SinarHarapan.id-Di tengah hiruk-pikuk kepanikan artificial intelligence (AI) yang disebut akan mengubah lanskap pekerjaan dalam lima tahun ke depan, sekelompok anak muda justru diajak untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri. Bukan untuk lari dari kenyataan, melainkan untuk menemukan “jangkar” di tengah badai disrupsi.
Mengusung tema “AfterAll: What Remains Beneath”, konferensi ide yang memasuki tahun keenam ini mencoba menjawab pertanyaan besar yang menghantui Generasi Z: ketika teknologi, budaya, dan karier berubah secepat kilat, apa yang sebenarnya tersisa dan tetap berarti di dalam diri manusia?
Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Mengutip laporan Ipsos AI Monitor 2024, 44 persen responden di Indonesia yakin AI akan mengubah cara manusia bekerja dalam waktu dekat. Angka ini menjadi latar belakang lahirnya tiga subtema diskusi: “Beneath Idea”, “Beneath Action”, dan “Beneath Expression”. Para pembicara yang dihadirkan pun bukan sekadar motivator, melainpara praktisi yang pernah tersungkur dan bangkit dari keterpurukan.
Salah satunya adalah Edward Tirtanata, CEO dan Founder Kopi Kenangan. Di hadapan ratusan pasang mata anak muda, pria yang membangun kerajaan kopi dalam sembilan tahun ini blak-blakan membahas topik “Behind the Pitch: The Power of Resilience in Innovation”. Ia tak hanya bercerita tentang kesuksesan, tetapi juga tentang titik terendah perusahaannya.
“Kami punya misi besar, tapi rintangannya tidak kecil. Pandemi datang, inflasi menekan, dan kami sempat ekspansi terlalu agresif sebelum pondasi kuat,” kenang Edward dalam sesi talkshow, Rabu malam.
Dari pengalaman pahit itulah, Edward dan tim memilih untuk menarik rem. Mereka menyusun ulang strategi brand, memfokuskan kembali identitas, dan mengubah cara pandang fundamental. “Kami sadar, kami bukan sekadar menjual kopi sebagai komoditas, tapi membangun sebuah brand. Dan sebagai founder, tekadnya sederhana: menjadi versi yang lebih baik hari ini daripada hari kemarin,” tambahnya, mendapat applaus dari peserta yang mayoritas adalah mahasiswa.
Baca juga : TEDxSampoerna University Ajak Gen Z Mengulik Nilai Diri yang Tersisa
Senada dengan Edward, sutradara film Naya Anindita, yang dikenal lewat karya Imperfect the Series dan Komang, membawa topik “Why Real Beats Perfect”. Naya mengaku dirinya adalah seorang perfectionist yang hampir gila mengejar standar tak berujung. Namun, kegagalan demi kegagalan justru mengajarkannya pelajaran paling mahal.
“Saya dulu berpikir kesempurnaan adalah segalanya, tapi ternyata tidak pernah ada ujungnya. Kegagalan itu manusiawi. Daripada mati-matian menghindarinya, lebih baik belajar menerimanya,” ujar Naya. “Dari sanalah kita tumbuh dan menemukan versi diri yang lebih autentik. Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah terus melangkah maju.”
Dua kisah ini, tentang kegagalan yang dialami seorang pebisnis dan seorang seniman, seolah menjadi jawaban atas keresahan tema besar “AfterAll”. Di era di mana AI bisa menulis esai dan algoritma menentukan tren, kreativitas, resiliensi, serta kejujuran dalam berkarya justru menjadi komoditas yang tak tergantikan.
Erik Krauss, Vice Rector of Student Success Sampoerna University, menegaskan bahwa acara ini adalah perwujudan nyata dari komitmen kampus untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental. “Kami bangga melihat bagaimana acara ini menjadi ruang yang bermakna. Di tengah disrupsi, mahasiswa butuh lebih dari sekadar nilai; mereka butuh arah dan jati diri. Harapannya, TEDxSampoerna University bisa terus menjadi katalis ide dan semangat berkarya bagi generasi muda Indonesia,” tutup Erik.
Dengan menghadirkan delapan pembicara terkurasi, TEDxSampoerna University 2026 berhasil meramu sebuah diskursus yang relevan: bahwa di balik hiruk-pikuk dunia yang terus berputar (AfterAll), hal-hal mendasar seperti nilai diri, kreativitas, dan kemanusiaan (What Remains Beneath) adalah satu-satunya fondasi yang tak akan tergerus zaman.
