SinarHarapan.id – Organisasi media internasional menyerukan liputan berkelanjutan dan keterlibatan aktif guna menghentikan genosida yang berlangsung di depan mata dunia.
Forum Internasional Palestina untuk Media dan Komunikasi (Tawasol) menegaskan: klaim Israel soal “hak membela diri” adalah dusta. Pendudukan tidak memiliki hak untuk membela diri dari rakyat yang ditindasnya.
Genosida di Gaza adalah ujian bagi dunia. Diam berarti berkomplot. Bungkam berarti memberi izin pada kejahatan untuk terus berlangsung.
Dunia harus bergerak: menekan pemerintah, membuka jalur bantuan, menghentikan agresi, dan memulihkan martabat kemanusiaan. Suara Gaza harus menjadi suara kita semua:
Invasi Darat dan Kepungan Total
Pasukan Israel mengerahkan Divisi Lapis Baja ke-98 dan Divisi ke-162 untuk memimpin manuver darat, dengan dukungan tembakan udara intensif. Divisi ke-36 diperkirakan segera bergabung, mengepung kota dari segala arah. Sumber lapangan melaporkan serangan udara gencar di sisi utara dan tenggara Kota Gaza, memaksa warga mengungsi ke arah barat.
Wilayah padat penduduk seperti Al-Zaytoun, Al-Sabra, Sheikh Radwan, Al-Daraj, Al-Tuffah, dan Al-Shuja’iyya menjadi sasaran bombardir tanpa henti. Drone bersenjata dilaporkan menembaki rumah dan tenda warga sipil, mempercepat arus pengungsian.
Krisis Kemanusiaan yang Kian Parah
Lebih dari 800.000 warga sipil terjebak tanpa jalur aman untuk keluar. Biaya berpindah ke selatan Gaza mencapai lebih dari 5.000 dolar AS, mustahil ditanggung oleh mayoritas penduduk yang kehilangan mata pencaharian.
Sebagian besar pengungsi menumpuk di Kamp Shati, Jalan Al-Rashid, dan kawasan Al-Rimal dengan kondisi memprihatinkan: tanpa sanitasi memadai dan minim pasokan pangan. Situasi ini digambarkan otoritas Gaza sebagai “bencana total”.
Runtuhnya Sistem Kesehatan
Rumah sakit besar di bagian timur kota — Kamal Adwan, Al-Awda, dan Al-Ahli Arab — dipaksa tutup akibat serangan. Al-Shifa, rumah sakit terbesar di Gaza, hanya beroperasi kurang dari 20 persen kapasitas, sebatas layanan pertolongan pertama. Sementara itu, Al-Quds Hospital berubah menjadi tempat perlindungan bagi puluhan ribu warga yang melarikan diri.
Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan “kolaps total sistem kesehatan,” dengan persediaan obat-obatan mencapai titik krisis. Pasien dan korban luka menghadapi ancaman kelaparan, bom, dan ketiadaan perawatan.
Blokade Total dan Kelaparan Massal
Sejak 2 Maret, Israel menutup semua perlintasan Gaza. Bantuan kemanusiaan tertahan di perbatasan, memperparah kelaparan yang telah merenggut ratusan jiwa. Hingga kini tercatat lebih dari 65.000 korban meninggal, 165.000 luka-luka, dan 9.000 orang hilang. Lebih dari dua juta warga hidup dalam pengungsian internal.
Gaza sebagai Simbol Perlawanan Global
Seruan media menekankan bahwa Gaza bukan sekadar wilayah konflik, melainkan warisan peradaban dunia yang kini berada di ambang kehancuran. Kota ini dianggap simbol keteguhan hidup, inspirasi perlawanan anti-kolonial, dan lambang perjuangan keadilan global.
“Gaza adalah Hanoi Palestina, Stalingrad dunia Arab,” demikian pernyataan Forum Internasional Palestina untuk Media dan Komunikasi (Tawasol). Mereka menegaskan, genosida yang terjadi bukan hanya tragedi lokal, tetapi ancaman serius bagi sistem hukum internasional dan keamanan global.
Seruan untuk Dunia
Forum menyerukan komunitas internasional, khususnya media, untuk terus memberitakan kondisi lapangan secara jujur. Mereka menegaskan, klaim Israel tentang “hak membela diri” tidak sah menurut hukum internasional karena berasal dari kekuatan pendudukan.
“Dunia tidak boleh berdiam diri. Gaza adalah garis depan kemanusiaan. Dukungan global adalah kewajiban moral sekaligus kebutuhan demi menjaga ketertiban internasional,” tegas pernyataan tersebut.












