SinarHarapan.id-Selama ini, orang yang gagal menurunkan berat badan kerap dicap malas atau tidak disiplin. Padahal, ada faktor biologis yang sering luput dari perhatian: food noise.
Bukan sekadar rasa lapar, food noise adalah pikiran obsesif dan intrusif tentang makanan yang terus menerus menghantui, bahkan saat perut kenyang.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam diskusi media “Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga” di Jakarta. Para ahli menegaskan, food noise bukan kegagalan kemauan, melainkan cerminan bagaimana otak merespons makanan, stres, dan lingkungan.
Data World Obesity Atlas 2022 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ketiga obesitas tertinggi se-Asia Tenggara. Di balik angka itu, food noise menjadi penyebab utama seseorang rentan makan berlebih, lalu diikuti rasa bersalah dan cemas.
“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap sulit karena tantangannya bukan cuma disiplin, melainkan biologi tubuh yang kompleks. Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi,” ujar dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, Subsp.KM, Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal PP PDGKI.(8/5)

Paradigma penanganan obesitas kini bergeser: dari sekadar “hitung kalori” menjadi “perbaiki biologi”. Intervensi gaya hidup dan terapi medis saling melengkapi. Inovasi seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) bekerja pada pusat pengaturan nafsu makan di otak, menekan rasa lapar, mengurangi keinginan makan, dan meningkatkan rasa kenyang. Hasilnya, food noise mereda.
Pasien perlu mendorong psycho bylogical agar mampu menekan kalorinya, imbuh dr. Iflan.
Secara klinis, terapi GLP-1 RA Novo Nordisk terbukti membantu penurunan berat badan signifikan: satu dari tiga pasien bisa kehilangan lebih dari 20 persen berat badan. Pendekatan ini mengedepankan penurunan massa lemak tanpa mengorbankan massa otot serta berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen.
Penurunan berat badan akan berlangsung dalam tempo panjang dan bertahap, adakalanya akan naik dan turun dalam prosesnya, ujar dr. Iflan lagi.
Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, mengimbau penderita obesitas agar beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional. “Obesitas adalah penyakit kompleks. Kunjungi NovoCare.id untuk informasi akurat dan pendampingan tepat,” tuturnya.


