SinarHarapan.id-Tingginya mobilitas saat liburan akhir tahun meningkatkan kekhawatiran penularan campak. Orang tua harus waspada karena penyakit ini tidak boleh dianggap sepele. Komplikasinya sangat berisiko bagi anak dengan sistem imun yang belum sempurna.
Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 3.400 kasus campak hingga Agustus 2025. Pemerintah menetapkan 46 Kejadian Luar Biasa di sejumlah wilayah. Tren peningkatan ini juga terjadi di beberapa negara lain seperti Amerika Serikat.
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular melalui percikan liur. Daya tularnya tinggi, mirip Covid-19. Virus dapat bertahan di udara hingga dua jam dan menginfeksi siapa saja yang belum kebal.
Pada anak, campak berpotensi menyebabkan komplikasi serius yang mengancam nyawa. Virus ini dapat menyerang berbagai organ penting. Segera konsultasi ke dokter spesialis anak jika muncul gejala awal seperti demam, batuk, dan pilek.
Gejala khas campak berupa ruam kemerahan muncul beberapa hari kemudian. Ruam biasanya mulai dari wajah dan leher sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Ukurannya bisa membesar dan menyatu membentuk bercak yang luas.
Belum ada obat antivirus khusus untuk mengatasi campak. Penanganan utama bersifat suportif untuk meredakan gejala. Dokter akan menganjurkan istirahat cukup, menjaga asupan cairan, dan pemberian vitamin A dosis tinggi.
Pencegahan utama bergantung pada kelengkapan vaksinasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan vaksin MR pertama pada usia 9 bulan. Dosis kedua dan ketiga menyusul di usia 15-18 bulan dan 5-7 tahun.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang menolak vaksin dengan berbagai alasan. Penolakan ini menurunkan cakupan imunisasi dan memicu peningkatan kasus. Satu anak yang tidak divaksin dapat menulari banyak orang di sekitarnya.
Bayi di bawah 9 bulan menjadi kelompok paling rentan karena belum bisa divaksin. Satu-satunya perlindungan mereka adalah kekebalan kelompok (herd immunity). Lingkungan dengan cakupan vaksinasi tinggi akan membentuk perisai alami.
Virus campak memiliki kemampuan melemahkan sistem imun secara signifikan. Kondisi ini membuka pintu bagi komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis. Diare parah dan sepsis juga kerap memperburuk keadaan si kecil.


