupakan ancaman serius.

“Praktik permusuhan Iran dalam menutup navigasi di Selat Hormuz merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan ancaman serius terhadap pasokan energi dan perdagangan global.”

Indonesia, sebagai negara importir energi, disebut akan turut terdampak melalui kenaikan harga bahan bakar dan barang kebutuhan.

Diplomasi dan Seruan Netralitas

Meski menghadapi serangan, UEA bersama negara-negara GCC dan Yordania menegaskan tidak akan membalas dengan eskalasi militer yang serupa. Mereka memilih pendekatan diplomasi dan de-eskalasi.

Dubes UEA menegaskan pentingnya kepemimpinan yang bertanggung jawab dalam situasi krisis.

“Kami meyakini bahwa kepemimpinan tidak diukur dari eskalasi, melainkan dari kemampuan untuk mencegah meluasnya konflik.”

Sebanyak 136 negara dan organisasi internasional telah menyatakan kecaman terhadap agresi tersebut, yang kemudian diperkuat melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817 (2026).

UEA juga mengajak negara-negara, termasuk Indonesia, untuk melihat situasi secara objektif.

“Saya mengajak seluruh negara di dunia Islam, termasuk Indonesia, untuk menilai situasi secara seimbang, tanpa dipengaruhi narasi emosional yang bertentangan dengan fakta.”

Komitmen pada Stabilitas

Dalam forum tersebut, UEA menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas kawasan dan global. Prinsip-prinsip yang dipegang teguh antara lain, memilih stabilitas ketimbang eskalasi, tanggung jawab dan bukan reaksi dan memilih kerja sama dari pada konflik.

Duta Besar Bahrain juga menekankan pendekatan serupa dari negara-negara GCC.

“Keamanan regional tidak dibangun di atas perang, tetapi di atas kebijaksanaan, dialog, kerja sama, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.”

Kolaborasi dengan Indonesia

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua Umum PBNU Yahya Staquf, Ketua Umum PGI Jacky Manuputty, serta para perwakilan diplomatik dari Bahrain, Yordania, dan Kuwait.

Melalui forum ini, UEA menegaskan pentingnya kemitraan strategis dengan media Indonesia dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepada publik.

“Kami memandang media bukan sekadar sebagai pengamat, tetapi sebagai mitra strategis dalam menyampaikan narasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.”

UEA bersama negara-negara GCC dan Yordania menegaskan bahwa konflik ini bukan hanya persoalan kawasan, tetapi memiliki implikasi global. Di tengah ketegangan, mereka memilih jalur diplomasi sebagai upaya utama menjaga perdamaian dan stabilitas dunia