SinarHarapan.id – Di balik produk minuman herbal dan kosmetik tradisional Sekar Jawi, ada perjalanan panjang membangun usaha yang tidak hanya bertumpu pada produk, tetapi juga pada ketertiban dalam bekerja.
Bagi Septi Setiani, pemilik Sekar Jawi, mengembangkan usaha berarti memastikan setiap bagian bisnis memiliki fondasi yang kuat.
Perjalanan itu kini membawanya pada sebuah pencapaian. Setelah dua tahun mengikuti pembinaan Yayasan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), Sekar Jawi berhasil meraih predikat UMKM Mandiri pada 2026.

Pengakuan tersebut diperoleh setelah Septi melewati serangkaian asesmen yang mengukur perkembangan dan kemandirian usahanya.
Namun, bagi Septi, predikat itu bukanlah garis akhir. Justru, pencapaian tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai pengetahuan dan standar yang telah dipelajari harus terus diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Sebab, mempertahankan usaha membutuhkan konsistensi, bukan sekadar keberhasilan melewati proses penilaian.
Salah satu perubahan penting yang dijalani Sekar Jawi adalah membenahi tata kelola internal melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan budaya kerja 5R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.

Pendampingan YDBA membantu Septi melihat bahwa pengembangan usaha tidak selalu harus dimulai dari penambahan modal atau perluasan pasar.
Ada hal mendasar yang perlu diperhatikan, yakni bagaimana pekerjaan di dalam usaha dijalankan.
Penerapan 5R kemudian diterjemahkan ke dalam aktivitas sederhana di ruang produksi. Peralatan seperti gunting, bahan baku, dan perlengkapan kerja perlu ditempatkan secara teratur.

Jarak ant area kerja juga menjadi perhatian agar aktivitas produksi dapat berlangsung lebih efektif. Penataan tersebut mungkin terlihat sepele, tetapi dapat mengurangi waktu yang terbuang ketika pekerja harus mencari alat atau mengambil bahan yang tidak berada pada tempatnya.
Bagi Septi, waktu yang terbuang dalam proses produksi juga merupakan biaya yang sering kali tidak disadari pelaku UMKM.
Karena itu, efisiensi tidak selalu berarti mengeluarkan uang untuk membeli mesin baru atau memperbesar tempat usaha. Membiasakan pekerja menjaga kerapian dan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan pun menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas.

Ia mengibaratkan fondasi usaha seperti akar pohon. Akar yang kuat memungkinkan pohon tumbuh dan berkembang.
Begitu pula dengan bisnis. Pengembangan kapasitas, penguatan merek, pemasaran, hingga perluasan usaha akan lebih sulit dilakukan apabila manajemen internal belum tertata.
Pendampingan YDBA selama dua tahun menjadi bagian dari proses Sekar Jawi membangun fondasi tersebut. Program yang dijalankan Yayasan Astra melalui YDBA mencakup pelatihan, pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan bagi UMKM.

Dalam perjalanan Sekar Jawi, pembenahan SOP dan penerapan 5R menjadi salah satu langkah untuk memperkuat tata kelola usaha.
Predikat UMKM Mandiri yang diraih pada 2026 pun menjadi penanda dari proses tersebut. Bukan hanya tentang pengakuan atas capaian usaha, melainkan juga tentang kemampuan untuk menjaga standar yang telah dibangun.
Bagi Septi, kemandirian bukan berarti berhenti belajar, tetapi terus memperbaiki cara kerja agar usaha dapat bertahan dan berkembang.

Di Kalirandu, Bantul, Sekar Jawi terus menjalani perjalanan itu. Dari penataan ruang produksi hingga pembiasaan bekerja sesuai prosedur, setiap perubahan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan usaha.
Sebab, pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh produk dipasarkan, tetapi juga oleh seberapa kokoh fondasi yang menopangnya. Foto dan Teks: Ruht Semiono












