Gaya Hidup

30 Persen Bayi Alami Gumoh, RS Premier Bintaro Tegaskan Perbedaan Antara Regurgitasi dan GERD

×

30 Persen Bayi Alami Gumoh, RS Premier Bintaro Tegaskan Perbedaan Antara Regurgitasi dan GERD

Sebarkan artikel ini
Edukasi untuk Orang Tua Muda: Mengenal Regurgitasi Fisiologis dan Bahaya Diagnosis GERD yang Keliru.(Doc)
Edukasi untuk Orang Tua Muda: Mengenal Regurgitasi Fisiologis dan Bahaya Diagnosis GERD yang Keliru.(Doc)

SinarHarapan.id-Regurgitasi atau gumoh pada bayi sering kali memicu kecemasan berlebihan pada orang tua. Padahal, kondisi tersebut umumnya normal dan bukan indikasi penyakit. Hal ini ditegaskan dalam Media Gathering & Health Talk yang digelar RS Premier Bintaro, Rabu (4/2/2026), dengan mengangkat perbedaan mendasar antara regurgitasi fisiologis dan penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Menurut data klinis yang dipaparkan, sekitar 30 persen bayi mengalami gumoh, dengan puncaknya pada usia 3-4 bulan. Sebagian besar merupakan happy spitter—bayi yang tetap aktif, menyusu baik, dan tumbuh normal meski sering gumoh. Kondisi ini biasanya membaik dengan sendirinya setelah usia 12 bulan.

“Tantangan terbesar adalah membedakan mana yang fisiologis dan mana yang patologis. Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya. Sementara GERD jauh lebih jarang, hanya sekitar 3-8 persen,” jelas Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi yang hadir sebagai narasumber.

Ahli Ingatkan Orang Tua: Gumoh pada Bayi Umumnya Normal, Jangan Langsung Dicurigai GERD.(Doc : RS Premier Bintaro)
Ahli Ingatkan Orang Tua: Gumoh pada Bayi Umumnya Normal, Jangan Langsung Dicurigai GERD.(Doc : RS Premier Bintaro)

GERD, lanjutnya, adalah kondisi serius di mana asam lambung naik berlebihan hingga menyebabkan peradangan kerongkongan. Kondisi ini perlu dicurigai jika muncul tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, gumoh disertai darah, bayi menolak makan, atau adanya gangguan neurologis. “Tanpa tanda-tanda itu, pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi biasanya tidak diperlukan,” tegas Prof. Badriul.

Baca juga : RS Premier Bintaro Pionir Operasi Ligamen Buatan Pertama di Indonesia

Ia juga mengingatkan bahwa gejala seperti rewel berlebihan atau tangisan berkepanjangan tidak otomatis menandakan GERD, tetapi bisa juga disebabkan oleh alergi protein susu sapi atau masalah lain. Diagnosis yang tepat penting agar bayi tidak mendapatkan obat yang tidak diperlukan.

Penanganan awal gumoh pada bayi bersifat non-obat, berupa edukasi orang tua, pemberian ASI lanjut, menghindari overfeeding, dan penyesuaian posisi setelah menyusu. Obat hanya dipertimbangkan untuk kasus GERD yang telah terkonfirmasi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen RS Premier Bintaro dalam mendukung literasi kesehatan anak yang berbasis ilmiah. “Peran media sangat penting untuk menyebarkan informasi yang akurat dan mencegah kesalahpahaman yang dapat meningkatkan kecemasan orang tua,” ujar dr. Relia Sari, MARS, CEO RS Premier Bintaro.

Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan orang tua dapat lebih tenang menghadapi fase gumoh pada bayi dan lebih waspada terhadap tanda-tanda yang benar-benar memerlukan penanganan medis.