Gaya Hidup

Obesitas Bukan Sekadar Hitung Kalori, Dokter: Perbaiki Biologi Tubuh dengan GLP-1 RA

×

Obesitas Bukan Sekadar Hitung Kalori, Dokter: Perbaiki Biologi Tubuh dengan GLP-1 RA

Sebarkan artikel ini
dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK (K), Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) menyampaikan paparan dalam Media Roundtable Discussion bertajuk “Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas” di Jakarta pada Jumat, 8 Mei 2026. Dalam kesempatan ini, dr. Iflan menjelaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemauan, pola makan, atau aktivitas fisik. Ia juga menyoroti fenomena food noise, yaitu dorongan pikiran tentang makanan yang terus-menerus bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan, yang dapat menjadi hambatan biologis dalam pengelolaan berat badan serta memengaruhi kemampuan individu menjaga pola makan secara konsisten.(Doc)
dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK (K), Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) menyampaikan paparan dalam Media Roundtable Discussion bertajuk “Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas” di Jakarta pada Jumat, 8 Mei 2026. Dalam kesempatan ini, dr. Iflan menjelaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh kemauan, pola makan, atau aktivitas fisik. Ia juga menyoroti fenomena food noise, yaitu dorongan pikiran tentang makanan yang terus-menerus bahkan saat tubuh tidak membutuhkan asupan, yang dapat menjadi hambatan biologis dalam pengelolaan berat badan serta memengaruhi kemampuan individu menjaga pola makan secara konsisten.(Doc)

SinarHarapan.id-Selama ini, orang yang gagal menurunkan berat badan kerap dicap malas atau tidak disiplin. Padahal, ada faktor biologis yang sering luput dari perhatian: food noise.

Bukan sekadar rasa lapar, food noise adalah pikiran obsesif dan intrusif tentang makanan yang terus menerus menghantui, bahkan saat perut kenyang.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam diskusi media “Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga” di Jakarta. Para ahli menegaskan, food noise bukan kegagalan kemauan, melainkan cerminan bagaimana otak merespons makanan, stres, dan lingkungan.

Data World Obesity Atlas 2022 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ketiga obesitas tertinggi se-Asia Tenggara. Di balik angka itu, food noise menjadi penyebab utama seseorang rentan makan berlebih, lalu diikuti rasa bersalah dan cemas.

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap sulit karena tantangannya bukan cuma disiplin, melainkan biologi tubuh yang kompleks. Memahami food noise penting agar kita tidak lagi menyederhanakan obesitas sebagai kegagalan pribadi,” ujar dr. Iflan Nauval, M.ScIH, Sp.GK, Subsp.KM, Sp.KKLP, AIFO-K, Wakil Sekretaris Jenderal PP PDGKI.(8/5)

Bukan Malas Bukan Lapar, “Food Noise” Jadi Musuh Tersembunyi Penderitanya Obesitas.(Doc)
Bukan Malas Bukan Lapar, “Food Noise” Jadi Musuh Tersembunyi Penderitanya Obesitas.(Doc)

Paradigma penanganan obesitas kini bergeser: dari sekadar “hitung kalori” menjadi “perbaiki biologi”. Intervensi gaya hidup dan terapi medis saling melengkapi. Inovasi seperti GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) bekerja pada pusat pengaturan nafsu makan di otak, menekan rasa lapar, mengurangi keinginan makan, dan meningkatkan rasa kenyang. Hasilnya, food noise mereda.

Pasien perlu mendorong psycho bylogical agar mampu menekan kalorinya, imbuh dr. Iflan.

Secara klinis, terapi GLP-1 RA Novo Nordisk terbukti membantu penurunan berat badan signifikan: satu dari tiga pasien bisa kehilangan lebih dari 20 persen berat badan. Pendekatan ini mengedepankan penurunan massa lemak tanpa mengorbankan massa otot serta berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20 persen.

Penurunan berat badan akan berlangsung dalam tempo panjang dan bertahap, adakalanya akan naik dan turun dalam prosesnya, ujar dr. Iflan lagi.

Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, mengimbau penderita obesitas agar beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional. “Obesitas adalah penyakit kompleks. Kunjungi NovoCare.id untuk informasi akurat dan pendampingan tepat,” tuturnya.